Profesi yang paling diminati di dunia broadcast adalah News Anchor. Menurut para mahasiswa komunikasi atau jurusan broadcast,
News Anchor sangat bergengsi. Selain bisa punya gaji tinggi,
popularitasnya bak selebriti. Makanya dalam satu kesempatan, saya sempat
diceritakan HRD, ada calon karyawan stasiun televisi yang bercita-cita
jadi News Anchor, tetapi alasannya ajaib: PINGIN TERKENAL!
Terkenal
tentu bagian dari hasil akhir. Namun sesungguhnya, buat menjadi News
Anchor tak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses panjang. Ingat!
News Anchor bukanlah News Reader atau selanjutnya kita sebut News
Presenter. Tugas News Presenter sekadar membacakan naskah berita yang
ada di teleprompter alias contekan yang berisi naskah berita. Profesi News Presenter bisa Anda lihat di banyak stasiun televisi.
News
Anchor itu tingkatannya jauh lebih tinggi dari News Presenter. Meski
seorang News Presenter sudah bertahun-tahun kerja di stasiun televisi,
iabelum layak disebut sebagai News Anchor jika belum turun ke lapangan,
mengenal banyak narasumber, tahu cara memproduksi berita, maupun menulis
naskah. Tak heran, untuk bisa sampai menjadi News Anchor, wajib menjadi
Reporter terlebih dahulu.
“WAJIB HUKUMNYA,” ujar Jeremy Teti.
Menurut
Jeremy, calon Anchor wajib mengawali karir di lapangan terlebih dahulu.
Setelah matang di lapangan, baru karyawan stasiun televisi ini diaudisi
lagi buat menjadi News Reader. Tentang matang di lapangan, juga
diamini oleh Catharina Davi, News Anchor RCTI periode 2002-2006.
“Dengan
matang di lapangan, dia (Anchor) nggak terlalu mengandalkan baca
promter. Makanya kalo Breaking News, yang diandalkan adalah News Anchor
bukan News Presenter,” ujar perempuan cantik yang akrab disapa Keket ini.
News
Anchor idealnya bukan cuma baca teleprompter atau naskah. Menurut Tita,
Anchor ANTV periode ini, ia harus ‘menjiwai’ apa yang dibacakan. Jika
tidak pernah terjun ke lapangan, ‘soul-nya’ tidak akan dapat. Tita
mencontohkan, ketika ada yang salah pada naskah, mereka yang matang di
lapangan tidak akan membacakan naskah yang salah itu.
“Secara alamiah, Anchor akan mengoreksi naskah salah itu,” ujar Tita yang pernah membawakan program berita andalan ANTV, Cakrawala pada 2004 ini.
Soal
Akil Mochtar yang lagi rame ini, misalnya. Jabatan terakhirnya adalah
Ketua Mahkamah Konstitusi alias MK. Tapi kebetulan naskah salah ketik,
menjadi Ketua MA. Jika seorang News Presenter yang cuma baca naskah
saja, ia pasti gelegapan. Namun jika berita tersebut dibacakan Anchor,
pasti langsung mengkoreksi akronim MA menjadi MK.
“Atau
hal-hal kecil yang bisa dikoreksi, secara Anchor pengetahuannya harus
luas. Pengetahuan luas itu cuma bisa didapat dari membaca dan pengalaman
turun ke lapangan, terlibat dalam proses peliputan,” papar Tita.
Seorang
News Talent Manager salah satu televisi berita juga berpendapat sama,
bahwa Anchor harus punya pengalaman menjadi Reporter. Sebab, jika
langsung siaran, ia tidak akan mengerti apa-apa. Mengerti proses
produksi berita, misalnya.
“Menurut gue, the only way to move up is from the bottom,” papar News Talent Manager ini. “Dengan begitu, pemahaman dan wawasan si presenter akan lebih matang. Networking juga jadi terjaga”.
Jenjang karir yang ideal, menurut Tita, berawal dari Reporter, lalu Stand Upper, dan akhirnya menjadi Anchor. Kenapa harus melewati Stand Upper lagi? Sebab, ketika live report di lapangan, pengalaman menjadi Stand Upper sangat mematangkan calon Anchor.
“Mereka yang biasa menjadi Stand Upper nggak akan ada ‘dead air’ ketika talkshow di studio,” ujar Tita, Anchor ANTV seangkatan Faried, Tengku Fiola, dan Rahma Alia ini.
Dead air yang dimaksud, situasi dimana Presenter gelegapan, bingung mau bertanya apa lagi, atau kehabisan bahan pertanyaan pas on air. Tak heran, mereka yang dipilih membawakan program news talk show, biasa atau pernah menjadi Stand Upper. Dengan berbekal pengalaman menjadi Stand Upper, Anchor terbiasa improvisasi. Tak tergantung feeding-an dari Produser atau Pemimpin Redaksi (Pemred) dan tidak kaget di-kick oleh narasumber.
Sebelum akhirnya menjadi Anchor RCTI di program Nuansa Pagi, Buletin Siang, Seputar Indonesia, dan Buletin Malam
ini, Catharina ‘diceburkan’ ke lapangan untuk meliput berbagai
peristiwa. Bukan cuma dirinya yang diperlakukan seperti itu,
Anchor-Anchor senior RCTI seperti Dana Iswara, Helmy Yohanes, Adolf
Pusaumah, dan juga Dessy Anwar lebih dulu menjadi Reporter dan
menyandang predikat sebagai TV Jurnalis.
Menurut
Catharina, dengan menjadi Reporter dulu, seorang Anchor akan terbiasa
menggali info, tahu karakter narasumber, wawasan mereka pun lebih luas.
Selain itu, “Dia (Anchor) terbiasa melakukan riset terlebih dahulu dan pintar bikin narasumber skakmat saat interview,” papar Catharina.
Skakmat yang dimaksud Catharina mirip sebagaimana dikatakan Tita dengan istilah di-kick narasumber. Dengan PD, seorang Anchor tidak akan pernah ‘kalah’ begitu di-kick narasumber. Anchor malah justru bisa meng-kick narsumber dan akhirnya skakmat alias
narasumber tidak bisa menjawab pertanyaan si Anchor. Kemampuan
‘mematikan’ narasumber pun, karena kemampuan si Anchor, bukan bantuan
Produser atau Pemred yang mem-feeding pertanyaan via ear piece.
“Di
luar negeri, semua Anchor dari Reporter dulu. Kebanyang nggak kalo
tiba-tiba pompter-nya mati, lalu ada kejadian nggak terduga sementara
yang dipasang News Presenter doang. Bisa kocar-kacir show-nya,” ujar Catharina.
Banyak
lupa, kata News Talent Manager, bahwa sekarang itu Presenter bukan
Jurnalis atau broadcaster. Saat ini orang yang bisa membawakan acara
infotainmen sudah bisa disebut Presenter. Sementara profesi Anchor harus
seorang Jurnalis atau broadcaster, yang kebetulan membacakan berita.
Apakah
mereka yang tampil membacakan berita di televisi layak disebut sebagai
Anchor? Semua narasumber yang saya interview sepakat mengatakan: TIDAK!
“Kecuali tujuan dia ingin kerja di televisi cuma mau jadi tukang baca berita, ya boleh-boleh saja,” kata Jeremy. “Tapi bagi saya, meski predikatnya News Presenter, apalagi Anchor, wajib menjadi Reporter dulu”.
Namun,
Catharina dan Tita melihat, saat ini banyak Anchor yang bukan berasal
dari Reporter. Mereka bukan Jurnalis dan belum sempat terlibat dalam
proses memproduksi berita di televisi, tetapi langsung duduk manis di
depan kamera sebagai ‘Anchor’.
“Tapi
kita bisa lihat, kok, Anchor yang sebelumnya jadi Reporter dengan
Anchor yang tidak pernah turun ke lapangan, yakni dari ke-PD-an mereka.
Anchor yang matang di lapangan, tentu akan jauh lebih percaya diri dalam
membawakan materi berita”.
Lebih
dari itu, tambah News Talent Manager, mereka yang tidak melewati jalur
Reporter atau Stand Upper, sudah malas untuk diterjunkan ke lapangan
atau diminta memproduksi berita. Mereka nampak sudah puas menjadi News
Presenter. Kenapa? Mereka sudah menikmati duit, karena kabanyakan
siaran. Perlu diketahui, setiap News Presenter yang membacakan berita
akan mendapatkan insentif, di luar gaji pokok sebagai karyawan.
“Di sisi lain, sistem di stasiun televisi kadang nggak mengizinkan mereka untuk berkembang,”
ujar perempuan yang sebelum menjabat sebagai Newst Talent Manager ini
sempat menjadi staf produksi, Associate Produser, Produser, dan kemudian
Anchor.


