Kamis, 22 Oktober 2015

Ada Goyang Estafet dan Karaokean di MTSS

Sebelum resmi ke +MNCTV Official , saya sempat menulis acara +Mario Teguh  akan pindah ke +TvOneNews. Kabar tersebut bukan gosip, lho. Di “televisi merah” ini, acara yang semula ketika di Metro TV bernama +Mario Teguh Golden Way (MTGW), dirubah menjadi Superone. Tentu Anda tahu, nama tersebut berasal dari kata “Super” yang selalu diucapkan Mario, plus kata “One” dari tvOne.

Namun, Mario Teguh ternyata tak jadi tayang di tvOne. Meski tahu alasan kenapa tidak jadi tayang, tapi saya tak akan ungkapkan di Kompasiana ini. Yang pasti, Mario Teguh akhirnya berlabuh ke MNC TV. Di televisi milik Harry Tanoe (HT) ini, nama acaranya pun tentu tidak Superone, tetapi SuperMNC. Ups! Maaf, namanya SuperHT. Maaf! Yang benar Mario Teguh Super Show (MTSS). Barangkali sebagian dari Anda yang biasa nonton MNC TV sudah melihat grafis promo acara MTSS ini.



Sebagian konsep di MTSS tak jauh beda dengan saat MTGW, yakni sesi curhat mengenai permasalahan sesuai tema. Penambahannya, selain penonton studio dan juga di rumah, Mario juga akan dihadapkan dengan beberapa bintang tamu dari kalangan selebritis. Konsep lain yang ada di MTSS adalah, Mario akan mencari anak muda dari kalangan pelajar ataupun mahasiswa yang memiliki bakat menjadi motivator untuk turut diundang di MTSS.

Boleh jadi, oleh karena genre MTSS ini adalah veriaty show, maka ada beberapa konsep hiburan yang tidak melulu motivasi. Ada penampilan mistery guest atau mistery box, maupun games. Games yang ada tentu berhubungan dengan tema dan mungkin pernah Anda lakukan di acara outbound karyawan. Goyang Estafet, misalnya. Games ini bertujuan untuk melatih daya konsentrasi. Yang berbeda lagi, penonton MTSS juga akan diajak berkaraoke-an dengan Mario Teguh dan bintang tamu. Sebagaimana penonton MTGW ketahui, di episode spesial, Mario kerap bernyanyi.

Sebagaimana MTGW saat di +Metro TV, MTSS juga tayang di Minggu. Namun, tayangnya lebih malam, yakni pukul 21:15-22:45 WIB. Soal jam tayang ini, tim Mario Teguh sudah melakukan survey melalui lembaga survey yang dimilikinya, yakni Mario Teguh Primax Polling. Apakah konsep variaty show ala MTSS akan meraih rating-share jauh lebih hebat dari MTGW? Cukup menarik untuk diikuti. Bagi yang kangen atau penasaran dengan MTSS, silahkan melihat di episode perdana yang akan ditayang pada Minggu ini, yakni 25 Oktober 2015.


Selasa, 13 Oktober 2015

SENSASI FARHAT ABBAS: ANTARA BENCI, TAPI RINDU

Sensasi. Barangkali kata itu yang layak diberikan pada sosok Farhat Abbas. Betapa tidak, rasanya mantan pria ini tak punya prestasi spekatakuler di tanah air yang bisa dibanggakan, kecuali membuat sensasi-sensasi yang tak penting. Saya mencoba hitung sensasi-sensasi yang pernah dibuat oleh pengacara kelahiran Tembilahan, Kabupatan Indragiri Hilir, Riau, 22 Juni 1976 ini.

1. Sensasi pertama terjadi pada 2004, ketika Farhat mengangkal kabar telah menikahi Melani Sukmawati di Bandung.

2. Pada 2005, lagi-lagi persoalan perempuan. Farhat diisukan telah menikahi perempuan bernama Ani Muryadi pada 19 Mei 2005. Saat dinikahi sang pengacara, perempuan ini berstatus sebagai seorang janda.

3. Memasuki awal 2013, Farhat mengeluarkan komentar kontroversi. Komentar kontroversinya terkait kasus plat mobil Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pada 9 Januari 2013.

4. Pada 2013, Farhat kembali “tersandung” masalah perempuan. Kali ini seorang perempuan bernama Rita Tresnawati meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak (KPA), lantaran Farhat Abbas tak mengakui Gusti Reyhan Gibayus sebagai anaknya. Rita mengaku sempat dinikahi siri oleh Farhat dan melahirkan Gusti. Meski memiliki akta lahir atas nama Farhat Abbas, pria ini tetap tak mengakui. Namun, belakangan kasus selesai dan Farhat mengakui Gusti sebagai anaknya.

5. Ditantang anak-anak Ahmad Dhani, Al dan El, karena kicauannya di twitter pada November 2013 dianggap menghina ayah mereka.

6. Berseteru dengan tim Yuk Keep Smile (YKS) TransTV. Farhat mengatakan Goyang Caesar adalah “Goyang Bencong”. Ia meminta tim YKS untuk memakai “Goyang Pocong” hasil kreasinya.

7. Berseteru dengan Soimah. Menurut Farhat, Soimah sudah “lupa diri”. Ia terkenal, karena kebayanya.

8. Paska kecelakaan yang menyeret nama Abdul Qadir Jaelani alias AQJ di tol Jagorawi, Farhat menilai Ahmad Dhani tidak becus mendidik anaknya. Komentar yang ditulis di akun twitter-nya itu membuat Ahmad Al Ghazali panas. Putra Ahmad Dhani menantang Farhat tinju.

9. Farhat secara terang-terangan menyebut suara Julia Perez alias Jupe jelek dan sangat menganggu. Hal ini dikicaukan sang pengacara pada paruh Juli 2015.

10. Membela mucikasi RA, Farhat justru menyalahkan sejumlah artis yang terlibat prostitusi.
Di antara ke-10 sensasi yang diperlihatkan Farhat, tentu masih banyak sensasi yang tak sempat saya munculkan. Sensasi terakhir, paska perceraiannya dengan Nia Daniati, lalu kemudian perseteruannya Ahmad Dhani, dan Regina Andriane Saputra alias Regina, adalah sensasi mengenai video dan foto-foto pernikahan siri Farhat-Regina.

Sekali lagi, tak ada prestasi dari seorang Farhat Abbas. Meski begitu, sosok calon Presiden alternatif pada Pemilu 2014 lalu ini “disenangi” oleh para pekerja infotainmen. Betapa tidak, sensasi-sensasinya meramaikan paket berita seluruh infotainmen di tanah air. Para penonton yang “membenci” Farhat, “terpaksa” atau “dipaksa” menonton berita yang tak penting ini. Sementara, ibu-ibu, para pembantu, dan penikmat infotainmen lain mau tak mau “menikmati” tayangan sensasi itu.

Benci tapi rindu. Di satu sisi “benci” Farhat, tetapi pada kenyataannya penonton “merindukan” tayangan berita mengenai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Demokrat yang gagal ini.Farhat menjadi idola ibu-ibu "sedunia", begitu kicau teman saya di twitter.

Para pekerja infotainmen pun begitu. Ada rasa benci, tetapi rindu. Mereka pasti “mau muntah” membuat paket berita mengenai Farhat. Tetapi apa boleh buat? Sensasi Farhat “cukup membantu” mengisi paket gosip di acara infotainmen, sebelum ada berita gosip dari artis yang lebih hot. Jadi, sensasi Farhat ada semacam simbiosis mutualisme atau kedua belah pihak saling mendapatkan keuntungan.

Jumat, 09 Oktober 2015

ISTIRAHATLAH SEJENAK SOIMAH...

Tak ada yang menyangkal, Soimah adalah artis multitalenta yang Indonesia miliki saat ini. Setidaknya terbukti, sejak pertama kali muncul di acara televisi, yakni Seger (ANTV) pada paruh 2011, tawaran menjadi host di beberapa televisi mengalir. "Karir" menjadi sinden di Jogja Hip Hop Foundation, yang melambungkan dirinya, terpaksa ditinggalkan.

Tak kurang dari +Showimah TransTV, Comedy Project, +Indonesia Mencari Bakat 2014, Yuk Kita Sahur, Yuk Keep Smile, Sahurnya Ramadan, Ngabuburit, Lenong Rempong (Trans TV), Sedap Malam (ANTV), So Sempruul (SCTV), maupun D' T3rong Show, +D Academy 3 Indosiar "Indonesia", Bintang Pantura, Q' Academy, dan Stand Up Comedy Academy (Indosiar) memakai jasa Soimah. Tak heran, perempuan yang sempat menjuarai Lomba Bintang Karaoke Dangdut se-Jateng-DIY, juara 1 Bintang Televisi, dan juara Dara Ayu ini sibuk berat.

Kesibukan Soimah membuat dirinya hanya punya waktu sedikit untuk istirahat. Sebetulnya kondisi ini sangat berpengaruh pada penampilannya di layar televisi. Malam ini, di acara Bintang Pantura, saya merasa terganggu dengan kantung mata Soimah. Barangkali banyak penonton tak peduli dengan apa yang menganggu saya. Maklumlah, di Bintang Pantura, Soimah masih tetap memberikan kelucuan. Aktraktif dan interaktif dangan host-host lain. Namun, make up tak bisa menutupi kantung mata Soimah. Nampak sekali, komedian perempuan ini kurang istirahat.

Ngejar setoran? Ah, entahlah. Saya hanya bisa menyarankan pada Soimah, agar beristirahatlah sejenak. Tak perlu ngoyo mengambil job. Mungkin sekarang masih merasa sehat, tetapi tak ada yang tahu kondisi akan "tumbang". Toh, kalo "tumbang", yang rugi bukan cuma Anda Soimah, tetapi para penggemar Anda di televisi.  




Senin, 05 Oktober 2015

Tayangan Berita di Media Sosial



Lain Negara, lain kebiasaan.  Setidaknya ini tergambar pada penonton televisi di Eropa. Pertumbuhan media sosial di Eropa saat ini ternyata berdampak pada kebiasaan menonton yang sebelumnya. Jika di Indonesia jumlah penonton siaran televisi yang menggunakan “media tradisional” (baca: pesawat televisi) masih banyak, di Eropa justru sebaliknya.

Majalah EuroMedia pernah meneliti mengenai kebiasaan tersebut pada paruh 2013. Hasil penelitiannya dilaporkan dalam edisi Maret-April 2013 melaporkan. Bahwa saat itu dan sampai kini di Eropa penonton lebih suka mengakses tayangan acara dari berbagai perangkat. Terutama dalam mengkonsumsi tayangan berita.

Riset yang dilakukan Pew Research Center selama kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2012 menunjukkan, sebagian besar orang AS bergantung pada beberapa media untuk mendapatkan informasi politik. Lebih dari 12% pengakses berita politik mendapatkan via online, terutama dari Facebook. Angka tersebut naik lebih dari dua kali lipat 6%. Lalu mereka yang menggunakan jaringan sosial Twitter juga naik dua kali lipat menjadi 4%. 

Penelitian terpisah yang dilakukan oleh Proyek Pew Research Center untuk Exellence dalam Jurnalisme (PEJ) bekerjasama dengan The Economist Group, juga menemukan, bahwa 50% seluruh orang dewasa AS kini memiliki koneksi mobile ke web, yang bisa diakses melalui sebuah smartphone atau tablet. Gedget ini telah mereka gunakan secara tertarur lebih dari satu tahun lalu. Jelas, fakta ini menunjukan bahwa, mereka lebih suka mengakses berita via media sosial.  Oleh karena itu, kini para pemilik media banyak melakukan terobosan, yakni menggantikan teknologi lama, pengenalan perangkat baru dan format adalah menciptakan tayangan berita jenis baru via berbagai sosial media. 

Riset Proyek Pew Research Center juga menemukan, 54% orang mengakses berita via tablet, 77% orang mencari berita via desktop  atau laptop, dan masih 50% orang yang mencari berita via media cetak. Di antara pengguna smartphone, 75% orang mendapatkan berita dari laptop atau desktop dan 28% mengakses berita via tablet.

Menurut James Montgomery, koordinator digital dan teknologi berita BBC, stasiun televisi tetap memanjakan penonton televisi. Mereka sadar, bahwa penonton sekarang ini mengkonsumsi berita dalam banyak cara baru dan berbeda-beda, baik melalui media sosial dan gadget seperti smartphone dan perangkat tablet.

"(Oleh karena itu) BBC memiliki strategi 'empat layar', menyediakan konten di internet yang terhubung TV, komputer, tablet dan smartphone," ujar James.


cc +metrotvnews +TvOneNews +Liputan6.com +Kompas TV +Rcti Official +MNC TV 


Stand Up Comedy Academy Indosiar: No Blue Material Please



Boleh dibilang, Kompas TV menjadi televisi pertama yang membuat kompetisi yang memilih komika stand up comedy terbaik di televisi. Melalui acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), Kompas TV memilih komika-komika terbaik di Indonesia.  Sampai dengan 2015 ini, SUCI baru saja menyelesaikan musim kompetisi yang ke-5, dimana berhasil mengukuhkan Rigen -komika asal Bima, NTB- sebagai juara pertama.

Adalah Pandji Pragiwaksono yang pertama kali mencetuskan acara SUCI. Gagasan pria ini kemudian disambut baik oleh Indra Yudhistira, yang kebetulan saat di Kompas TV menjabat sebagai Direktur Program dan Produksi. Meski bukan sebagai pencetus, nama Indra ditulis oleh Pandji di blognya sebagai salah seorang yang turut berjasa "membumikan" stand up comedy di tanah air, selain Warkop DKI, almarhum Taufik Savalas, Ramon Papana, Iwel Wel, Raditya Dika, dan Agus Mulyadi dari Metro TV.
 
Setelah beberapa tahun di Indosiar, rupanya Indra “gerah” ingin menggarap acara yang melibatkan komika-komika tanah air. Bukan sekadar show sebagaimana Metro TV, tetapi konsepnya kompetisi sebagaimana SUCI. Lalu, kata “academy” yang sudah menjadi brand acara-acara kompetisi di Indosiar pun diambil. Walhasil, lahirlah  Stand Up Comedy Academy. Apakah Stand Up Comedy Academy bisa menyangi SUCI (Kompas TV) atau Stand Up Comedy Show (Metro TV)? 



Jujur, cukup berat menjawab pertanyaan tersebut, tetapi barangkali saya bisa menganalisa. Namun, sebelum saya menyampaikan analisa, ada baiknya saya ajak Anda berkilas balik terlebih dahulu. Sebelum Stand Up Comedy Academy, Indosiar sudah membuat acara yang menggunakan nama ‘academy’. Terakhir adalah D’Academy. D’Academy adalah ajang pencarian bakat penyanyi dangdut. Acara yang pertama kali tayang pada 3 Februari 2014 ini sempat “mengalahkan” rating-share Indonesian Idol yang dirilis AC Nielsen. 

Saat dua acara ini mengadakan pertunjukan pada akhir Februari 2014. Konser Nominasi D’Academy meraih rating 4.8 dan share 19.9%, sementara Indonesian Idol hanya meraih rating 3.4 dan rating 17.5%. “Keberhasilan” D’Academy kabarnya karena racikan antara drama di ajang kompetisi dan komentar juri, ada juga unsur infotainment yang dimasukkan di acara ini.

Saya tak perlu lagi mengomentari drama pada kompetisi dan komentar juri, karena Anda pasti sudah tahu mengapa jadi menarik. Penulis cuma berkomentar mengenai unsur infotainment yang menjadi kekuatan show acara D’Academy. Di ajang ini, para Host diminta untuk mengungkap kehidupan pribadi para peserta sampai sang juri. Bukan kehidupan prestasi, tetapi gosip-gosip ala infotainment. Meski terlihat out of topic dari konsep sebuah acara pencarian bakat, tapi unsur infotainment seperti itu justru disukai para penonton.

Jauh sebelum D'Academy, ada Akademi Fantasi Indosiar (AFI). AFI bukanlah produk asli in house Indosiar. Ajang pencarian bakat menyanyi ini diadaptasi dari acara La Academia di Meksiko. Setelah sukses tayang di Malaysia, Le Academia diadaptasi di Indonesia dengan nama AFI.

AFI 1 dan AFI 2 berhasil meraih kesuksesan. Setidaknya terlihat dari perlehan rating di Grand Final AFI 1 yang meraih TVR 18.7 dan share 50,4%. Artinya, ada 50-an persen penonton televisi yang menyaksikan Grand Final AFI 1. Sementara Grand Final AFI 2 meraih TVR 18.9 dan share 54%. Namun, perolehan gila-gilaan tersebut tak terjadi lagi di AFI 3, 4, dan seterusnya. Meski sejak AFI ke 3 sudah tak sesukses dengan AFI 1 dan 2, Indosiar tetap mencari peruntungan dari ajang pencarian bakat ini. Ratingnya tak mampu mengalahkan Indonesian Idol maupun The Voice.

Kini, Indosiar bakal mencari peruntungan baru lagi, dengan membawa nama ‘academy’, yakni Stand Up Comedy Academy. Memang, kesuksesan yang diraih D’ Academy atau “keterpurukan” AFI tak bisa dibandingkan dengan Stand Up Comedy Academy. Kenapa? Meski berkonsep kompetisi, tetapi ketiga acara ini beda segmen. Namun, Indosiar sangat berpeluang meraih penonton. 

Analisa pertama, saya mengambil daily audience share market all AC Nielsen yang dimiliki Indosiar. Saat ini televisi yang bermarkas di Daan Mogot, Jakarta Barat ini sangat baik. Data per 4 Oktober 2015 ini, Indosiar memiliki share (TVS) 15,4 dan berhak menduduki televisi swasta nasional nomer 2. Indosiar bersaing ketat dengan SCTV yang sempat berada di peringkat ke-1 dengan perolehan TVS 17,5. Sementara RCTI cuma maraih TVS 12,7. 

Tayangan D Academy 2 yang tayang pukul 18:22-23:59 WIB sangat membantu mengambil penonton televisi dari televisi pesaing (baca: SCTV) yang banyak menayangkan sinetron. Melihat potensi penonton cukup besar, Stand Up Comedy Academy jelas sangat berpeluang meraih kesuksesan merebut penonton.

Analisa lain, komika yang muncul di Stand Up Comedy Academy sebagian besar adalah “lulusan” SUCI atau pernah tampil di Stand Up Comedy Show Metro TV. Artinya, para komika ini sudah punya banyak penggemar. Sebut saja Yudha Keling, Benedicktivity, Newendi, Ricky Wattimena, maupun Lolox.



Stripping juga menjadi indikator Stand Up Comedy Academy dalam menjaga konsistensi penonton. Sebagaimana sudah dijadwalkan, acara ini ditayangkan stripping setiap Senin sampai Kamis. Tak seperti kompetisi yang biasa Indosiar tayangkan, Stand Up Comedy Academy ini tidak ditayangkan secara live. Taping dilakukan di studio 1 Indosiar di Daan Mogot. Sebagian dari Anda pasti sudah tahu kenapa tidak live? Meski tidak live, konsepnya tetap live on taped. Bagi Anda yang belum kenal dengan istilah live on taped, itu artinya melakukan rekaman sebagaimana melakukan siaran live, yakni dengan durasi tepat, lalu tanpa ada retake atau diedit lagi.

Barangkali sebelum mengakhiri tulisan, saya dan sejumlah penikmat stand up comedy berharap, kompetisi di Stand Up Comedy Academy ini akan melahirkan komika-komika yang cerdas. Maksudnya cerdas adalah: materi tetap lucu dan bikin "pecah", tetapi tanpa blue materials, khususnya materi SPA: Seks, Pornografi, dan Agama. Setidaknya pesan saya untuk para mentor dan juri yang akan memilih komika terbaik di Stand Up Comedy Academy ini. Mentor yang dimaksud antara lain komika senior Arief Didu dan Mosidik. Lalu juri-jurinya adalah Abdel, Soimah, dan Eko Patrio yang menjadi juri tetap. Sementara juri tamu, yakni Pandji, Raditya Dikka, dan Ernest Prakasa.

Seks yang saya maksud adalah "seputar selangkangan" maupun anggota tubuh perempuan yang sensitif. Sementara pornografi mengulas masalah hubungan intim, misalnya. Terakhir tentang agama. Beberapa kali saya menyaksikan ada komika yang secara vulgar mengolok-olok mengenai ayat al-Qur'an, tata cara sholat, maupun pakaian wajib seorang muslimah. Agama seharusnya bukan jadi bahan guyonan. 

Pertanyaannya: mungkinkah membuat seorang komika "pecah" tanpa materi SPA? Harusnya mungkin. Sebab, beberapa komika -yang tak perlu saya sebut namanya- sudah membutikan itu. Mereka tetap lucu, memiliki materi cerdas, tetapi tidak menampilkan materinya vulgar yang menyinggung seks, pornografi, maupun agama. Saya yakin, di Stand Up Comedy Academy, Indonesia akan punya komika-komika yang seperti itu.

sumber foto: twitter Pandji Pragiwaksono

Senin, 21 September 2015

DUA MUSIM HIJRAH DI STASIUN TELEVISI

Dalam dunia televisi, ada dua musim hijrah besar-besaran. Hijrah yang dimaksud di sini adalah pindah dari stasiun televisi A ke stasiun televisi B. Menjelang dua musim, HRD stasiun televisi pasti berhadapan dengan sejumlah karyawan yang mengajukan surat pengunduran diri. Oleh karena sudah “rutin”, menjelang dua musim hijrah, para Manager sibuk atur strategi dalam mengelola SDM. Hal tersebut dilakukan agar operasional televisi tetap berjalan.

Musim hijrah pertama terjadi paska Idul Fitri. Bagi karyawan stasiun televisi, momentum “terlahir kembali” setelah menjalankan ibadah puasa dimanfaatkan untuk bekerja di stasiun televisi baru. Menjelang puasa, karyawan sudah mengajukan surat pengunduran diri. Kenapa sebelum puasa? Sebab, ada istilah one month notice atau pemberitahuan satu bulan sebelum mengundurkan diri.

Barangkali Anda tahu, mengapa paska Idul Fitri menjadi musim pertama para karyawan hijrah. Yup! Anda benar! Para karyawan yang mengundurkan diri masih tetap mendapatkan hak mereka di stasiun televisi lama, yakni Tunjangan Hari Raya (THR). Lumayanlah, sebelum goodbye, masih mendapatkan THR satu bulan gaji. Angka segitu belum ditambah uang pesangon atau jasa yang perkaliannya tergantung dari masa kerja.

Di musim pertama ini, sejumlah news anchor ramai-ramai ke +CNN Indonesia (CNN Indonesia). Nama-nama news anchor yang sudah tak asaing lagi bakal menghiasai layar CNN Indonesia. Mereka adalah dua mantan tvOne: +alfito deanova dan Elvira Khairunnisa. Lalu dari +Metro TV: Dessy Anwar dan Eva Julianti. Prabu Revolusi yang sempat di Metro TV dan baru satu tahun ini di Rajawali Televisi (RTV) juga hijrah ke CNN. Selain nama-nama news anchor, tentu saja banyak Produser maupun Production Asisstance (PA) dari stasiun televisi lain hijrah. Stasiun televisi yang masih di bawah Trans Corp ini sendiri akan meresmikan siarannya bertepatan dengan HUT RI ke-70 pada 17 Agustus 2015 mendatang.

Musim hijrah kedua terjadi paska Tahun Baru. Sebagaimana paska Idul Fitri, mereka yang hijrah paska Tahun Baru merasa momentumnya tepat. Tahun Baru, stasiun televisi baru, suasana baru, tantangan baru. Namun, tentu saja selain hal-hal yang baru tersebut, ada alasan lain yang tak kalah stategis, yakni bonus.
Di akhir atau awal tahun baru, biasanya stasiun televisi akan memberikan bonus. Memang, soal bonus, stasun televisi tak berkewajiban memberikan. Bonus adalah kebijakan perusahaan yang bersangkutan. Nilainya pun beragam. Ada yang berdasarkan kebijakan, tak sedikit pula stasiun televisi memberikan bonus berdasarkan performa kerja masing-masing karyawan. Mereka yang punya “rapor” bagus, bonusnya besar. Sebaliknya, karyawan yang biasa-biasa saja, bonusnya tentu akan kecil. Kecil atau pun besar, tetap saja ada sejumlah uang yang ditransfer di rekening si karyawan.

Wajarkah mereka hijrah? Jelas wajar. Selama stasiun televisi tersebut memberikan benefit di atas stasiun televisi sebelumnya, si karyawan tentu akan memilih hijrah. Apalagi, lingkungan kerja stasiun televisi sudah tidak nyaman lagi, atasan tidak satu visi, terlalu banyak janji, terlalu menekan dan membuat karyawan demotivasi, atau sistem promosi tidak berjalan dengan baik, barangkali juga gaji tidak sesuai dengan produktivitas yang dilakukan, dan masih 1001 alasan lagi yang membuat seorang karyawan lebih suka berhijrah.

Di buku-buku maupun di tulisan-tulisan saya sebelumnya, saya selalu memberikan motivasi soal hijrah ini. Mumpung masih “laku”, lebih baik Anda hijrah ke perusahaan lain, kalo memang alasan-alasan seperti yang saya sudah sebutkan di atas ada pada diri Anda. Ingat! Rezeki bukan cuma ada di tempat Anda bekerja sekarang ini. Terlebih lagi bagi Anda yang masih muda (baca: baru sekali kerja di stasiun televisi). Berkarya jangan cuma di satu tempat, tetapi gali pengalaman di tempat lain. Jangan pernah berada di zona nyaman, hingga sampai bertahun-tahun di tempat yang sama.

PHK DI TELEVISI SWASTA

Suka tak suka ekonomi kita saat ini sedang melambat. Dari data yang penulis peroleh, perekonomian kita hanya tumbuh 4,7 persen di kuartal II pada 2015 ini. Tak heran, banyak investor yang menunggu dan melihat (wait and see) mengenai kondisi ekonomi. Sementara para pengusaha berusaha memutar otak agar perusahaan mereka tetap eksis. Saking ingin eksis, saat menjelang lebaran 2015 ini, di antara para pengusaha tersebut terpaksa melanggar aturan terkait pembayaraan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja. Setidaknya hal tersebut dikatan sendiri oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.

Dari rincian pelanggaran, diketahui, ada perusahaan yang THR-nya tidak mencapai satu bulan gaji. Ada pula THR hanya diganti dalam bentuk benda atau makanan dan minuman.

Di dunia televisi, penulis tidak mendengar pelanggaran terkait THR. Namun tahukah Anda, dampak dari perekonomian Indonesia kini? Diam-diam ada televisi swasta yang mulai mengurangi karyawan (baca: PHK) sebelum dan sesudah Idul Fitri 2015 ini.

Berita soal PHK ini memang tak begitu terdengar santer. Tidak seperti ketika berita PHK di SCTV dan Indosiar pada 2013. Kala itu PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) akan bergabung alias merger dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Silahkan baca tulisan Serikat Pekerja SCTV: http://www.kompasiana.com/spsctv/musim-phk-segera-tiba-di-sctv-indosiar_552c62f16ea83442058b457a). Kenapa tidak santer? Sebab, gelombang PHK di stasiun televisi pada 2015 ini tidak massal. Penulis tak ingin membocorkan lebih detail stasiun televisi mana yang sudah mengurangi jumlah karyawan. Yang pasti, di antara karyawan stasiun televisi ini, ada nama news anchor terkenal yang masuk ke dalam gelombang pengurangan pegawai.

Gelombang PHK besar di stasiun televisi bisa saja terjadi jika perekonomian makin buruk dan nilai dollar semakin tinggi. Betapa tidak, saat ini ada stasiun televisi yang masih berhutang dan nilainya tidak sedikit. Televisi ini berhutang dengan menggunakan dollar. Jadi, Anda bisa bayangkan, betapa berat televisi yang berhutang ini jika harus membayar kewajiban hutan dengan dollar, sementara pendapatannya dari iklan dengan nilai rupiah. Semakin berat jika keuangan televisi ini tidak perform atau pendapatannya per bulan tidak cukup membiayai operasional siaran. Jalan satu-satunya dan mau tak mau adalah dengan cara mengurangi karyawan. Ah, semoga saja tak terjadi.

RTV MENCARI CEO

Di dunia pertelevisian nasional, nama Maria Goretti Limi Xu memang tak dikenal sebagaimana Ishadi SK atau Alex Kumara. Juga tak sepopuler Wishnutama atau Suryopratomo. Empat nama pria tersebut sudah dikenal malang melintang di dunia pertelevisian. Bahkan saat ini Wishnutama dan Suryopratomo masih aktif di struktur direksi. Jika Tama –panggilan +Wishnutama Kusubandio- duduk sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Net Mediatama yang mengelola Net TV, Tommy- panggilan Suryopratomo- tercatat sebagai Direktur Pemberitaan +metrotvnews.

Namun, di dunia media, nama Limi –begitu panggilan +Limi Maria Goretti- sudah malang melintang selama kurang lebih 20 tahun lebih. Latar belakangnya adalah seorang sales marketing. Ia pernah duduk di jajaran direksi di +TvOneNews dan +ANTV Wow Keren. Namanya makin dikenal begitu menjabat sebagai CEO Rajawali Televisi (RTV) pada 2013.

Limi masuk RTV saat televisi milik Peter Sondakh masih bernama B Channel. Dalam kisahnya, ketika awal masuk, Limi ditargetkan dalam tiga bulan harus melakukan rebranding. Sebelum resmi menggunakan nama ‘Rajawali Televisi’, ia menggunakan jasa konsultan. Konsultan ini sempat mengusulkan sejumlah nama, mulai dari Singa TV, Andromeda TV, Spekta TV, Komodo TV, dan beberapa nama lain. Hasilnya yang dipilih adalah +RAJAWALI TELEVISI - LANGIT RTV atau disingkat RTV sesuai dengan holding company-nya, yakni Rajawali Group.

Berkat Limi dan tim, lambat laun RTV sudah muncul awareness-nya. Namun, kerja keras Limi dan tim selama 20 bulan sebelum rebranding tak akan dirasakan lagi “kenikmatannya”. Awal September 2015 lalu, perempuan ini mengundurkan diri sebagai CEO RTV. Banyak spekulasi yang beredar mengenai pengunduran dirinya. Ada spekulasi yang mengatakan, ia undur diri, karena dianggap tak mampu dibebankan target dalam hal pendapatan iklan di RTV. Spekulasi lainnya, Limi tak klop bersinergi dengan “seseorang” yang dianggapnya sombong dan seolah-olah paling tahu industri media, padahal baru masuk industri media 2-3 tahun. Setidaknya hal ini terlihat dari status di akun Facebook pribadinya.



Individu yang bekerja di media juga harus memiliki idealisme, karena media memegang peranan penting bagi stabilitas dan keamanan suatu negara. Hal ini yg menyebabkan pimpinan media harus matang secara mental dan spiritual serta memiliki kebijaksanaan dalam bertindak.

Media menjanjikan dunia yang glamour dan ketenaran, justru bagi yang belum ‘matang’ akhirnya terjebak dengan arogansi dan kesombongan. Sangat mudah bagi seseorang utk masuk ke industri media terutama televisi, akan tetapi seberapa lama mereka bisa bertahan?

Bandingkan dengan anak muda yg baru masuk industri media yg baru 2-3 tahun, tapi seolah-olah yang paling tahu industri ini. Kemudian langsung merasa bangga karna bisa berkenalan dengan pejabat penting, merasa lingkungan pergaulannya sudah beda dibandingkan dengan teman-temannya. Muncul rasa pongah. Lantas bagaimana sikapnya jika para senior berkumpul, akhirnya hukum alam berbicara. Orang tersebut akan tersisihkan dengan sendirinya.”

Kini, sejak Limi mengundurkan diri, posisi CEO RTV diisi oleh Satrio. Pria ini bukanlah broadcaster atau berlatar belakang dari industri media. Ia adalah tangan kanan dari pemilik RTV, yakni Peter Sondakh. Nama Peter sendiri tentu bukan nama baru di dunia pertelevisian. Bersama Bimantara, di bawah Rajawali Group, ia membangun RCTI dari 1989 hingga 2000.

Satrio adalah seorang yang berlatar belakang sebagai auditor. Ia pernah bekerja di Pricewater House. Sebetulnya Satrio bukanlah orang baru di RTV dan baru masuk saat Limi resign. Pria lulusan +Harvard University ini sudah ada sejak B Channel bersiaran. Jasanya tidak sedikit. Satrio lah yang mengurus seluruh perizinan hingga RTV bisa dinikmati siarannya di 33 kota.

Namun, pria yang baru berusia 33 tahun ini hanya sebagai CEO sementara. Saat ini RTV sedang mencari CEO pengganti Limi. Siapakah? Akankah orang yang duduk di posisi tinggi tersebut berasal dari kalangan senior broadcaster atau industri media?

Kamis, 17 September 2015

DARI MTGW KE SUPERONE

Teka-teki stasiun televisi penayang motivator Mario Teguh akhirnya terjawab sudah. Begitu kelar berkolaborasi dengan Metro TV per September 2015 lalu, seluruh penggemar Mario Teguh sempat dibuat penasaran kemana sang idola mereka akan berlabuh. Televisi teresterial kah? Televisi berjaringan? Atau barangkali televisi berlangganan?

Namun, sebuah poster telah dipublikasikan ke publik. Selain foto diri sang motivator, di poster ini lengkap dengan judul program baru dan jam tayang. Kalau di Metro TV memakai judul Mario Teguh Golden Way (MTGW), judul baru acara Mario Teguh kali ini SUPERONE.

Sebuah talkshow interaktif pengembangan diri yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi kehidupan pemirsa. Menghadirkan tema-tema aplikatif dari kehidupan sehari-hari..

Begitulah bunyi serangkaian kata-kata untuk acara baru Mario Teguh, yakni SUPERONE. Dari judul acara tersebut, Anda pasti sudah bisa menebak, stasiun televisi yang menayangkannya.

BENAR! Mario Teguh kini hadir di tvOne. Spekulasi penayangan selama ini akhirnya sudah terjawab. Mulai minggu depan, Anda sebagai penonton setia Mario Teguh mulai memantengkan kanal Anda ke stasiun televisi yang sebagian besar sahamnya masih dimiliki Bakrie Group ini. Sebetulnya, jika Anda penggemar Mario Teguh yang pernah menonton studio di Grand Studio Metro TV, minggu lalu sempat diundang pihak managemen Mario Teguh pasti sudah tahu. Sebab, kabarnya syuting SUPERONE sudah dilakukan bulan lalu.

Entah apa alasan Mario Teguh hijrah ke televisi pesaing Metro TV ini. Ada yang mengatakan, jangan-jangan info ini cuma hoax. Hoax atau bukan, kabarnya acara SUPERONE ini pun “memakai slot “ saat MTGW masih tayang di Metro TV, yakni setiap Minggu pukul 19:00-20:30 WIB. Saat di Metro TV, slot tersebut berhasil meraih jumlah rating-share yang luar biasa. Bahkan beberapa kali ada acara di televisi kompetitor, rating-share MTGW masih tetap unggul.

Nah, apakah SUPERONE mampu mempertahankan kedigdayaan Mario Teguh sebagaimana saat di MTGW dulu? Lalu, apakah slot yang “dimanfaatkan” tvOne akan meraih kesuksesan yang sama dengan Metro TV? Cukup menarik untuk kita ikuti perjalanan karir Mario Teguh ini, termasuk mengetahui info ini hoax apa bukan.

Salam Super!

Senin, 14 September 2015

TELEVISI MANA IKUT JEJAK BLOOMBERG TV?

Begitu mendengar Bloomberg TV akan membuka “cabang” di tanah air, sejumlah orang langsung meramalkan, stasiun televisi berita yang sudah eksis akan “goyang”. Stasiun televisi berita yang dimaksud tak lain adalah Metro TV dan tvOne yang masih jadi “pemain utama” di jalur televisi berita. Diramalkan, dua stasiun berita ini bakal kehilangan separuh penonton. Betapa tidak, Bloomberg TV sudah cukup tersohor di negara asalnya.

Bloomberg TV menjadi satu-satunya televisi yang menayangkan berita mengenai dunia ekonomi dan bisnis selama 24 jam. Televisi ini didukung oleh jaringan internasional Bloomberg yang terdiri dari 2.300 jurnalis profesional. Mereka tersebar di 146 biro dan 72 negara. Menurut data, jaringan televisi ini disiarkan ke lebih dari 330 juta rumah tangga di seluruh dunia. Luar biasa bukan?

Makin heboh ramalannya, kondisi Metro TV dan tvOne bakal “goyang”. Bagai kapal kehilangan nahkoda, begitu tersiar kabar, beberapa SDM di dua televisi ini hijrah ke Bloomberg TV. Operasional redaksi bakal timpang. Maklumlah, SDM yang hijrah ke Bloomberg TV kebanyakan senior, termasuk dua newsanchor model Kania Sutisnawinata dan Tommy Tjokro.

Namun ramalan tersebut tak terbukti. Metro TV dan tvOne ternyata masih tetap eksis. Justru yang “goyang” dan dikabarkan akan bangkrut adalah Bloomberg TV. Kabar secara resmi menginfokan terjadi PHK. Padahal, usia televisi yang menyiarkan informasi bisnis 24 jam pertama di Indonesia ini baru seumur jagung, yakni 2 tahun. Bloomberg TV tayang perdana 11 Juli 2013.
Apa yang menyebabkan Bloomberg TV “goyang”?

Jawabannya "sederhana" dan Anda pasti bisa menerka. Apakah Anda bisa leluasa melihat tayangan Bloomberg TV di pesawat televisi Anda di rumah? Sebagian besar dari Anda pasti menjawab: tidak.
Yup! Bloomberg TV bukan televisi teresterial sebagaimana Metro TV dan tvOne. Bloomberg TV hanya bisa dinikmati oleh pelanggan First Media, tepatnya di kanal nomer 13. Artinya, jika mau menonton Bloomberg TV harus berlangganan terlebih dahulu alias tidak gratis. Beda dengan Metro TV dan tvOne yang bisa Anda nikmati tayangannya tanpa bayar.



Sebetulnya, sebelum Bloomberg TV dikabarkan bangkrut, ada televisi lain yang diam-diam juga “sempoyongan”, yakni BeritaSatu. Seperti juga Bloomberg TV, kondisi yang menyebabkan BeritaSatu “sempoyongan” adalah, tidak semua orang bisa menyaksikan tayangan BeritaSatu. Penonton yang mau menyaksikan BeritaSatu harus berlangganan First Media atau Telkom Vision.

Padahal ketika sejumlah SDM dari Metro TV dan tvOne hijrah besar-besaran ke BeritaSatu, lagi-lagi banyak yang meramalkan akan “goyang”. Penonton boleh saja “terpecah-pecah”, tetapi sebagai stasiun teresterial yang bersiaran nasional dan gratis, Metro TV dan tvOne tetap menang.

Kompas TV sebetulnya juga sempat "sempoyongan". Memang, untuk menyaksikan televisi milik Kompas-Gramedia ini bisa gratis. Namun, kategori siarannya bukan teresterial seperti Metro TV dan tvOne, tetapi televisi berjaringan. Sistem televisi berjaringan adalah, bekerjasama dengan televisi-televisi lokal setempat, agar siaran si televisi berjaringan ini ingin ditangkap secara nasional.

Beruntunglah +BeritaSatuTV dan +Kompas TV masih punya kekuatan dana besar dari holding company mereka. BeritaSatu masih disokong oleh +Lippo Group, sementara dana KompasTV sebagian besar dari +Kompas Gramedia. Oleh karena masih ada bantuan besar, “nafas” BeritaSatu dan Kompas TV tidak kembang kempis sebagaimana Bloomberg TV. Jadi, siapa menyusul +Bloomberg TV?

Belakangan, kehadiran CNN Indonesia cukup menarik. Namun, kehadiran televisi milik Chairul Tanjung ini sebetulnya mengulang kehadiran BeritaSatu, kala BeritaSatu pertama kali hendak bersiaran pada 2011. Berlomba-lomba SDM +metrotvnews dan +TvOneNews resign dan hijrah ke BeritaSatu. Mereka tergiur dengan posisi dan tentu saja gaji yang besar. Ketika +CNN Indonesia buka lowongan dan merekrut SDM, peristiwa yang sama terjadi. Senior-senior broadcaster berlomba-lomba menuju ke Tendean, Jakarta Selatan.

Namun, sebagaimana BeritaSatu, Anda tak bisa leluasa melihat CNN Indonesia, jika tidak berlangganan televisi berlangganan (pay tv). Anda harus berlangganan TransVision terlebih dahulu baru bisa melihat wajah newsanchor tampan seperti Alfito Deanova, Indra Maulana, Prabu Revolusi, atau newsanchor cantik seperti Eva Julianti atau Elvira Khairunnisa.

Apakah kehadiran CNN Indonesia bisa "memecah" penonton televisi berita? Pasti. Sebelum ada CNN Indonesia pun penonton sudah "terpecah-pecah", terlebih lagi ada pesaing baru iNews *cc +iNewsTV - Jaringan Daerah*. Tetapi apakah kehadiran CNN Indonesia akan menggoyangkan dua stasiun televisi teresterial sebelumnya? Anda tahu jawabannya. Yang pasti, “nasib” CNN Indonesia masih jauh lebih aman dibanding Bloomberg TV. Ada +Trans Corp Channel, sang penyokong dana, yang sudah lebih dulu mengibarkan Trans TV *+TRANS TV Official* dan +TRANS 7 di jagat pertelevisian nasional.

EPISODE TERAKHIR MTGW DI METRO TV

Pacing Cinta

Itulah judul Mario Teguh Golden Way (MTGW) pada Minggu, 13 September 2015 lalu. Di episode itu Mario Teguh akan memaparkan perbaikan diri, agar kita lebih berkualitas dan disukai oleh orang lain. Sebagai manusia yang dianugerahkan keunggulan, terkadang kita memang malas untuk meningkatkan kualitas. Padahal, dengan meningkatkan kualitas, kita akan disukai oleh orang lain, termasuk oleh pasangan kita.

Episode Pancing Cinta yang di Metro TV pada pukul 19:30 hingga 21:00 WIB itu merupakan episode terakhir MTGW tayang di Metro TV. Kaget? Tak perlu, berita ini sudah penulis konfirmasi ke pihak MTGW dan juga Metro TV.

Kenangan saya saat syuting bersama Mario Teguh di Paris, Perancis beberapa waktu lalu


MTGW pertama kali ditayangkan di Metro TV pada Desember 2008. Sejak awal, MTGW menggunakan format ala seminar motivasi. Mario sebagai pembicara menjelaskan paparan sesuai tema. Lalu, di segmen berikut ada penonton yang bertanya. Segmen lain, Mario mengajak penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, untuk berperan melakukan polling. Ada tiga pertanyaan yang diajukan, para pemirsa tinggal menekan tombol alat polling yang sudah disediakan. Hasil polling ini akan dibahas di segmen berikut.

Program ini memiliki konsep inspiratif dan motivatif. Tema-tema yang diangkat setiap episode mayoritas terinspirasi dari problem hidup para penggemar setianya, yang selalu menuliskan kegalauannya via akun Facebook. Harap maklum, sampai September 2015 ini Facebook Mario sudah beranggotakan 16,2 juta. Hebatnya, anggota yang aktif di Facebook pun luar biasa biasa. Bayangkan, satu kali update status, yang memberikan "jempol" minimal 10 ribu. Jadi, sangat mudah mengukur tema-tema yang layak untuk ditampilkan

Selain terinspirasi dari Facebook, tema bisa juga berasal dari judul lagu atau kalimat-kalimat yang sedang happening. Sebagai contoh kalimat: Sakitnya Tuh Di Sini. Ada banyak kalimat gaul yang dijadikan judul: Aku Tuh Nggak Bisa Digituin, UN No Worries, Yang Bener Aja, Kebangetan, Jomblo Prinsip atau Nasib, dan masih banyak lagi. Mengambil tema atau kalimat yang lagi happening merupakan salah satu resep sukses MTGW hingga bisa bertahan selama 8 tahun. Selalu melakukan pembaharuan dengan mengikuti tren.

Belakangan pada 2014, konsep tema dan materi pembahasan MTGW berubah. Ia ingin membuat "penonton baru" dari kalangan muda. Tahu sendiri, penonton Metro TV berusia AB 40+ atau segmentasi kelas AB usia 40 tahun ke atas. Membentuk "penonton baru" menjadi strategi sukses MTGW lain. Meski usia sudah tak muda lagi, tetapi Mario pun coba meng-update dunia ABG. Selain tema, sejak 2014, tiap episode MTGW mulai menampilkan meme (biasa dibaca mim, adalah kumpulan gambar yang dicampur dengan tulisan atau sebaliknya). Walhasil, penonton MTGW bukan lagi para orangtua, tetapi juga pelajar dan anak-anak muda yang punya segudang masalah, mulai dari kegaulan, percintaan, bahkan tema-tema mengenai jomblo. Makin menarik dan mengambil banyak penonton muslim, di antara pembahasan, terkadang Mario menyisipkan kalimat-kalimat yang diambil dari al-Qur’an maupun Hadist.

Segmen curhat yang ada di beberapa segmen, membuat MTGW tetap mempertahankan kesuksesan hingga kini. Di antara 300 penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, tim Mario Teguh Super Crew (MTSC) -tim dari Mario Teguh- akan memillih beberapa orang penonton yang memiliki curhat sesuai dengan tema. Sebagian dari Anda yang menjadi penonton setia pasti tertawa mendengar curhat-curhat yang ditampilkan di MTGW, setidaknya tersenyum.

Tentu, kesuksesan MTGW memang tak bisa lepas dari kata-kata inspiratif Mario Teguh di tiap episodenya. Kata-kata ini muncul, tentu setelah sang motivator memberikan penjelasan sederhana atas problematika yang dihadapi penonton yang curhat di atas panggung. Sambil mendengar, sesekali Mario memancing pertanyaan pada penonton yang curhat agar berpikir dan menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Sampai akhirnya Mario yang menjelaskan problem dan memberikan solusi. Para penonton yang curhat ini pun mampu menangkap penjelasan sederhana tersebut oleh penonton.

Selama ini belum ada acara motivasi yang bertahan sebagaimana MTGW yang sudah 7 tahun. Jika ada acara yang saat ini sukses, boleh jadi, karena terdapat elemen lain, yakni pengisi acara atau narasumber yang berganti-ganti. Tentu saja dengan kehebatan pembawa acara atau newsanchor. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada MTGW. Acara ini cuma “mengandalkan” kekuatan Mario. Tak ada artis sebagai pengisi acara atau narasumber yang menjadi newsmaker yang diundang ke studio.

Terlepas dari kekuatan konsep yang dimiliki oleh MTGW dan juga Mario Teguh, tentu tak bisa lepas dari peran Metro TV yang menjadi lembaga penyiar acara inspiratif dan motivatif ini. Dengan tagline-nya knowledge to elevate, Metro TV berhasil menggangkat Mario menjadi sukses sekarang ini. Peran Metro TV tak bisa dianggap remeh. Ibaratnya, kemilau seorang Mario berhasil "diasah" di Metro TV. Tentu Anda tahu, sebelum di Metro TV, Mario sempat muncul di acara Business Art di O'Channel.

Namun sayang, kolaborasi Metro TV dan MTGW harus berakhir. Tepat pada Minggu, 13 September 2015 lalu, MTGW tayang untuk terakhir kali di Metro TV. Tentu saya tak akan menyebutkan kenapa kolaborasi ini berakhir dan ke televisi mana MTGW akan ditayangkan. Yang pasti, begitu kolaborasi ini berakhir, banyak spekulasi bernada pesimis dan optimis. Ada yang mengatakan, MTGW tak akan sukses jika tak tayang di Metro TV. Sebaliknya, ada yang secara optimis mengatakan, MTGW tetap akan besar dan ditonton banyak orang. Sebab, penonton televisi tak loyal pada satu stasiun televisi, tetapi pada acara. Mana pendapat yang benar, mari kita buktikan bersama.

Salam Super!

Sabtu, 05 September 2015

WA TEMAN SAYA SOAL BLOOMBERG TV

Pagi itu tiba-tiba ada what's app (WA) masuk ke handphone saya dari salah seorang teman. Sebut saja nama teman saya ini TBC.

Saya mengenal teman saya ini saat masih kerja di salah satu televisi nasional. Ia karyawan yang rajin dan sangat profesional di bidangnya. Ketika membaca WA-nya, miris sekali rasanya.
Berikut percakapan saya di WA tanpa di-lebay-lebay-in...



TBC:
Pak ada loker nggak?

Ombrill:
Lho, emangnya kenapa?

TBC:
Bloomberg udah mau tutup nih?

Ombrill:
Hah?! Serius?!

TBC:
Iya...
Gaji aja cuma dibayar 50%...

Ombrill:
Hah?! Serius gaji Bloomberg sekarang cuma dibayar 50%?

TBC:
Iye...

Ombrill:
Sejak kapan?

TBC:
Sejak Juli...

Ombrill:
Busyet!!!
Trus THR kemarin gimana? Ente dapat THR dong?

TBC:
Dapat, tapi dicicil...
Full, tapi dicicil

Ombrill:
Walaah!!!
Oh iya, ane denger ada PHK, bener nggak?

TBC:
Sudah...
Gimana pak, ada loker nggak?

Ombrill:
Loker belum dengar nih. Nanti kalo kebetulan dengar, saya kabari ya...


Begitulah sekelumit komunikasi saya via WA yang masih saya simpan sampai sekarang. Kasihan teman saya ini sekarang "mengemis-ngemis" minta lowongan kerja alias loker. Dan saya yakin, bukan TBC saja yang merasakan hal yang sama. Beberapa teman lain di Bloomberg juga sedang galau dengan nasibnya. Untung ada satu teman saya yang sudah buru-buru pindah ke stasiun televisi lain. Sementara ada dua news anchor yang saya kenal sudah kena PHK.

Sebetulnya tentang kebangkrutan Bloomberg TV bukan baru saja dengar sekarang ini saja. Beberapa bulan lalu sudah saya dengar, bahkan saya sempat membuat prediksi, "nafas" Bloomberg TV nggak akan lama. Ada satu ada dua tulisan yang pernah saya posting. Namun, soal gaji yang sekarang tinggal diberikan 50% dan THR dicicil baru akhir Agustus 2015 lalu saya dengar, ya lewat teman saya itu.

Ah, apapun yang sedang terjadi, saya berdoa kepada para pemilik dan semua karyawan tetapi diberikan  kemudahaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalo pemilik, diberikan kemudahan agar tidak terjadi huru-hara yang menyebabkan kerugian materi maupun non-materi. Sementara untuk karyawan-karyawannya, kelak mereka mendapatkan pekerjaan kembali sesuai dengan keinginan mereka. Aamiiin....