Boleh dibilang, Kompas
TV menjadi televisi pertama yang membuat kompetisi yang memilih komika stand up
comedy terbaik di televisi. Melalui acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), Kompas
TV memilih komika-komika terbaik di Indonesia. Sampai dengan 2015 ini, SUCI baru saja menyelesaikan musim kompetisi yang ke-5, dimana berhasil mengukuhkan Rigen -komika asal Bima, NTB- sebagai juara pertama.
Adalah Pandji Pragiwaksono yang pertama kali mencetuskan acara SUCI. Gagasan pria ini kemudian disambut baik oleh Indra Yudhistira, yang kebetulan saat di Kompas TV menjabat sebagai Direktur Program dan Produksi. Meski bukan sebagai pencetus, nama Indra ditulis oleh Pandji di blognya sebagai salah seorang yang turut berjasa "membumikan" stand up comedy di tanah air, selain Warkop DKI, almarhum Taufik Savalas,
Ramon Papana, Iwel Wel, Raditya Dika, dan Agus Mulyadi dari Metro TV.
Setelah beberapa tahun di Indosiar, rupanya Indra “gerah” ingin menggarap acara yang melibatkan komika-komika tanah air. Bukan sekadar show sebagaimana Metro TV,
tetapi konsepnya kompetisi sebagaimana SUCI. Lalu, kata “academy” yang sudah menjadi brand
acara-acara kompetisi di Indosiar pun diambil. Walhasil, lahirlah Stand Up Comedy Academy. Apakah Stand
Up Comedy Academy bisa menyangi SUCI (Kompas TV) atau Stand Up Comedy Show
(Metro TV)?
Jujur, cukup berat
menjawab pertanyaan tersebut, tetapi barangkali saya bisa menganalisa. Namun, sebelum saya menyampaikan analisa, ada baiknya saya ajak Anda berkilas balik terlebih dahulu. Sebelum Stand Up Comedy Academy,
Indosiar sudah membuat acara yang menggunakan nama ‘academy’. Terakhir adalah D’Academy.
D’Academy adalah ajang pencarian bakat penyanyi dangdut. Acara yang
pertama kali tayang pada 3 Februari 2014 ini sempat “mengalahkan” rating-share Indonesian
Idol yang dirilis AC Nielsen.
Saat dua acara ini
mengadakan pertunjukan pada akhir Februari 2014. Konser Nominasi D’Academy
meraih rating 4.8 dan share 19.9%, sementara Indonesian Idol hanya
meraih rating 3.4 dan rating 17.5%. “Keberhasilan” D’Academy kabarnya
karena racikan antara drama di ajang kompetisi dan komentar juri, ada juga
unsur infotainment yang dimasukkan di acara ini.
Saya tak perlu lagi
mengomentari drama pada kompetisi dan komentar juri, karena Anda pasti sudah
tahu mengapa jadi menarik. Penulis cuma berkomentar mengenai unsur infotainment
yang menjadi kekuatan show acara D’Academy. Di ajang ini, para
Host diminta untuk mengungkap kehidupan pribadi para peserta sampai sang juri.
Bukan kehidupan prestasi, tetapi gosip-gosip ala infotainment. Meski
terlihat out of topic dari konsep sebuah acara pencarian bakat, tapi
unsur infotainment seperti itu justru disukai para penonton.
Jauh sebelum D'Academy, ada Akademi Fantasi Indosiar (AFI). AFI bukanlah produk
asli in house Indosiar. Ajang pencarian bakat menyanyi ini diadaptasi dari
acara La Academia di Meksiko. Setelah sukses tayang di Malaysia, Le
Academia diadaptasi di Indonesia dengan nama AFI.
AFI 1 dan AFI 2
berhasil meraih kesuksesan. Setidaknya terlihat dari perlehan rating di Grand
Final AFI 1 yang meraih TVR 18.7 dan share 50,4%. Artinya, ada 50-an persen
penonton televisi yang menyaksikan Grand Final AFI 1. Sementara Grand Final AFI
2 meraih TVR 18.9 dan share 54%. Namun, perolehan gila-gilaan tersebut tak
terjadi lagi di AFI 3, 4, dan seterusnya. Meski sejak AFI ke 3 sudah tak
sesukses dengan AFI 1 dan 2, Indosiar tetap mencari peruntungan dari ajang
pencarian bakat ini. Ratingnya tak mampu mengalahkan Indonesian Idol
maupun The Voice.
Kini, Indosiar bakal
mencari peruntungan baru lagi, dengan membawa nama ‘academy’, yakni Stand Up
Comedy Academy. Memang, kesuksesan yang diraih D’ Academy atau
“keterpurukan” AFI tak bisa dibandingkan dengan Stand Up Comedy Academy.
Kenapa? Meski berkonsep kompetisi, tetapi ketiga acara ini beda segmen. Namun,
Indosiar sangat berpeluang meraih penonton.
Analisa pertama, saya
mengambil daily audience share market all AC Nielsen yang dimiliki Indosiar. Saat
ini televisi yang bermarkas di Daan Mogot, Jakarta Barat ini sangat baik. Data per 4 Oktober 2015 ini, Indosiar memiliki share (TVS) 15,4 dan berhak menduduki televisi swasta nasional nomer 2. Indosiar bersaing ketat
dengan SCTV yang sempat berada di peringkat ke-1 dengan perolehan TVS 17,5. Sementara RCTI cuma maraih TVS 12,7.
Tayangan D Academy 2
yang tayang pukul 18:22-23:59 WIB sangat membantu mengambil penonton televisi
dari televisi pesaing (baca: SCTV) yang banyak menayangkan sinetron. Melihat potensi penonton cukup besar, Stand Up Comedy Academy jelas sangat berpeluang meraih
kesuksesan merebut penonton.
Analisa lain, komika
yang muncul di Stand Up Comedy Academy sebagian besar adalah “lulusan”
SUCI atau pernah tampil di Stand Up Comedy Show Metro TV. Artinya, para
komika ini sudah punya banyak penggemar. Sebut saja Yudha Keling, Benedicktivity, Newendi, Ricky Wattimena, maupun Lolox.
Stripping juga menjadi indikator Stand Up Comedy Academy
dalam menjaga konsistensi penonton. Sebagaimana sudah dijadwalkan, acara ini ditayangkan stripping setiap Senin sampai Kamis. Tak seperti kompetisi yang biasa Indosiar tayangkan, Stand Up Comedy Academy ini tidak ditayangkan secara live. Taping
dilakukan di studio 1 Indosiar di Daan Mogot. Sebagian dari Anda pasti sudah
tahu kenapa tidak live? Meski tidak live, konsepnya tetap live on
taped. Bagi Anda yang belum kenal dengan istilah live on taped, itu artinya melakukan rekaman sebagaimana melakukan siaran live, yakni dengan durasi tepat, lalu tanpa ada retake atau diedit lagi.
Barangkali sebelum
mengakhiri tulisan, saya dan sejumlah penikmat stand up comedy
berharap, kompetisi di Stand Up Comedy Academy ini akan melahirkan
komika-komika yang cerdas. Maksudnya cerdas adalah: materi tetap lucu dan bikin "pecah", tetapi tanpa blue materials,
khususnya materi SPA: Seks, Pornografi, dan Agama. Setidaknya pesan saya untuk
para mentor dan juri yang akan memilih komika terbaik di Stand Up Comedy Academy
ini. Mentor yang dimaksud antara lain komika senior Arief Didu dan Mosidik. Lalu juri-jurinya adalah Abdel, Soimah, dan Eko Patrio yang menjadi juri tetap. Sementara juri tamu, yakni Pandji, Raditya Dikka, dan Ernest Prakasa.
Seks yang saya maksud adalah "seputar selangkangan" maupun anggota tubuh perempuan yang sensitif. Sementara pornografi mengulas masalah hubungan intim, misalnya. Terakhir tentang agama. Beberapa kali saya menyaksikan ada komika yang secara vulgar mengolok-olok mengenai ayat al-Qur'an, tata cara sholat, maupun pakaian wajib seorang muslimah. Agama seharusnya bukan jadi bahan guyonan.
Pertanyaannya: mungkinkah membuat seorang komika "pecah" tanpa materi SPA? Harusnya mungkin. Sebab, beberapa komika -yang tak perlu saya sebut namanya- sudah membutikan itu. Mereka tetap lucu, memiliki materi cerdas, tetapi tidak menampilkan materinya vulgar yang menyinggung seks, pornografi, maupun agama. Saya yakin, di Stand Up Comedy Academy, Indonesia akan punya komika-komika yang seperti itu.
sumber foto: twitter Pandji Pragiwaksono