Itulah kalimat yang diungkapkan Yaumi Fitri pada Pemimpin Redaksi (Pemred) tvOne, Karni Ilyas. Sebagai bawahan, news anchor ini tentu wajib bertanya pada sang atasan. Ia tak ingin keinginannya untuk menjalankan perintah Allah swt menjadi bumerang bagi karirnya. Meski ia yakin 100%, Allah pasti akan memberi jalan terbaik bagi umat-Nya.
Masih jelas dalam ingatannya, saat mengungkapkan kalimat itu, Yaumi tak sendirian. Kebetulan ia sedang rapat dengan Pemred bersama teman-teman news anchor lain. Awalnya, ia ragu. Namun, dengan membaca basmallah dalam hati, news anchor cantik ini pun akhirnya memberanikan diri bertanya. Dan ternyata di luar dugaan. Tanpa mempertanyakan atau mempersulit sang anak buah, Karni Ilyas merespon positif.

“Boleh,” jawab Karni. Kontan, jawaban Karni membuat Yaumi takjub. Ia tak menyangka, Karni, yang kerap digambarkan sebagai sosok yang “angker”, ternyata mengizinkan salah seorang news anchornya berhijab. “Silahkan. Tidak ada larangan, asalkan tetap good look dan tidak norak”.
Betapa bahagia perasaan Yaumi kala itu. Betapa tidak, atasan mengizinkan menggunakan hijab, yang jelas-jelas wajib dikenakan oleh perempuan muslim. Sebagaimana kaum muslim tahu, bahwa Allah swt memerintahkan kepada para perempuan untuk mengenakan hijab, yakni terdapat di surat an-Nur ayat 31.
“Wajib atas mereka (para perempuan yang beriman) menutup kain kerudung ke dadanya..”
Dalam hadist HR Abu Dawud, Rasulullah SAW juga mengatakan, “Apabila telah baliq (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya, kecuali ini dan itu (seraya menujuk muka dan telapak tangannya).
Meski diwajibkan, namun tak semua mengerti atas kewajiban tersebut. Bahkan belum lama ini terjadi pro-kontra penggunaan hijab di kalangan perempuan TNI. Sebagai seorang profesional di dunia penyiaran Yaumi tahu, mereka (yang tak menyetujui penggunaan hijab) takut hijab akan membatasi aktivitas profesional atau kecantikan di layar televisi. Namun, Yaumi membuktikan apa yang mereka takuti salah besar.
“Justru saya akan bertanya balik, menganggu hal apanya?” tantang perempuan kelahiran Sukabumi, 1 Juli 1984 ini.
Ketika berhijab, lanjut Yaumi, kita justru dituntut untuk lebih berpakaian rapi dan lebih sopan. Begitu pula dengan prilaku. Lebih dari itu, jurnalis berhijab yang bekerja di lapangan justru malah diuntungkan. Sebab, ia akan terhindar dari rambut yang berantakan.

Perjalanan profesi Yaumi di tvOne berawal pada 2008. Saat itu ia baru lulus kuliah alias freshgraduated dari Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari ABA, Bandung pada 2007. Dunia broadcast sebenarnya bukan baru di tvOne saja dimasuki. Sebelum di tvOne, saat masih kuliah, ia sudah menjadi seorang broadcaster di radio. Di Buzz Radio yang saat ini sudah bangkrut ini, ia menyambi sebagai seorang penyiar radio.
Penyandang gelar Sarjana bahasa Jepang ini kemudian mencoba melamar ke semua perusahaan, mulai dari bank, perusahaan Jepang, sampai ke televisi. Dari beberapa lamaran tersebut, ia justru dipanggil oleh HRD tvOne yang saat itu masih sedang transisi berganti nama dari Lativi. Dasar rezeki, ia langsung diterima kerja di tvOne tepat pada Februari 2008.
“Awalnya saya jadi Reporter dulu,” ujar Yaumi menikmati sekali sebagai seorang jurnalis televisi. “Biasanya saya ngepost di Istana untuk ngeliput kegiatan Presiden.”
Lima tahun bekerja di tvOne, ia mulai berhijab. Sebelumnya, selama 6 bulan ia sudah mulai belajar menutup rambut dengan kerudung. Namun, kerudung yang dikenakan belum sepenuhnya menutup rambut alias “hijab malu-malu”. Betapa tidak, Yaumi masih memperlihatkan poni rambut dan juga lehernya.
“Belajar” memakai hijab gara-gara tvOne memiliki program khusus saat haji, yakni Kabar Haji pada 2011. Entah memang sudah tanda-tanda yang diberikan Allah swt, sejak ada program khusus tersebut, Yaumi selalu ditunjuk oleh atasan sebagai presenter Kabar Haji.
“Sebetulnya keinginan untuk berhijab memang dari pengalaman membacakan berita dan melihat jalannya ibadah haji dari tahun ke tahun,” aku Yaumi.
Di acara ini, ia melihat jutaan ummat Islam melakukan wukuf, lalu melihat ka’bah. Apa yang ia lihat membuatnya sedih, kadang malah suka menangis. “Nggak tahu sebabnya. Tapi salah satunya, karena takut mati. Saya nggak tahu apakah itu termasuk bagian dari hidayah dari Allah swt”. Hingga akhirnya pada awal 2013, Yaumi pun memutuskan berhijab secara syar’i atau sesuai syariat Islam.
Tentu banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman, terutama pimpinan mengenai diri Yaumi mengenai penampilannya yang sudah berhijab. Bahkan, penampilannya itu sampai dibahas dalam rapat pimpinan, khususnya di redaksi. Oleh karena itu, ia akhirnya bertanya langsung kepada atasan, yakni Pemred.
“Alhamdulillah atasan saya mengizinkan,” kata perempuan yang Juli ini genap berusia 31 tahun.
Tentu saja perasaannya lega. Sebab, kewajibannya sebagai perempuan muslim untuk menutup aurat ternyata didukung oleh pekerjaan. Boleh jadi, Yaumi menjadi news anchor buletin di Indonesia yang diizinkan tampil berhijab.

“Tidak ada teman yang komplain. Bahkan setelah berhijab, teman-teman justru lebih respek,” ujar Yaumi, mengomentari news anchor perempuan sesama tvOne lain, yakni Indy Rahmawati, Elvira Khairunnisa, Balques Manisang, dan lain-lain.
“Alhamdulillah komentar penonton juga baik dan positif”.
Selain teman-temannya, atasannya pun sering memberikan komentar. Tentu, komentar setelah bersiaran. “Jilbabmu bagus,” ujar Yaumi menirukan ucapan atasannya. Ada pula yang memberikan kritik, “Kok aneh modelnya (jilbab-pen). (Kamu) jadi kelihatan tua”.
Setelah berhijab, perempuan yang punya impian menjadi chef ini, kemudian bersiaran di beberapa program religi. Selain Kabar Haji dan Kabar Ramadan, Yaumi juga pernah muncul di Hijab Stories. Lalu, diprogram buletin pun ia muncul sebagai news anchor di Kabar Siang. Belakangan ia muncul di Kabar Pagi.
“(Jurnalis) berhijab nggak akan mengurangi kecantikan. Justru aura kecantikan muncul ketika perempuan menutup auratnya,” tegas Yaumi.