Sabtu, 23 Desember 2017

EDITORIAL MI GATE: METRO TV PASKA PENGHARGAAN DARI KEMENAG

"Berdasarkan pernyataan narasi siaran Metro TV yang menyebut peserta Aksi Reuni 212 adalah kaum intoleransi yang merayakan kemenangan dari praktek intoleransi membuat peserta aksi dan masyarakat lainnya tersinggung dan marah. Salah satu peserta aksi yakni Ketua Umum DPP Pengusaha Indonesia Muda Sam Aliano merasa tersinggung dan terhina dengan siaran Metro TV tersebut. Untuk itu, Sam Aliano dan masyarakat peserta aksi lainnya melaporkan siaran Metro TV..."

Info tersebut penulis dapatkan melalui WA sore ini. Akibat sebuah narasi di paket Editorial Media Indonesia, Metro TV diadukan ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Narasi dalam paket berjudul Meneladani Toleransi Sang Nabi ini ditayangkan pada Jumat, 1 Desember 2017, satu hari sebelum Reuni Alumni 212 berlangsung di Monas.

Berikut cuplikan narasi yang membuat Metro TV dilaporkan dan kini menjadi Editorial MI Gate:

"Celakanya intoleransi itu dipraktekkan untuk kekuasaan politik dengan mengatasnamakan agama. Lebih celaka lagi, mereka berencana berkumpul merayakan intoleransi itu dengan gegap gempita, huh..."

Bukan kali ini saja Metro TV tersangkut masalah. Pada awal September 2012, Metro TV sempat diprotes, lantaran dianggap melebelkan kelompok Rohis sebagai sarang teroris melalui infografis. Kala itu, pihak Metro TV sempat menyampaikan surat resmi dan tayangan ke KPI dan Dewan Pers. Dalam surat tersebut, Metro TV membantah telah menyebut Rohis sebagai sarang teroris. Ketiga narasumber yang hadir pun juga tak pernah menyebutkan, Rohis sebagai sarang teroris dalam dialog.  Namun, nasi sudah menjadi bubur, sejumlah unjuk rasa sempat berlangsung, memprotes keras atas dialog dan infografis di Metro TV.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 03 Januari 2016, Metro TV kembali tersangkut masalah. Kali ini yang membuat heboh adalah program News Story Insight (NSI). Di program ini, ormas Wahdah Islamiyah pimpinan Muhammad Zaitun Rasmin dituduh sebagai ormas teroris. Wahdah Islamiyah, duduk di posisi ke-5, di bawah ormas Kompak pimpinan Aris Muhanandar/ Abdullah Sonata; Tauhid wal Jihad (Oman Abdurrahman); Mujahidin Jakarta & Bataliyon Abu Bakar (Abu Omar); dan Laskar Jundulah (Abdul Hamid). Mengetahui hal tersebut, Ustadz Zaitun -- yang dikenal sebagai Wakil Ketua GNPF Ulama--, langsung protes. Masalah diakhiri dengan cara, Metro TV memberi hak jawab pada Ustadz Zaitun. Beliau diundang di program berita dan berdialog dengan news presenter secara live.

Boleh jadi, apa yang dialami Metro TV hari-hari, cukup ironis. Betapa tidak, ketika stasiun televisi yang bermarkas di Kedoya, Jakbar ini baru saja mendapat penghargaan dari Kementerian Agama RI dalam kategori penanyangan pendidikan Islam di layar kaca, paket Editorial MI yang narasinya cenderung tendensius, justru tayang. Makin ironis, ketika Metro TV mulai mencoba kembali "mendekatkan diri" pada penonton muslim yang sebelumnya anti --melalui tayangan Syiar Kemuliaan dan Khazanah Islam--, Editorial MI Gate pun muncul.

Bagi Anda yang belum tahu, di usia ke-17 tahun, Metro TV baru memiliki program agama Islam stripping berjudul Syiar Kemuliaan. Program baru ini on air pada 17 Juli 2017 dan ditayangkan tiap hari pukul 04:05 WIB. Yang menjadi tiga narasumber adalah Komaruddin HIdayat, Nazaruddin Umar, dan Jimly Asshiddiqie. Lalu, Metro TV juga membuat program weekly ala Damai Indonesiaku (tvOne), yakni Khazanah Islam, yang baru on air pada 27 Agustus 2017dan tayang tiap pukul 15:05. Tentu, dua program baru garapan tim produksi Metro TV ini menjadi angin segar di tengah-tengah sikap skeptis sejumlah penonton muslim ke Metro TV. Terlebih lagi, pada Minggu, 3 Desember 2017 lalu, di Khazanah Islam, penonton sempat "dikagetkan" dengan kemunculan pengisi kajian acara tersebut, yakni Ustadz Firanda Andirja. Meski "mengagetkan" bagi sebagian penonton (khususnya jamaah salafy), kehadiran Ustadz Firanda malah justru memperkaya daftar Ustadz yang muncul di Metro TV. Luar biasa bukan?

Namun sayang, kemunculan Ustadz Firanda di Khazanah Islam akhirnya harus terkalahkan dengan sejumlah protes dari para netizen terhadap penayangan Editorial Media Indonesia. Jagat medsos pun gaduh lagi. Mayoritas netizen menyayangkan penayangan Editorial MI.  

"Ini bukan hanya salah kaprah tetapi tuduhan yang serius," begitu komentar Fahira Idris, senator yang baru saja terpilih menjadi Ketua Komita III DPD RI. "Aksi 212 tahun lalu itu ikut dihadiri presiden dan wapres serta hampir semua petinggi republik ini. Apa mungkin mereka mau hadir jika Aksi 212 adalah aksi intoleran".

Sebetulnya Metro TV sudah belajar banyak dari kejadian sebelumnya. Kejadian-kejadian yang sudah dialami Metro TV sebelum Editorial MI Gate, seharusnya bisa menjadi bahan pertimbangan dewan redaksi untuk lebih berhati-hati. Penulis yakin, di usia ke-17, Metro TV mampu untuk menjaga amanah itu, apalagi baru mendapat predikat televisi yang menyebarkan pendidikan agama Islam di Indonesia.

Buat kita, apa yang dialami Metro TV sekarang ini, tentu bisa menjadi bahan pelajaran bersama, terutama diri saya pribadi. Bahwa jurnalistik perlu keakurasian maupun verifikasi. Banyak pertimbangan A-Z sebelum memberikan lebel sebuah kelompok dengan sebutan 'intoleran'. Sebab, jika kriteria 'intoleran' dilebelkan pada mereka yang hadir di Monas, bagaimana dengan kelompok yang kerap membubarkan pengajian atau para penyebar ujaran kebencian di medsos? Apakah lebel yang cocok untuk kelompok pembubar pengajian? Ah, semoga kita tidak mudah untuk melebeli sebuah kelompok sebelum melakukan cek n ricek atau verifikasi.

Salam Indonesia  

NGALAP BERKAH DARI LIVE EVENT PERNIKAHAN PUBLIC FIGURE

Pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution yang disiarkan langsung di sejumlah televisi hari ini, kembali menambah catatan dalam sejarah pertelevisian Indonesia. Sebuah pernikahan yang berlangsung di Gedung Sabhna Buana, Solo, Jawa Tengah, ditayangkan langsung di layar kaca. Setidaknya Metro TV dan tvOne, dua stasiun televisi ini menjadikan pernikanan anak kedua Jokowi ini menjadi program (baca: live event).

Televisi Indonesia mencatat sejarah yang sama, sebelum pernikahan Kahiyang-Bobby. Penulis mencatat ada 4 pernikahan selebriti dan 1 pernikahan anak Presiden yang pernah disiarkan langsung oleh stasiun televisi. Siapa saja? Mari segerkan ingatan kita lagi.



1. Eko Patrio-Viona Rosalina

Pada 12 Oktober 2001, komedian Eko Patrio menikahi aktris Viona Rosalina (Viona). Pernikahan tersebut ditayangkan langsung di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Mengapa TPI, saat itu kebetulan Eko masih bergabung dengan Patrio, yang mempunyai program komedi situasi di TPI.

Oleh karena belum pernah terjadi (pernikahan ditayangkan langsung di televisi), banyak orang mengkritik. Namun TPI tak peduli. Program live event tetap berjalan. Hebatnya, pernikahan tersebut sempat menggusur pertandingan liga Inggris.



2. Andhika Pratama-Ussy Sulistiawaty

Sembilan tahun berikutnya, SCTV tak mau ketinggalan mengekor TPI menyiarkan langsung pernikahan selebriti. Selebriti yang dijadikan objek siaran langsung adalah Andhika Pratama dan Ussy Sulistiawaty. Bukan cuma resepsi pada 21 Januari 2012, SCTV mengeksplorasi pasangan selebriti ini mulai dari persiapan pernikahan (pra-nikah), akad nikah, sampai resepsi. "Hebatnya",bukan cuma digelar di Jakarta, tetapi juga di Malang.  

Oleh kerena SCTV "butuh" content (pernikahan selebriti ini), kabarnya pernikahan Andhika-Ussy hampir 100% dibiayai oleh SCTV dan sponsor. Jangan heran, banyak built in sponsor atau di commercial break terdapat produk-produk iklan yang mendukung program live event ini. Kebetulan Andhika adalah Host acara Inboxyang tayang di SCTV.

3. Edhie Baskoro-Siti Runi Aliya Rajasa (Aliya)

Putra kedua Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan putri Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa ini menjadi pasangan anak Presiden yang pernikahannya disiarkan langsung sejumlah televisi. Setidaknya TransTV dan Trans7 memberikan slot (waktu tayang) 2 jam untuk live event pernikahan Edhi-Aliyapada 24 November 2011.

Awalnya, banyak orang mencibir soal tayangan pernikahan putra Presiden tersebut. Cibiran tersebut persis seperti sejumlah netizen melihat pernikahan putri kedua Jokowi hari ini. Penonton pun sempat heran, tak biasa TransTV dan Trans7 yang menjadi televisi official (baca: eksklusif) yang menanyangkan pernikahan langsung putra SBY tersebut.



4. Anang Hermansyah-Ashanty

Jika TransTV dan Trans7 eksklusif menjadi televisi penanyang Edhie-Aliya, RCTI tak mau kalah. Ketika Anang Hermansyah dan Ashanty sudah sepakat ingin menyelenggarakan pernikahan, pihak RCTI "mem-booked" terlebih dahulu pernikahan tersebut sebagai content untuk RCTI. Maka, jadilah pernikahan di hotel mewah itu menjadi sajian istimewa buat penonton RCTI.



5. Raffi Ahmad-Nagita Slavina

Pernikahan selebriti terakhir yang menjadi content program adalah pernikahan pasangan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Dua stasiun televisi menyiarkan secara langsung, yakni Trans TV dan RCTI. Bahkan Trans TV menyiarkan langsung dua hari berturut-turut, yakni 16-17 Oktober 2014.



Pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution membukukan "sejarah baru" pernikahan yang disiarkan langsung di televisi nasional. Sebetulnya, kalau mau jujur, siaran langsung pernikahan, bukan baru kali ini di televisi. Di dunia, banyak pernikahan yang disiarkan langsung. Yang paling Anda ingat adalah pernikahan Pangeran William dan Catherine Middleton pada 29 April 2011 di Westminster Abbey, London. Bahkan pada 1981, pernikahan Pangeran Charles dan Putri Diana Spencer pun disiarkan langsung dan ditonton kurang lebih 24,5 juta orang. Angka itu cuma tercatat di Britania Raya, belum di seluruh dunia.

Artinya apa? Artinya, pernikahan seorang public figure, bahkan sekelas anak Presiden pasti menarik. Meski kontroversial, tetapi pasti banyak disaksikan oleh penonton televisi. Sekadar info saja, saat pernikahan Anang-Ashanty, share-nya mencapai 30% atau ada 30% penonton televisi pada jam itu menyaksikan siaran langsung pernikahan pasangan selebirti itu. Sementara, penonton pernikahan Raffi-Nagita lebih dahsyat lagi, yakni mencapai rating 23,3 dengan share 40%. Bagaimana rating pernikahan Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution? Yang pasti, baik Metro TV maupun tvOne pasti "ngalap berkah" (rating dan share) dari live event ini.

Salam Berkah!

KISAH MISTERI AWAK PRODUKSI ANTV

Yasmin tak menyangka, tiba-tiba sesosok mahkluk halus berpapasan dengan dirinya. Yang bikin teman-temannya heran, ketika diceritakan, ia tak kaget, apalagi sampai berteriak histeris. Harap maklum, Yasmin sudah bertemu mahkluk halus berwujud perempuan ini sudah sering ditemui. Bukan bertemu di malam, tetapi si mahkluk justru menampakkan di siang hari.

Bukan Yasmin sendiri yang melihat mahkluk halus berwujud perempuan, ada banyak karyawan ANTV yang sempat berpapasan dengan "penghuni" di Menara Saidah lantai 11. Cherry, misalnya. Ketika ia sedang berada di kamar mandi, tiba-tiba ada suara perempuan. Bukan cekikikan, perempuan ini melainkan bernyanyi, dan suaranya kecang pula. Penasaran dengan suara itu, Cherry berusaha mencari sumber suara. Begitu berada di lokasi sumber suara, perempuan tersebut tak ada.

Belum cukup cerita soal suara perempuan bernyanyi, Cherry juga sempat "digoda" mahkluk halus di lift. Jika Anda pernah naik lift, pasti tahu, bahwa tanpa dipencet tombol tutup pintu, dengan sendirinya lift akan menutup. Namun, suatu ketika, pintu lift di lantai 11 Menara Saidah terbuka cukup lama. Cherry merasakan seperti ada "orang" yang menahan pintu lift tersebut. Padahal, saat itu tak ada satu orang pun yang menahan atau di depan lift.

"Gedung (Manara Saidah) memang angker banget tuh," ujar Cherry, yang setelah resign dari ANTV jadi ibu rumah tangga.

Vitri punya cerita lain lagi. Karyawan ANTV yang kini menjadi seorang Program Director (PD) ini, saat masih berkantor di Menara Saidah lantai 11, sering menghabiskan waktu di kantor. Bukan, lantaran tidak punya tempat tinggal, atau sedang backsteet dengan orangtuanya, melainkan ingin memanfaatkan wifi gratis.

"Lumayan kan dapat wifi gratis," ingat Vitri, PD yang kini pegang acara Asia Got Talent.

Perempuan satu ini memang tergolong berani. Saat di kantor malam hari sampai dini hari, ia hanya berdua dengan security. Tentu ada suatu ketika, ia harus pergi ke toilet. Nah, saat di toilet inilah Vitri "dikerjain" mahkluk halus lantai 11.

"Pernah di toilet cewek, lagi mules-mulesnya, eh ada yang gedor-gedor partisi toilet," ungkap Vitri. "Begitu selesai keluar toilet, saya tanya ke security, siapa orang yang masuk ke toilet perempuan. Kata security, tidak ada siapa-siapa..."

Seperti juga Cherry, Vitri juga punya cerita soal lift. Pernah suatu ketika naik lift, tiba-tiba lift berhenti dan terbuka di lantai yang tidak ada tenant-nya atau kantor yang menyewa lantai tersebut. Saat itu, Vitri tidak sendirian, tetapi bersama karyawan produksi ANTV lain. Melihat kondisi lift yang berhenti dan terbuka, mereka diam dan bertatap-tatapan. Menahan nafas. Tak berani berteriak, maupun melakukan aksi kepanikkan. Begitu pintu lift tertutup,  Vitri dan teman-temannya pun lega.

"Gue juga ngerasain (digoda makhluk halus)," ujar Utiek, mantan Produser ANTV. "(Gue) diumpetin pas ketiduran di pojokan (ruang) talent. Walhasil, pas kebangun, gue sama security sama-sama kaget..."

Kekagetan security, kata Utiek, gara-gara sebelumnya di ruangan itu tak ada siapa-siapa. Namun,begitu kontrol ruangan, Utiek ada di ruangan itu. Makhluk halus "berhasil" memindahkan lokasi tidur Utiek. Begitu bangun, Utiek pun kaget bukan kepalang. Pasalnya, waktu sudah tengah malam. Kantor pun sudah sepi. Tak ada teman sekantor yang sempat membangunkan. Kasihan...

Penasaran dengan mahkluk halus berwujud perempuan, seorang Executive Produser (EP) ANTV pernah mencoba berkomunikasi. Sang EP melakukan komunikasi dengan menggunakan alat jangka dan beberapa huruf. Dengan komunikasi huruf ini, diharapkan si "penghuni" membeberkan jati diri. Termasuk penyebab "ia" menjadi "penunggu". Namun sayang, komunikasi tak tuntas. Jadi, si EP belum mendapat jawaban komprehensif.

Tentu masih banyak cerita misteri teman-teman produksi ANTV, saat mereka berkantor di Menara Saidah lantai 11. Kebetulan saya belum sempat menggali lagi. Namun yang pasti, mahkluk halus berwujud perempuan itu masih ada di gedung itu. Menurut teman saya, perempuan ini berwajah Mesir.  Saya tak tahu, kenapa yang menjadi penghuni lantai itu bukan perempuan pribumi, tetapi dari perempuan Mesir. Padahal, setahu saya, bekas tanah makam yang dibangun menjadi gedung berlantai 26 ini, bukanlah pemakaman orang Mesir, juga tak ada penjual martabak Mesir. Lalu, darimana perempuan Mesir itu menjadi "penghuni"? Au ah, gelap!

Salam Pribumi!    

UPAYA MEDIA PARTISAN "MENGUSIK" ANIES BASWEDEN

Lawan politik Anies-Sandi rupanya belum juga legowoatas kekalahan di Pilkada. Kemenangan pasangan Anies-Sandi sebesar 57,96% tanpa kecurangan itu, masih menyimpan sakit hati berkepanjangan. Sebetulnya, ketidaklegowoan ini bisa tercermin dari sikap Djarot dalam serah terima jabatan ke Gubernur terpilih periode 2017-2022. Dengan alasan tak diundang, Djarot lebih memilih tidak hadir.

Sebagai sosok yang kerap menyuarakan persatuan, kedamaian, toleransi, NKRI, atau ke-bhinekaan, ketidakhadiran Djarot justru membuka sikap permusuhan, tak ksatria menerima kekalahan. Setidaknya begitulah sejumlah komentar netizen. Namun, sikap Djarot tersebut tak banyak dijadikan isu oleh mayoritas media. Sejumlah media  --khususnya media pro Ahok-Djarot-- justru menunggu "kesalahan" Gubernur Anies. "Kesalahan" itu kemudian digoreng dan menjadi isu. Kata "pribumi" pun dijadikan agenda dalam pemberitaan.

Penulis coba menganalisis, kenapa media melakukan itu. Analisis yang penulis coba paparkan, berdasarkan apa yang pernah terjadi. Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, sangat wajar jika media pro Ahok-Djarot mengusik Anies. Meski jagoannya sudah kalah telak, tugas media partisan ini tentu masih punya agenda. Jika masa Pilkada agendanya mempromosikan sang jagoan di media mereka, maka setelah kalah, tugas selanjutnya menggali kesalahan. Prinsip bad news is a good news digunakan oleh media partisan ini.

Alasan kedua, bisa jadi media tak punya agenda "mencari-cari kesalahan". Tetapi, apa yang dipublikasikan di media atau ditayangkan di televisi, cuma sekadar gimmick. Dalam bahasa Inggris, gimmick adalah alat atau tipu muslihat atau tipuan. Dalam dunia marketing, gimmick adalah salah satu strategi pemasaran suatu produk, dengan menggunakan cara-cara yang tak biasa, agar cepat terkenal. Sementara di dunia televisi, gimmick merupakan cara untuk menarik perhatian penonton dengan beragam cara, entah itu dengan membuat adegan khusus, dandanan yang khas, musik, atau aktivitas lain.

Barangkali Anda masih ingat pada awal 2014, program Hitam Putih yang diisukan tidak tayang lagi? Saat itu, lewat akun FB, sang pemandu acara, Deddy Corbuzier mengumumkan, Hitam Putih di Trans 7 resmi berakhir. Ketika berita berakhirnya Hitam Putih muncul, seketika itu pula netizen memberi komentar. Sebagian besar menyayangkan acara yang selalu menampilkan narasumber yang sedang trending atau aktual ini, harus berakhir. Nyatanya, hal tersebut cuma sebuah gimmick. Baik Deddy maupun tim Hitam Putih seperti sedang "tes ombak". Melihat seberapa tinggi respon netizendan loyalitas penonton Hitam Putih.

Tentu, Hitam Putih beda dengan agenda pemberitaan. Gimmick dalam berita adalah dengan memanfaatkan isu muktahir demi agar penonton melihat televisi, atau setidaknya menyaksikan acara yang ditayangkan di televisi tersebut. Hal ini bisa juga berlaku pada media cetak (majalah maupun koran). Intinya, memanfaatkan isu, agenda, agar menjadi point of interst pembaca atau penonton. Dengan begitu, medianya yang sebelumnya tidak pernah dibaca orang, jadi dibaca. Portalnya yang tadinya cuma dikunjungi oleh segelintir viewers atau readers, akhirnya dibaca. Bahkan, gara-gara kontroversi, artikel di media tersebut di-share dan menjadi viral.

Acara berita di televisi yang sebelumnya rating-share-nya kecil, begitu angkat isu kontroversi, langsung melonjak. Padahal, media ini tak punya kepentingan politik. Tak ada agenda terselubung untuk menjatuhkan lawan politik. Bukan pula media buzzer. Televisi yang melakukan gimmick, hanya memanfaat momentum dengan mengangkat isu kontroversi. Begitulah salah satu strategi media.

Namun sayangnya, ketika ingin memanfaatkan momentum, media tidak lagi melakukan analisis dan riset data terlebih dahulu. Kontroversi yang diangkat, jadi terkesan sama seperti media buzzer, yang memiliki agenda terselubung. Yakni, politik balas dendam, dengan menjatuhkan lawan politik. Analisis dan riset yang dimaksud penulis di sini konteksnya tentang kata "pribumi".

Mengapa media harus menganalisis? Sebab, sebuah pidato tentu harus dipahami secara utuh. Jika tidak utuh, maka akan diplintir atau dipahami oleh penonton secara sepotong-potong. Gara-gara dipahami sepotong-sepotong, walhasil terjadilah kegaduhan. Penonton yang sudah terlanjur mengkritik, jadi terkesan bodoh saat memposting atau berkicau di sosial media. Padahal, salah satu tugas media seharusnya juga bisa mengedukasi dengan baik pembaca maupun penonton. Apa konteks kata "pribumi" dari pidato Anies? Apakah benar Gubernur terpilih periode 2017-2022 ini memang sengaja memancing rasisme?

Media pun tak (sempat) meriset, bahwa sebelum Anies mengucap "pribumi", ada sejumlah tokoh yang juga mengucapkan "pribumi". Saat Imlek Januari 2017, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sempat mengeluarkan perkataan "pribumi". Kata itu muncul saat Ganjar mengomentari soal batik Lasem, yang merupakan perpaduan antara unsur Arab, pribumi, dan Tionghoa. Selain Ganjar, Megawati pun sempat mengeluarkan kata "pribumi" dalam sebuah pidato. Begitu pula Menteri Susi Pudjiastuti, yang mengungkapkan, bahwa pemerintah akan menggulirkan program membangun konglomerasi pribumi.

Namun, entah media tak (sempat) meriset jejak digital tokoh-tokoh yang mengungkap kata "pribumi" sebelum Anies, atau memang punya tujuan lain, yakni sengaja mengincar kesalahan-kesalahan Anies. Entahlah, yang pasti, bola sudah kembali bergulir. Sepertinya kegaduhan belum juga berakhir. Genderang perang sudah dibunyikan. Menarik dan seru. Sekarang mari kira saksikan bersama, mana media yang akan dipermalukan oleh para penonton maupun Netizen, hanya gara-gara membela jagoannya.

Salam Damai!

"PENGHUNI TERAKHIR" ANTV DI MENARA SAIDAH

Ketika berita longsornya dinding penahan tanah yang ada di depan Menara Saidah muncul, seketika itu pula, penulis langsung mengingat masa lalu. Masa, ketika ANTV masih berkantor di gedung mentereng berlantai 28 yang berlokasi di jalan MT Haryono, Jakarta Selatan. Selama kurang lebih tiga tahun, sekitar 2003-2006, bagian Produksi ANTV, sempat menempati lantai 11 gedung Menara Saidah.

Memang, selama ini tak banyak tahu, sebelum bermarkas di Epicentrum, Kuningan, Jakarta, kantor ANTV ada di beberapa lokasi terpisah. Redaksi ANTV menempati kantor di gedung Sentra Mulia lantai 19, Kuningan, Jakarta Selatan. Sementara tim produksi, sebagian di Sentra Mulia di lantai yang sama, ada pula yang berkantor di basement Apartemen Rasuna (dahulu belum dikenal kawasan Epicentrum). Sampai kemudian pada paruh 2003-an, seluruh tim produksi hijrah ke Menara Saidah.

Hijrahnya tim produksi ANTV ke Menara Saidah bukan tanpa alasan. Yang paling utama, karena lokasi kantor dekat dengan studio Pegadegan, yakni di jalan Pegadegan Timur atau tak jauh dari Stasiun kereta api Kalibata. Kurang lebih 300 meter, di belakang Menara Saidah. Kebetulan, masa itu ANTV belum punya studio besar sebagaimana studio Epicentrum sekarang ini. Satu-satunya studio di Sentra Mulia lantai 19, cuma cukup untuk acara berita atau talk show, dengan maksimal 4 narasumber. Sementara di studio Pengadegan, tim produksi bisa bebas berkreasi dengan membuat acara musik, variaty show, atau acara yang membutuhkan banyak penonton.

Acara ANTV yang paling terkenal saat menyewa studio di Pengadegan adalah Penghuni Terakhir. Masih ingat? Penghuni Terakhir atau biasa disingkat Petir adalah program bergenre reality show yang digagas oleh Triwarsana. Peserta yang diambil dari hasil audisi di beberapa kota di Indonesia, harus menjalani kehidupan sehari-hari di sebuah rumah mewah di Jakarta selama 100 hari. Setiap hari, mereka mendapatkan tantangan. Lalu, setiap minggu, mereka akan diekstradisi di atas panggung veriaty show. Ekstradisi dilakukan berdasarkan penilaian juri, maupun SMS. Penghuni terakhir lah yang mendapatkan rumah senilai Rp 1,25 miliar.

Bagi tim produksi, tentu sungguh efektif berkantor dekat dengan studio. Jika tak ada jadwal produksi, teman-teman nongkrong di kantor (baca: Menara Saidah). Bosen di kantor, pergi ke studio, atau sebaliknya. Jika ada syuting, dan kebetulan ada sesuatu yang perlu direvisi dan di-print hard copy -entah itu skrip atau rundown-, tim produksi bisa bolak-balik kantor-studio dengan mudah. Jika malas jalan kaki atau tak bawa kendaraan pribadi, ada angkot (Kalibata-Kampung Melayu) atau naik ojek. Biasanya yang bolak balik Menara Saidah-Studio Pengadegan adalah tim kreatif atau production assistance (PA). Sebab, tim grafis dan editing produksi sempat dibuatkan ruangan khusus di studio Pegadegan, tepatnya di lantai dua.

Menara Saidah sebetulnya sudah resmi dibuka sejak 2001. Meski tak berada di kawasan elit, namun saat itu gedung berlantai 28 ini masih terbilang populer sebagai gedung perkantoran elit di ibukota. Menariknya, harga sewa per meter persegi kabarnya relatif lebih murah dibanding perkantoran elit di Sudirman, Thamrin, atau Kuningan. Tak heran, Direksi ANTV memutuskan sewa kantor di situ. Kala itu, ada puluhan perusahaan sempat menjadi tenant bangunan yang terbilang megah ini.

Banyak cerita misteri yang penulis dengar tentang Menara Saidah. Yang paling sering diceritakan teman-teman adalah keberadaan mahkluk halus berwujud perempuan berambut putih, "penghuni" lantai 11. Awalnya tak banyak tahu soal mahkluk halus itu, sehingga teman-teman produksi masih enjoy bekerja hingga larut malam, bahkan dini hari. Namun, begitu ada yang mulai cerita dan cerita menyebar kemana-mana, sebagian besar mulai gerah. Jika tidak ada teman kerja, lebih banyak yang meninggalkan Menara Saidah sebelum larut malam. Jika sebelumnya berani menginap di gedung ini, sebagian besar lebih suka meninggap di studio Pengadegan. Mereka tak ingin jadi "penghuni terakhir".

Penulis baru dengar belakangan, kenapa Menara Saidah dianggap "angker". Dari penuturan warga, Menara Saidah berdiri di atas area pemakaman yang digusur. Kabarnya, ada beberapa jenazah, yang tak sempat dipindah. Gara-gara jenazah yang tak sempat dipindah itu, menurut warga, menjadi sebab sejumlah tenant yang menyewa di Menara Saidah, diganggu. Belum cukup dengan cerita itu, ada cerita lain. Ketika pembangunan gedung, banyak korban berjatuhan. Arwah korban bergentayangan, bercampur dengan sejumlah korban yang sempat tertabrak kereta api di dekat stasiun Cawang.

Cerita ANTV di Menara Saidah sudah berlalu. Sebelum gedung ini ditutup pada 2009, tim produksi ANTV sudah hijrah ke Epicentrum. Tak cuma berkantor, tetapi memiliki studio sendiri. Meski sudah berlalu, namun kenangan berkantor di Menara Saidah tak akan pernah lupa. Ruang kosong di lantai 11 itu sampai kini masih ada. Memang, tak ada lagi karyawan ANTV, tetapi "penghuni terakhir" masih ada di sana. Bukan Yohan (pemenang Petir 1), bukan pula Ayu (pemenang Petir 2011). "Penghuni Terakhir" ini, pasti punya banyak cerita tentang kami dahulu. Anda tak percaya? Silahkan mampir ke sana dan bertanya pada "mereka"...

Salam Misteri!

GURITA PARPOL DALAM BISNIS TELEVISI

Bisnis televisi dan kepentingan politik memang tak bisa terpisahkan. Kalau boleh penulis anologikan, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisah. Di satu sisi, televisi bertugas memberikan informasi dan hiburan. Namun di sisi lain, ada kepentingan-kepentingan politik yang tak bisa terhindarkan.  Kejadiannya bukan belakangan terjadi, tetapi sudah sejak Indonesia mengenal televisi.

Mari kita kilas balik sejarah TVRI. Presiden Republik Indonesia ke-1 Ir. Soekarno secara politis memutuskan, memasukkan proyek media massa televisi ke dalam proyek pembangunan Asian Games IV. Soekarno meminta Menteri Penerangan Maladi mengeluarkan Surat Keputusan (SK) tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T) pada 25 Juli 1961.

Soekarno yang sedang berada di Wina mengirimkan teleks kepada Menpen untuk segera menyiapkan proyek televisi. Meski persiapan tinggal 10 bulan, Menpen diminta sang Presiden untuk membangun studio di eks AKPEN di Senayan, membangun dua pemancar, serta mempersiapkan sofware (program dan SDM). Tepat pada 24 Agsutus 1962, TVRI mengudara untuk pertama kali saat siaran pembukaan Asian Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno.

Tak cuma TVRI yang berada di pusaran politik, televisi swasta pun mengalami. Di era Orde Baru (Orba), hampir semua saham televisi dikuasai oleh Keluarga Cendana. Sebut saja RCTI maupun TPI. Tentu kepentingan politik yang dijalankan pemerintah sangat kental. Baik RCTI maupun TPI tak berani menentang pemerintah. SCTV lah yang berani "melawan" pemerintah, terlebih lagi detik-detik reformasi pada 1998.

Kala ANTV baru menginjak tahun-tahun awal kelahirannya, penulis sempat merasakan aroma Golkar. Berita mengenai "partai kuning" mewarnai di program berita Cakrawala. Oleh karena menguasai ANTV, parpol ini bagai gurita. Pendapatan dari iklan yang diraih tim sales marketing ANTV, sebagian terkuras untuk kebutuhan Golkar. Jangan heran, penulis dan teman-teman di ANTV saat itu sempat merasakan kegoncangan finansial. Kegoncangan menyebabkan keterlambatan gaji.

Di zaman Orde Baru (Orba), televisi memang dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Selain untuk mempublikasikan pembangunan, televisi juga menjadi alat konsolidasi kekuasaan. Sajian-sajian berita di RCTI maupun Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) banyak diwarnai pencitraan orang-orang atau para pengusaha yang berafiliasi dengan Keluarga Cendana.

Peta bisnis televisi mulai berubah begitu Orba tumbang. Televisi mulai terpolarisasi. Ada televisi yang pro terhadap kubu A, ada televisi yang pro terhadap kubu B. Terlebih lagi ketika era pemilihan langsung dimulai. Televisi mulai mencekoki penonton dengan sejumlah tayangan berita dan survei yang bisa memengaruhi penonton (baca: tayangan [pencitraan). Begitu Owner dekat dengan calon Presiden (capres), mulailah kebijakan di dalam televisi berubah. Wajib menayangkan capres di tiap berita. Jika perlu, capres tampil di acara favorit di televisi itu. Di situlah gurita parpol terjadi.  

Era sekarang, tak jauh beda dengan era sebelumya. Gurita partai politik masih tetap menghantui bisnis televisi. Tak perlu dijelaskan lagi, mayoritas penonton sudah tahu, bahwa MNC dan Metro TV dimiliki oleh pemilik perpol. MNC membawa bendera Partai Persatuan Indonesia (Perindo), sementara Metro TV dengan Partai Nasional Demokrat (Nasdem).    

Jika tadi penulis infokan, ANTV sempat guncang, --gara-gara beberapa tahun lalu, gurita parpol mengganggu bisnis ANTV,-- kini tak lagi. ANTV sekarang dikelola lebih profesional. Bahkan beberapa kali, ANTV menjadi stasiun televisi hiburan nomer 1. Kondisi keuangan ANTV membaik sejak 2014 lalu.

Laporan yang penulis kutip detikFinance, pendapatan ANTV meningkat 52,5% menjadi Rp 576,27 miliar (2014). Padahal pada 2013 cuma mendapat Rp 377,88 miliar. Menurut Presiden Direktur PT. Intermedia Capital Tbk atau MDIA (pemilik saham ANTV) Erick Thohir, ANTV berhasil menjadi salah satu tv dengan tingkat efisiensi yang membanggakan. Dari data AC Nielsen, pada 2017, ANTV berhasil mempertahankan posisi sebagai stasiun dengan audience share rata-rata 15,0 selama semester I 2017.

Kini, ANTV lebih sehat, profesional. Berbeda dengan televisi yang terjerat gurita parpol. Setiap bulan, bagian keuangan pusing tujuh keliling. Pusing bukan cuma mengurus biaya operasional televisi, tetapi harus berbagi dana ke parpol yang dimiliki owner televisi bersangkutan. Televisi harus mensubsidi parpol. Duit dari iklan dikucurkan untuk keperluan parpol, mulai dari Pusat, cabang, sampai ranting. Memang tak semua uang dikucurkan, tetapi lumayan banyak.

Seorang teman dari stasiun televisi kemarin bercerita. Salah satu televisi yang masih berada dalam gurita parpol mulai "kurang gizi". Bayangkan saja, satu ranting parpol (Dewan Pimpinan Ranting) bisa mendapat subsidi per bulan senilai 50 juta perak. Tentu, parpol tak cuma punya 100 ranting. Bisa Anda bayangkan, berapa jumlah angka yang harus dikucurkan untuk semua cabang, pimpinan daerah, bahkan pimpinan pusat.

Dana-dana untuk parpol pasti akan makin membengkak di saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak nanti, apalagi saat Pemilihan Presiden (Pilpres). Betapa tidak, parpol butuh banyak uang. Sebaliknya, belanja iklan kini merosot, mau tak mau bagian keuangan di televisi harus putar otak. Apa tidak pusing bagian keuangan?

Jika kondisi tersebut dibiarkan, konsekuensi yang akan ditanggung stasiun televisi bersangkutan adalah efisiensi. Bisa efisiensi dari pemangkasan operasional, mulai dari pemotongan bonus, efisiensi perjalanan dinas, sampai pemadaman listrik di kantor pada jam tertentu. Jika sudah kepepet, jalan terakhir adalah mem-PHK karyawan. Namun biasanya, televisi jarang yang mem-PHK karyawan, karena ongkos terlalu besar. HRD lebih suka menunggu karyawan yang tidak betah (atau dibuat tidak betah), sehingga si karyawan lebih memilih resign. Dengan resign, biaya yang dikeluarkan HRD untuk si karyawan menjadi lebih kecil.

Saat ini yang barangkali yang masih "selamat" dari gurita parpol adalah Trans Corp, dimana terdapat Trans TV, Trans 7, dan CNN. Secara sharedari data AC Nielsen, Trans TV maupun Trans 7 kini memang cuma duduk di posisi ke-5 dan ke-6. Namun, kondisi keuangan relatif masih lebih aman, karena owner Trans Corp tak punya parpol. Rangking share RCTI boleh di atas. Revenue MNC grup boleh selangit, lantaran sejumlah sinetronnya box office. Tapi jika berangkas uangnya digembosi oleh parpol, lama kelamaan bisa bleeding juga.

Owner Trans Corp lebih suka menghabiskan uang untuk investasi bisnis, ketimbang mengurus parpol. Sang owner tak mau berparpol, boleh jadi, karena tak mau menambah pusing kepala, karena masih banyak dana tersedot ke CNN, yang hingga kini masih bleeding alias belum break even point (BEP). Entahlah jika CNN sudah BEP, bahkan profit, lalu ada parpol siap usung sang Owner jadi calon Presiden, peta bisnis Trans Corp tentu akan berbeda.      

Salam sehat!

JURUS AMPUH MEMBUNGKAM MEDIA

Satu hari di salah satu stasiun televisi swasta.

Wajah Owner stasiun televisi swasta ini nampak memerah. Beberapa kali menghubungi pemimpin redaksi (pemred) melalui smartphone, tetapi tak berhasil. Rupanya Sang Pemred ogah mengangkat. Lucunya, bukan takut pada Owner itu, malahan Sang Pemred tersenyum, memandang LCD smartphone-nya. Ia sudah tahu, Si Owner pasti marah dan meminta paket berita yang sedang tayang di layar kaca, di-drop (baca: tidak ditayangkan).

Awal kemarahan, ada sebuah liputan yang mengkritisi produk perusahaan milik salah seorang konglomerat. Kebetulan konglomerat ini sedang menyaksikan tayangan tersebut. Agak kecewa, konglomerat menghubungi Si Owner televisi swasta yang berlokasi Jakarta. Mendapat info dari sang konglomerat, Si Owner langsung menghubungi Pemred sebagai penanggung jawab pemberitaan. Sayang, usaha Si Owner tak berhasil. Paket berita sudah terlanjur tayang.

Beberapa jam kemudian.

"Hape loe kenapa?! Kok nggak diangkat?!" ujar Si Owner dengan nada tinggi pada Pemred.
"Maaf pak, hape saya tadi saya tinggal di ruangan. Lagi di-charge," Pemred memberi alasan.
"Elo dan redaksi mau nggak gajian?!" tanya si Owner.
"Lho, kenapa pak?" Pemred pura-pura tak tahu penyebab kemarahan Owner.
"Kenapa lo tayangin berita soal produk...(sensor) itu?! (Sensor) itu kan lagi jadi sponsor utama tv kita?! Dia sudah ngasih duit banyak ke kita..."

Sebagai jurnalis, Pemred tentu punya idealisme. Idealisme yang berdasarkan hati nurani seorang jurnalis, yakni fakta harus diangkat. Apalagi fakta yang diketahui oleh jurnalis, perlu diinfokan kepada masyarakat secara luas. Fakta tak boleh ditutup-tutupi, hanya lantaran produk tersebut beriklan di media tersebut. Kepentingan masyarakat lebih utama, daripada ketentingan segelintir orang, apalagi satu konglomerat.

Pemred itu telah berbohong pada Owner, tetapi telah "menyelamatkan" masyarakat, dengan menyebarkan fakta. Saat itu fakta yang harus diberitakan adalah, bahwa produk yang diberitakan, telah tercemar zat yang tidak halal. Meski akhirnya Pemred ini menyerah, yakni tidak menayangkan paket berita lagi tentang produk tersebut, namun "keberanian" Pemred saat itu, sungguh luar biasa. Banyak penonton jadi mendapat info mengenai produk tersebut.

***

Memang, sebuah media tak bisa menghindari conflict of interest pada klien yang menjadi sponsor di medianya. Jika mau tetap mendapat asupan dari sponsor (baca: duit iklan), maka wajar jika media harus berbaik-baik hati dengan sponsor tersebut. Di televisi, jika ingin Si Sponsor mem-booked spot-spot iklan atau menjadi main sponsor, ya jangan coba-coba membuat paket berita atau program, yang mengkritisi sponsor tersebut.

Namun, jurnalis seharusnya kritis. Kritis pada setiap persoalan. Sekali lagi, fakta tak boleh disembunyikan. Sebab, warga atau penonton harus diselamatkan, melalui info yang benar (baca: bukan hoax), dalam konteks ini liputan berita. Namun seribu kali sayang, belakangan media banyak yang bungkam, gara-gara takut pada sponsor.

Ada berita kontroversi konglomerat, terpaksa tidak ditulis atau ditayangkan, takut medianya tidak disponsori konglomerat itu. Ada fakta soal minuman ABCD yang mengandung zat terlarang, tidak dingkungkap ke layar kaca. Begitu juga dengan sosok konglomerat hitam, yang kebetulan menjadi blocking program di stasiun televisi tertentu, tak diberitakan. Begitu seterusnya. Wajar? Wajarlah. Hidup televisi swasta dari iklan. Tak ada iklan, karyawan tak gajian. Tak dapat bonus tahunan, atau insentif program bulanan.

Paling hangat, berita sebuah proyek raksasa seorang konglomerat. Di proyek ini, ada nilai beritanya (news value). Masih kontroversial, tapi punya informasi yang wajib diketahui oleh warga atau penonton. Apa yang menyebabkan kontroversi? Jika warga tetap cuek dan tergiur promo tersebut, apa konsekuensinya? Apa dampak negatif proyek raksasa ini bagi bangsa Indonesia?

Sekarang pertanyaannya: berapa banyak media yang memberitakan? Berapa berita tentang proyek kontroversi tersebut ada koran? Berapa paket berita sudah di televisi ditayangkan? Kalau pun ada, berita yang muncul, lebih banyak "membela" konglomerat. Tak ada cover both side. Warga atau penonton hanya bisa menemukan info lain --jika boleh mengatakan cover both side- melalui media sosial.

Melihat kondisi tersebut di atas, Anda bisa menyimpulkan sendiri, bahwa membungkam media itu mudah. Konglomerat cukup mengorder iklan berspot-spot di televisi, atau menempatkan berhalaman-halaman iklan di koran atau majalah. Dengan begitu, konglemerat akan aman dari pemberitaan negatif. Jika stasiun televisi atau radio "nakal" (baca: masih tetap memberitakan dengan berita-berita yang bisa merusak citra baik), siap-siap tak kebagian jatah iklan.

Jika belum cukup membungkam media cetak dan elektronik, konglomerat juga bisa menggelontorkan miliaran fulus, untuk mengontrak para blogger atau buzzer media sosial. Lewat blogger, proyek bisa dibuatkan artikel (baca: kampanye pencitraan), sementara via buzzer, proyek bisa terus di-endorse. Teknik membungkam media seperti ini, tentu sangat efektif dan "lembut". Tak percaya, buktikan.

Salam sehat!