Selasa, 05 Juni 2018

Eva Julianti (News Anchor CNN): "Saya Kaget Banget Diizinkan Pakai Hijab..."

Tentu kekagetan Eva Julianti tersebut beralasan. Betapa tidak, ketika masih bersiaran di Metro TV, News Anchor cantik ini tak diberikan izin memakai hijab. Padahal, sebagai muslimah, sudah sejak lama ia ingin menunaikan kewajibannya memakai hijab sesuai dengan perintah Allah dalam al-Quran surat Al-Ahzab ayat 36 dan 59; lalu Al-A'raf ayat 26; dan An-Nur ayat 31.
"Alhamdulillah, gak terlalu banyak drama, saya diizinkan pakai hijab," terang Eva.
Sebelum menjadi News Anchor di CNN Indonesia, Eva memulai karir di dunia jurnalistik televisi saat bekerja di SCTV, tepatnya di Liputan 6 pada 2001. Perempuan kelahiran Surabaya, 13 Juli tigapuluh sembilan tahun lalu ini menjadi Reporter. Dari Reporter lapangan, wajah cantiknya juga tampil di program berita Liputan 6 Pagi, Liputan 6 Terkini, serta Buser. Kala itu, ia tercatat sebagai News Anchor termuda di SCTV. Usianya masih 21 tahun.


Di SCTV, Eva belajar dengan para senior yang lebih dulu menempati newsroom. Ada Rosianna Silalahi, Bayu Sutiyono, maupun Apni Jaya Putra. Selain para senior, ia pun belajar dari jurnalis senior yang menjadi pemimpin redaksi (pemred) di SCTV, yakni Karni Ilyas. Selama enam tahun, Eva menempa diri sebagai Reporter maupun News Anchor. Pada 2007, ia migrasi ke Metro TV.
"Sebenernya keinginan pakai hijab sudah dari dulu," jelas perempuan yang sempat membawakan berita Metro Hari Ini maupun Metro Realitas. "Di Metro saya sempat berhijab, lho. Dua tahun. Tapi ada perjanjian. saat siaran harus dilepas". Oleh karena tak ingin lepas-pakai lepas-pakai hijab, mau tak mau keinginan besarnya untuk berhijab batal.
Eva heran, isu soal hijab di kalangan jurnalis ini tidak konsisten pada jurnalis. Mayoritas stasiun televisi mengizinkan Reporter yang liputan di lapangan menggunakan hijab. Namun, tak semua stasiun televisi mengizinkan Presenter atau News Anchor perempuan menggunakan hijab di studio.
"Artinya, sebenarnya nggak ada masalah dong dengan netralitas news judgement yang selama ini jadi bahan diskusi?"
Pertanyaan Eva tersebut tentu saja wajar. Padahal, lanjut Eva, kalau memang takut dengan masalah kenetralitasan, bukan cuma Presenter atau News Anchor di studio yang tidak diizinkan memakai hijab, tetapi juga Reporter lapangan. Ketidakkonsistenan ini dilakukan oleh mayoritas stasiun televisi, meski Owner dan pemred di beberapa stasiun televisi tersebut seorang muslim.
"Apalagi di indonesia sekarang banyak banget wanita berhijab. Seharusnya ini (dengan diizinkan berhijab) lebih mempermudah penerimaan dari masyarakat.."
Saat ini Presenter dan News Anchor yang menggunakan hijab bisa dihitung. Di tvOne ada Yaumi Fitri. Sementara di Net TV ada Rikha Indriaswari. Sementara stasiun televisi lain hanya mengizinkan Reporter berhijab. Data Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB), selain Reporter, jurnalis berhijab di stasiun televisi adalah Pemred, Produser, Kordinator Liputan (Korlip), maupun Camera Person (Campers).
Pada 2015, Eva pindah stasiun televisi lagi. Masih di televisi berita, tetapi kali ini CNN Indonesia. Di CNN, setelah melalui fase beberapa tahun tidak berhijab, timbul keinginan untuk memakai hijab. "Meski pun pasrah jika konsekuensinya tidak siaran lagi," aku istri dari pengusaha Ali Muhammad Suharli dan ibu dua anak: Alia dan Aiman ini.
Keinginan Eva untuk berhijab disampaikan ke Prabu Revolusi dan Alfian Rahardjo. Dua pria ini tak lain adalah Manajer dan Koordinator News Anchor CNN. Baik Prabu dan Alfian tidak langsung menyetujui. Mereka kemudian menyampaikan keinginan Eva tersebut ke Titin Rosmasari, Direktur Utama sekaligus Pemred CNN.
"Alhamdulillah, setelah meminta pertimbangan owner, Pemred mengizinkan News Anchor berhijab," ungkap perempuan, yang membawakan program CNN Newsroom dan CNN News Report, dengan wajah berbinar-binar.
 "Saya aja sampe kaget banget diperbolehkan berhijab..."
Eva tidak paham, bagaimana bentuk izin Pemred kepada Owner. Yang ia tahu, Pemred sempat menginfokan terlebih dulu ke Chairul Tanjung (Owner TransCorp). Eva pun tak tahu, apakah sang Owner juga meminta izin sang pemilik brand CNN. Yang pasti, Eva akhirnya diizinkan berhijab.
Begitu diizinkan berhijab, Prabu minta Eva untuk mencoba look hijab yang cocok untuk penampilannya di CNN. Tentu kita tahu, banyak jenis hijab yang ada di tanah air. Permintaan Prabu tersebut atas anjuran dari Titin. Wajar, karena jangan sampai brand CNN jadi kurang bagus, gara-gara hijab yang dikenakan Eva tidak terkonsep.
"Prabu lumayan kasi banyak masukan, sekaligus sharing pengalaman istrinya pada saat pake hijab dulu," jelas Eva.


Tentu banyak kalangan yang menilai CNN luar biasa bisa memberikan izin seorang News Anchor menggunakan hijab. Betapa tidak, televisi yang dimiliki oleh Ted Turner dan memiliki slogan News We Can Trust ini jarang, bahkan boleh dikatakan tidak mengizinkan penggunaan hijab pada News Anchor perempuan. Namun, jelas Eva, ketika ada seorang Executive Producer CNN dari Hong Kong hadir ke Jakarta dan memberikan training ke awak redaksi CNN Indonesia, ia tak berkomentar apa-apa soal penampilan Eva dengan hijabnya.
"Saya berharap semua stasiun televisi mengizinkan News Anchor yang berkeinginan berhijab. Sebab, nggak ada hubungannya cara berpakaian seseorang dengan profesionalitas," ujar perempuan lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) ini.
"Menutup aurat memang ada aturannya dalam al-Quran. Jadi seharusnya, profesi apapun mendukung siapapun melaksanakan hal-hal sesuai keyakinannya. Ibaratnya, nggak ada bedanya melarang perempuan pakai hijab dalam bekerja, sama melarang orang beribadah, saat bekerja".

Program Director, Pengarah Visual dan Audio dalam Pidato Presiden

"Nanti tolong tampilan saat Bapak bicara seperti ini ya...".
Kalimat tersebut muncul dari seorang pria tambun berbaju batik. Sambil menunjuk tv monitor, ia mengarahkan seorang Program Director (PD) yang sejak awal duduk di kursi sambil menghadap sebuah monitor, dimana di monitor tersebut terdapat beberapa gambar. 
Pria berambut cepak ini tak lain adalah seorang pengarah visual dari protokoler kepresidenan. Hal ini terlihat dari penampilannya, termasuk kabel alat komunikasi yang selalu menampel di kuping kirinya.
Kompasianers, dalam setiap pidato Presiden, pasti ada seorang pengarah visual, yang akan mengarahkan seorang PD dalam mengarahkan gambar. Dalam produksi televisi, PD sebetulnya sudah menjadi "Dewa" dalam pengambilan gambar. Semua kamera --terutama dalam produki multikamera- yang merekam aktivitas di atas panggung, harus mengikuti perintah PD. 
Kameraman wajib mengikuti arahan PD sebelum memutuskan type of shot yang diambil close up (CU), medium shot (MS), atau long shot (LS). Boleh saja kameraman usul dalam mengambil gambar. Namun, keputusan tetap dipegang oleh PD.
Sebetulnya, PD bukan cuma sekadar mengambil gambar saat kamera semua sudah terpasang. Jauh sebelum produksi, PD punya tugas untuk mensurvey lokasi syuting. Dari lokasi syuting yang disurvey tersebut, seorang PD jadi memiliki gambaran berapa jumlah kamera yang akan dipergunaaan saat syuting, blocking kamera (penempatan posisi kamera), dan diputuskan ukuran pengunaan jib, apakah hanya perlu 7 meter, 9 meter, atau 12 meter. 
Jib yang penulis maksud adalah sebuah perangkat yang berguna untuk mendapatkan visual yang tinggi atau visual yang dibutuhkan dalam jarak yang sangat jauh, baik secara horizontal maupun vertikal.
Ketika sudah mendapatkan rundown acara dari Produser, PD akan mencoba menerjemahkan konsep di atas kertas menjadi sebuah tampilan visual yang akan direkam melalui perangkat kamera, audio, dan juga lighting. 
Dengan kata lain, PD memiliki kemampuan artistik untuk menjadikan rundown menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Sebab, PD akan mengarahkan blocking talent (host atau narasumber) dimana ia masuk dan keluar (in frame atau out frame). 
PD juga mengarahkan lightingman untuk menghidupkan lampu efek. Tak ketinggalan, PD juga memberikan aba-aba pada seorang VTR untuk memutar rekaman video taped (VT) dan meminta seorang grafis untuk menayangkan infografis, character generated (CG), dll. Begitulah tanggung jawab seorang PD. Berat, tapi sangat menentukan dalam sebuah pengambilan gambar di televisi.
Namun, sosok PD yang bagai "Dewa" tersebut terpaksa harus tuduk pada seorang pengarah visual dari protokoler Istana. Meski memiliki konsep A, B, C, atau D dalam pengambilan gambar, tetapi saat Presiden pidato, type shot yang diminta pengarah visual harus diikuti. 
Bisa saja PD melihat sang Presiden memiliki ciri pada body language --misal tangan-, PD tetap tidak boleh memerintahkan satu kamera mengambil CU tangan sang Presiden. 
Atau mengambil panning dari kiri ke kanan wajah Presiden dengan type of shot CU. Kreativitas dalam pengambilan gambar tak berlaku saat Presiden melakukan pidato. Tak heran, saat Presiden pidato, PD hanya mengambil gambar medium close up (MCU), dimana hanya terlihat sedikit podium sampai kepala.
Selain penata visual, yang tak kalah penting dalam pidato Presiden adalah pengarah audio. Barangkali sebagian dari Anda belum tahu, bahwa setiap pidato Presiden, protokoler membawa podium beserta mic sendiri. 
Podium dan mic adalah satu paket. Staf protokoler akan mengangkat dan menurunkan podium ke dan dari atas panggung. Jadi, untuk mengetahui Presiden itu jadi datang atau tidak ke lokasi untuk memberikan sambutan itu mudah, tinggal lihat podiumnya saja. Jika podium tetap berada di tengah panggung, maka Presiden jadi datang. Jika podium yang sudah diletakkan di tengah panggung digotong lagi oleh staf protokol kepresidenan, maka Presiden batal datang.
Audio sangat penting dalam pidato kepresidenan. Sebenarnya tak cuma pidato Presiden, di acara mana pun audio sangat vital. Kenapa penting? Coba Anda bayangkan, jika Presiden mau berpidato, mic mati. 
Presiden harus mengetuk-ngetuk ujung mic, lalu ucap: "Test...Test...". Sungguh memalukan bukan? Atau di tengah pidato, suara yang dikeluarkan dari sepaker terdengar feedback, sehingga membuat sakit kuping para peserta. 
Makin parah, jika suara Presiden yang sebetulnya agak nge-bass, tiba-tiba berubah cempreng, bahkan cenderung seperti suara bebek. Nah, untuk mengantisipasi masalah audio itulah yang kemudian menjadikan seorang penata suara penting dalam pidato kepresidenan.
Beberapa jam sebelum Presiden masuk ke ruangan dan memberikan sambutan, penata suara sudah menguji semua mic dan sumber suara (baca: speaker). Biasanya di ruangan tempat acara sudah ada perangkat audio (mic dan speaker) beserta mixer audio. Semua perangkat tersebut harus dites dan diatur level audionya. Paket podium dan mic yang dibawa staf protokoler kepresidenan tersebut juga ikut dites. 
Mic Presiden yang dibawa itu disambungkan dengan kabel yang ada di perangkat audio tempat tersebut. Semua dicoba, sampai semuanya sempurna. Bahkan, untuk menjaga kesempurnaan dari gangguan teknis audio, sinyal semua operator seluler semua peserta di-jam (baca: dimatikan) terlebih dahulu. Tujuannya supaya jika sinyal-sinyal telepon peseta tidak menganggu frekuensi audio Presiden.
Meski sudah ditest komposisi visual sang Presiden, namun penata kepresidenan visual tetap memantau kinerja PD di control room. Tentu penata visual kepresidenan tak ingin PD melanggar kesepakatan dalam pengambilan gambar. 
Begitu pula dengan penata suara. Ia harus stand by di depan audio mixer sambil terus memonitor laporan dari staf kepresidenan lain --yang mendengarkan audio di ruang utama bersama peserta--, melalui handy talky (HT)-nya. Sebab, meski saat ditest sudah sempurna, jangan sampai begitu Presiden pidato, ada gangguan teknis yang tak diprediksi muncul.

Televisi Swasta "Plat Merah"

Sejak dahulu sampai sekarang, TVRI dikenal sebagai stasiun televisi "plat merah". Maklumlah, dana operasional TVRI lebih dari Rp 700 miliar setahun berasal dari pemerintah, lebih tepatnya diambil dari APBN. Beda dengan stasiun televisi swasta yang 100% dana operasional berasal dari perolehan uang dari iklan. Oleh karena TVRI didanai oleh pemerintah, maka istilah "TV Plat Merah" pun nempel pada TVRI.
Namun, istilah "TV Plat Merah" belakangan muncul bukan cuma ditujukan untuk TVRI. Artinya, TVRI tidak sendirian lagi. Di kalangan praktisi televisi, seringkali berkelakar ada stasiun televisi swasta "Plat Merah".  Menurut mereka (para praktisi), katagori "Plat Merah" terlihat dari ciri-ciri ini pada tayangan di stasiun televisi tersebut. Penulis tidak akan menyebutkan nama stasiun televisi yang masuk kategori "Plat Merah". Silahkan Anda sendiri yang melihat siaran dengan berdasarkan keempat ciri di bawah ini.

1. Blocking Time Program Pemerintah
Di setiap stasiun televisi pasti punya program blocking time. Program-program blocking time tersebut diisi apa saja, mulai dari produk kecantikan, kesehatan, maupun wirausaha. Namun, ada stasiun televisi yang memberikan slot khusus untuk  program-program pemerintah. Kalau pun tidak diberikan slot khusus, program blocking time yang sudah ada kebanyakan diisi oleh program-program pemerintah. Harap maklum, uang pemerintah yang disalurkan melalui Kementrian-Kementrian untuk promosi dan publikasi program-program mereka itu banyak. Jadi, jika stasiun televisi swasta tidak mengambil kesempatan tersebut, tentu rugi. 
Jika sudah langganan blocking, tentu stasiun televisi swasta tidak berani mengkritisi kebijakan yang sudah dipromosikan via blocking. Pernah kejadian, saat penulis masih di salah satu stasiun televisi swasta, ada klien dari pemerintah protes, gara-gara Kementrian ini sudah blocking mempromosikan sebuah kebijakan, tetapi di program lain kebijakannya dikritisi. Gara-gara dikritisi, Kementrian ini ogah blocking lagi. Melihat kejadian tersebut (baca: takut kehilangan duit), terpaksa stasiun televisi swasta menjadi "TV Plat Merah". 

2. Menyediakan Alat untuk TV Pool
Dahulu, setiap kali ada event di Istana, terutama saat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, stasiun televisi yang menyediakan peralatan live adalah TVRI. Siaran TVRI menjadi satu-satunya sumber gambar untuk TV Pool. Sudah tahu kan apa itu TV Pool? Nah, semua televisi swasta cukup mengambil output dari master syuting live secara clean feed (tanpa logo dan tanpa CG TVRI). Enak bukan? Ibaratnya, kru TVRI yang bertugas, televisi swasta tinggal ambil output visual liputan live tersebut.
Namun, beberapa tahun belakangan ini, stasiun swasta ogah mengambil full materi clean feed dari TVRI. Televisi-televisi swasta berusaha untuk bisa mendapat eksklusif gambar. Setidaknya satu kamera untuk Reporter stand upper (muncul di layar) yang ada di sekitar Istana. Oleh karena tak ingin hanya mengambil materi clean feed dari TVRI, ada stasiun televisi yang bersedia menyediakan peralatan siaran live di Istana. Penyediaan peralatan ini ada maksud dan tujuan, yakni supaya televisi swasta ini bisa dekat dengan Istana. Tentu tidak ada makan siang gratis, bukan?

3. Eksklusif Bikin Program dengan Presiden
Setelah berhasil menarik simpati Istana, tentu saja stasiun televisi ini dengan mudah mendapat kepercayaan pemerintah. Akses ke Istana lebih mudah. Wawancara eksklusif tentu saja tidak dipersulit. Bukan cuma wawancara doorstop bersama Jurnalis lain, tetapi wawancara informal: duduk berdua bersama News Anchor di Istana atau di suatu tempat. Yang juga tak kalah penting, Presiden juga dibuatkan program di televisi swasta tersebut. Program yang dimaksud bukan program wawancara eksklusif, tetapi program informal yang tayang seminggu sekali.
"TV Plat Merah" pasti leluasa membuat program yang ada Presiden, dimana Host bisa leluasa syuting di Istana. Host-nya pun bukan sosok Presenter berita yang kaku, tetapi Host yang biasa cekakak-cekikik atau biasa membawakan program komedi maupun sejenisnya. Konsep program tidak lagi formal, tetapi ringan. Model reality show.

4. Jarang, Bahkan Tak Berani Mengkritisi Pemerintah
Dalam setiap pemberitaan, stasiun televisi "Plat Merah" jarang sekali mengkritisi kebijakan pemerintah. Kalau pun mengritisi, pasti malu-malu naskah berita atau voice over-nya. Bahkan "TV Plat Merah" seringkali tak berani mengkritisi pemerintah (baca: kikuk untuk mengkritik). Berita-beritanya cenderung normatif dan basa-basi (baca: sekadar memberitakan hal-hal umum). Padahal, jurnalisme harus jujur. Jika memang baik, beritakan yang baik. Jika salah, harus dikritisi kesalahan.  Oleh karena kikuk jika hendak mengkritisi pemerintah, maka mau tak mau yang dikritisi justru malah lawan-lawan pemerintah.
Berita-berita tentang Kepresidenan pun banyak mewarnai bulletin. Selain paket liputan perjalanan tugas Presiden, kadang televisi swasta ini membuat paket dari media sosial si Presiden. Misal, Presiden bikin kuis di media sosial, televisi ini ikut meng-endorse kuis tersebut dengan cara membuatkan paket berita. Selain berita-berita kepresidenan, juga banyak berita kepolisian dan tokoh-tokoh yang dekat dengan Presiden. 
Ada televisi swasta "Plat Merah" yang terang-terangan menjadi tameng pemerintah, yakni dengan membuat paket-paket berita guna meng-counter polemik atau malah menggoreng isu dalam rangka menjelekkan citra lawan politik pemerintah. Berita kecil yang terjadi dibikin besar oleh "TV Plat Merah". Sementara berita besar, sekelas nasional bahkan internasional yang dilakukan lawan politik pemetintah, tidak diberikan porsi. Kalau pun diberitakan biasanya dilihat dari perspektif negatif.
Namun, ada televisi swasta "Plat Merah" yang malu-malu kucing bikin paket berita politik atau ikut berpolemik menggoreng isu. Nah, agar supaya tidak terlihat "TV Plat Merah", televisi swasta yang malu-malu kucing ini mengisi paket berita seputar bencana (tanah longsor, banjir, dll), kriminal, atau narkoba. Selebihnya berita wisata dan olahraga.   

***

Tentu bukan cuma keempat ciri ini saja yang menjadikan stasiun televisi swasta dikatakan "TV Plat Merah". Masih ada ciri lain yang barangkali Anda juga sudah bisa menebak. Namun setidaknya dari ciri-ciri di atas, Anda sudah bisa menyimpulkan sendiri, mana stasiun televisi swasta yang bisa dikategorikan "TV Plat Merah". 

Empat Kata yang Sering Luput dalam Naskah Berita Terorisme

Barangkali sebagian Jurnalis belum tahu, bahwa Dewan Pers telah membuat peraturan tentang Pedoman Peliputan Terorisme (selanjutnya penulis singkat menjadi PPT). Sebagaimana Komisi Penyiaran Indonesia (KPI), semua karyawan media yang mengaku Jurnalis bisa mendapatkan buku PPT ini secara cuma-cuma, bahkan bisa diunduh via web Dewan Pers.
Dengan membaca PPT, diharapkan para Jurnalis bisa lebih bijak dalam memberitakan mengenai masalah terorisme. Selain masalah visual, yang juga dipaparkan di PPT adalah masalah 4 kata. Empat kata ini seharusnya dipergunakan dengan baik oleh para Jurnalis dalam membuat naskah. Apa 4 kata itu?
"TERDUGA", "TERPERIKSA", "TERDAKWA" dan"TERPIDANA".
Para Produser yang membuat naskah berita atau Reporter lapangan yang menjadi stand upper masih sering tertukar-tukar menyebutkan kata-kata tersebut. Mereka tidak bisa membedakan, kapan menggunakan kata terduga, kapan menggunakan kata terdakwa. Padahal, arti keempat kata tersebut berbeda-beda. Mari kita bedah satu per satu.
Kata "terduga" digunakan bagi seorang yang ditangkap oleh aparat keamanan. Contoh: Densus 88 mengangkap seorang terduga teroris di Tangerang. Kenapa Jurnalis wajib menggunakan kata "terduga" di depan kata "teroris"? Begini, lho! Meski sudah tertangkap oleh Densus 88, seorang yang ditangkap tersebut tidak secara otomatis adalah pelaku tindak terorisme. Oleh karena itu, sebagai Jurnalis, wajib menyertakan kata "terduga".
Lalu, untuk menjunjung asas praduga tidak bersalah (presumption of innocense) dan menghindari pengadilan oleh pers (trial by the press), Jurnalis perlu mempertimbangkan penggunaan istilah "terperiksa" untuk mereka yang sedang diselidiki atau disidik polisi. Lagi-lagi jangan sampai dalam naskah, seseorang yang ditangkap lalu diperiksa polisi sudah ditulis Teroris.
Bagaimana dengan kata "terdakwa"? Sebenarnya mudah. Tak cuma berita tentang terorisme, di berita lain, jika ada orang sedang diadili dalam satu pengadilan, disebut terdakwa. Jadi, jika seorang yang sebelumnya disebut sebagai terduga troris, maka begitu masuk ke pengadilan, maka kata "Teroris" harus dihapus dan digantikan dengan kata "Terdakwa".
Contoh: Pemirsa/ saat ini sedang berlangsung/ sidang kasus terorisme/ yang melibatkan terdakwa/ Aman Abdurrahman//Jangan sampai di naskah, tertulis: Pemirsa/ saat ini sedang berlangsung/ sidang kasus terorisme/ yang melibatkan teroris/ Aman Abdurrahman// Jika di naskah ditulis "Teroris Aman Abdurrahman", itu sama saja Anda sudah melebelkan Aman sebagai teroris, padahal pengadilan belum mengetuk palu alias memutuskan.
Terakhir kata "terpidana". Kata ini digunakan untuk orang yang perkaranya telah diputus oleh pengadilan. Jika Hakim sudah memutuskan seorang Terdakwa dinyatakan bersalah dan dihukum penjara, maka status seorang tersebut adalah terpidana.
Nah, anjuran menggunakan keempat kata di atas tadi, bukan karangan penulis, tetapi berdasarkan anjuran Dewan Pers yang ada di PPT. Oleh karena itu, dalam membuat naskah berita atau melaporkan langsung, para Jurnalis televisi wajib mentaati kata-kata tersebut. Sebenarnya, PPT tentang keempat kata yang ada di aturan Dewan Pers bernomer 01/ Peraturan-DP/IV/2015 ini adalah satu, di antara 13 PPT lain.
Salam 4 Kata

Ini Alasan Ustadz Abdul Somad Pilih tvOne

Di saat Ramadhan, hampir semua stasiun televisi berburu mubaligh-mubaligh kondang. Tujuannya satu, agar para penonton terpikat dan nongkrong di stasiun televisi tersebut. Jika sudah terpikat, tentu berimbas dengan rating-share. Sebagaimana kita ketahui, rating-share masih jadi "dewa" untuk merayu agency agar mau pasang iklan di commercial break sebuah program.
Beberapa tahun lalu, saat KH Abdullah Gymnastiar masih digemari para ibu, dai ini "diperebutkan" banyak stasiun televisi. Begitu pula dengan Ustadz Jeffry Al-Buchori. Semasa almarhum masih hidup, beberapa stasiun televisi berlomba-lomba melamar almarhum, agar mau tampil di salah satu stasiun. Tentu beda dengan Ustadz Maulana, Mama Dede, atau pak Quraish Shihab. Ketiga nama dai tersebut bertahun-tahun dari Ramadhan ke Ramadhan sudah dikontrak tetap di stasiun televisi tertentu. 
Belakangan, ada 2 dai yang tengah naik daun, dan banyak televisi yang melamar untuk bisa tampil di layar kaca mereka. Kenapa penulis katakan naik daun? Sebab, popularitas 2 dai ini luar biasa di media sosial. Setiap kali punya video kajian baru, viewers mereka mencapai ratusan ribu. Bahkan, salah seorang dai jika mengadakan tausyiah atau tabligh akbar bisa menghadirkan massa sampai jutaan orang. Dua dai yang penulis maksud tak lain adalah Ustadz Abdul Somad (UAS) dan Ustadz Adi Hidayat (UAH).
Jika UAH memilih Trans TV sebagai medium berdakwah saat Ramadhan 1439 H ini, sebaliknya UAS memilih tvOne. Dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan alasan UAH pilih Trans TV. Penulis hanya menceritakan alasan UAS memilih tvOne. 
"tvOne lebih sedikit mudaratnya dibanding tv lain," papar Faiz, Produser tvOne, ketika bertanya kenapa UAS memilih tvOne.
Padahal, lanjut Faiz, sebelum tvOne berhasil mendapatkan UAS, dai kondang yang popularitasnya mirip dengan almarhum KH Zainuddin MZ ini sudah lebih dulu tampil di Trans TV. Saat itu beliau menjadi Ustadz tamu di acara Islam Itu Indah, mendampingi Ustadz Maulana. Selain di Trans TV, UAS juga sempat muncul di RCTI di acara Tabligh Akbar. Namun, di antara Trans TV maupun RCTI, UAS lebih memilih tvOne.
"Beliau merasa percuma, jika mengisi tausyiah di televisi yang cuma 1 jam, tetapi 23 jam selebihnya stasiun televisi tersebut menayangkan program yang banyak mudaratnya," ungkap Faiz lagi. 
Maksudnya, dari 24 jam siaran, tausyiah di televisi cuma 1 jam, sementara acara yang tak sesuai dengan ajaran agama (baca: Islam), ditayangkan di televisi tersebut selama 23 jam sisanya. Acara seperti apa yang dimaksud UAS dengan mudarat? Antara lain kerap mengkampanyekan perzinahan lewat sinetron, pergaulan bebas, menampilkan artis pamer aurat, sering menyudutkan ulama dalam pemberitaan, dan hal-hal mudarat lainnya.
Tentu, prinsip UAS tersebut patut dihargai. Betapa tidak, dai yang namanya tidak masuk dalam daftar 200 mubaligh rekomendasi Kementrian Agama (Kemenag) ini semata tidak ingin mengejar materi. Artinya, sebagaimana dai-dai lain yang diberikan honor selangit, mau diperintah oleh Produser untuk melucu di depan jamaah yang ada di studio, bahkan diminta ikut joged, UAS teguh dalam prinsip. Tak juga seperti dai-dai tetap yang dikontrak stasiun televisi, UAS ogah jadi "penghuni tetap" di stasiun televisi tertentu.
UAS sepertinya punya idealisme, dimana tausyiah yang dibawakan bukan sekadar untuk mencari sesuap nasi, mengganjal durasi, pemantas saat Ramadhan, atau pengocok perut penonton di studio maupun di rumah. UAS ingin berada di stasiun televisi yang tidak banyak menyiarkan kemuradatan, sehingga tausyiahnya hanya sebentar, tetap penuh manfaat. Nah, alasan-alasan itulah yang membuat beliau akhirnya memilih tampil di tvOne di Ramadhan tahun ini.

Kisah Seru Produser tvOne "Berburu" Ustadz Abdul Somad

Ramadhan ini, salah satu program televisi yang paling ditunggu tak lain adalah penampilan Ustadz Abdul Somad (selanjutnya penulis singkat UAS) di tvOne. Betapa tidak, saat ini UAS merupakan sosok paling popular di tanah air. Jika tampil dalam sebuah ceramah, jamaahnya puluhan ribu. Tak berlebihan, fenomena UAS mirip dengan almarhum KH Zainuddin MZ yang dikenal dengan sebutan "Kiai Sejuta Umat".
Kepopuleran UAS membuat banyak stasiun televisi coba "melamar" beliau untuk tampil di televisi. Dengan bisa tampil di televisi, berharap mata penonton bisa ke stasiun televisi tersebut. Ujung-ujungnya, stasiun itu meraih rating-share selangit. Selain rating-share, tentu saja mendulang banyak uang dari pihak sponsor. 
UAS akhirnya lebih tertarik tampil di tvOne. Di tulisan selanjutnya, saya akan ungkap, kenapa UAS lebih tertarik tampil di tvOne, ketimbang Trans TV (tv pertama yang menampilkan UAS) atau RCTI (tv yang sempat membuat Tabligh Akbar UAS). Nah, salah seorang yang cukup "berjasa" memboyong UAS ke tvOne adalah Produser tvOne bernama Faiz.
Faiz mengenal UAS di awal 2017, yakni ketika beliau popular seperti sekarang ini. Ketika masih muncul di Youtube, Produser tvOne ini mulai mencari tahu bagaimana bisa menjalin komunikasi dengan UAS. Ya, inilah salah satu tugas seorang Produser.
"Saya mulai bertanya-tanya di Instagram," papar Faiz coba mengingat awal "berburu" UAS. "Menanyakan apakah boleh bersilaturahim bertemu Ustadz".
Pertanyaan Faiz ternyata tidak direspon admin Instagram UAS. Lama tak dijawab. Sampai suatu ketika, Ustadz Arifin Ilham mengabari Faiz, bahwa UAS akan bertabligh akbar di Masjid Az-Zikra, Sentul. Masjid Az-Zikra adalah "markas" Ustadz Arifin Ilham. Kebetulan Faiz kenal dengan Ustadz Arifin Ilham, yang selama ini dikenal sebagai pimpinan Az-Zikra.
"Di Masjid Az-Zikra itulah pertama kali saya kenalan dengan UAS," jelas pria berkacamata ini. Selain perkenalan, untuk pertama kali, UAS tampil di tvOne di acara Damai Indonesiaku.
Dalam pertemuan tersebut, Faiz mulai akrab dengan seorang asisten UAS. Dari asisten ini, Faiz diinfokan jadwal UAS sepanjang 2017-2018. Begitu diperlihatkan jadwal, ia baru percaya, bahwa jadwal UAS padat.
"Tak ada satu pun celah untuk bisa mengundang Ustadz," ingat Faiz. "Bahkan, Kementrian, pejabat, atau bahkan Preseiden yang mau ngundang Ustadz tetapi tidak bisa, ya bener. Jadwal Ustadz padet banget."
Tak seperti Ustadz kebanyakan, dimana mendahului pejabat atau mereka yang berani membayar honor besar, UAS beda. Menurut Faiz, UAS tak mau mengecewakan jadwal yang sudah ada. "Siapa pun dia, kalau hendak mengundang Ustadz, tetap harus antri. Ustadz tidak mau meng-cancel demi pejabat. Komitmen pada mereka yang sudah lebih dulu mengundang, sangat dijaga.".
Kelar bertemu pertama di Masjid Az-Zikra, Faiz terus berburu UAS. Selama ada di wilayah Jabodetabek, Faiz kejar UAS. Selain bertemu dengan asisten UAS, Faiz juga langsung "merayu" UAS. "Ayo dong, kapan tampil di Damai Indonesiaku," rayu Faiz pada UAS. Alhamdulillah, UAS akhirnya mau tampil di Damai Indonesiaku.
Perjuangan tentu "lebih mudah" setelah UAS tampil di Damai Indonesiaku. Sang asisten memberikan waktu tvOne untuk taping UAS untuk Ramadhan. UAS tampil di tvOne, baik di waktu subuh (Indahnya Ramadhan), maupun kultim menjelang berbuka puasa. Namun, pada prinsipnya, UAS tidak mau terikat kontrak dengan satu stasiun televisi. Seperti kita ketahui, ada satu atau dua Ustadz yang selalu rutin tampil di televisi tertentu.  Nah, UAS tidak mau.
"Ustadz tidak mau terikat kontrak," jelas Faiz.
Untuk Ramadhan ini, Faiz dan tim menjalankan proses produksi yang serba cepat. Oleh karena harus mengikuti lokasi, dimana UAS melakukan kajian, tim menyewa sebuah kamar hotel. Kamar hotel bertarif mahal tersebut dirubah seperti studio dadakan. Dalam 1 hari, mereka ngebut menyelesaikan 30 eps untuk kultum dan program sahur. Mulai syuting dari jam 7 pagi sampai jam 1 dini hari. Tentu, di antara waktu tersebut ada break sholat dan makan.
"Ini rekor Ustadz melakukan kajian. Ya, bayangin seharian taping. Bahkan, si Ustadz bilang, taping kemarin bisa masuk rekor dunia..."
Tampilnya UAS di tvOne sempat mengundang kontroversi. Betapa tidak, ada sebagian orang menuduh, tvOne memberi panggung pada Ustadz yang pro terhadap HTI. Bahkan, selain pro-HTI, Ustadz yang dicintai puluhan juta umat ini juga diisukan pro terhadap teroris, gara-gara dalam sebuah potongan video UAS sempat mengatakan bom bunuh diri merupakan jihad. Namun, Faiz dan tim berusaha meyakinkan Direksi maupun redaksi tvOne, bahwa isu-isu tersebut tidak terbukti kebenarannya. Meski UAS tidak masuk dalam daftar 200 mubaligh rekomendasi Kementrian Agama, namun tvOne tetap percaya, UAS adalah mubaligh dengan ilmu Islam yang luar biasa, ulama pemersatu ummat, dan memiliki visi kebangsaannya yang tidak perlu diragukan. Walhasil, program UAS di tvOne pun lancar dan meraih rating-share cukup baik. Dan yang terpenting juga, berhasil menggaet sejumlah sponsor. 

Tips untuk Calon Pelamar Pemula Pekerja TV

Tiap kali melakukan wawancara dengan para pelamar, saya selalu saja menemukan hal-hal serupa. Yakni, jawaban atau penjelasan salah yang diungkapkan oleh para pelamar. Biasanya yang paling banyak melakukan kesalahan adalah pelamar pemula.
Kompasianer, kebetulan tiap ada calon pekerja televisi, saya sering diminta untuk mewawancarai, khususnya bagi mereka yang melamar di bagian produksi, baik itu Produser, Program Director (PD), Production Assistant (PA), maupun Editor. Nah, dari beberapa kali pengalaman mewawancarai calon pekerja TV tersebut, saya mencatat sejumlah kesalahan. Bahkan, sampai kemarin saya mewawancarai beberapa calon pekerja televisi, kesalahan serupa terjadi. 
Berikut ini, beberapa tips untuk Anda yang berkeinginan melamar di stasiun televisi, baik di bagian produksi atau redaksi. Tips-tips ini tujuannya agar Anda tidak salah menjawab atau menjelaskan, dan interviewer (si pewawancara) terkesan dengan jawaban atau penjelasan Anda. Tentu, masih ada tips lain, selain tips yang saya buat ini. Semoga sedikit tips ini berguna untuk Anda ya.

1. Nonton TV

Jika tertarik melamar di stasiun televisi, tentu harus tahu sedikit mengenai dunia pertelevisian. Ya, setidaknya tahu stasiun televisi yang Anda kirim lamarannya.
Misal, Anda melamar di stasiun televisi A, maka Anda harus tahu mengenai stasiun televisi A. Tahu di sini bukan tahu seluruhnya, lho, tetapi hal-hal mendasar dari stasiun televisi A ini. Nama panjang televisi tersebut kah, tahun kelahirannya, sistem penyiarannya (analog atau digital). Pokoknya product knowladge dari televisi A ini. Meski Anda jarang nonton televisi, sebisa mungkin sebelum di-interview, Anda nonton televisi, deh.
Kemarin, saya kembali menemukan kelucuan dari pelamar. Ketika saya tanya, sudah pernah nonton televisi X belum? Si pelamar mengatakan: "Sudah".
Tentu kalau mendengar jawaban si pelamar, tidak ada yang salah. Sungguh bagus ia menonton televisi X. Namun, begitu si pelamar saya mendengar jawaban selanjutnya. "Tapi saya menonton TV X sudah lama. Ya, mungkin sekitar tahun 2010 kali ya..."
Saya tersenyum, karena televisi X baru bersiaran pada 2013. 
Selain product knowladge dari televisi A, sebenarnya tidak ada salahnya Anda juga update mengenai dunia pertelevisian secara umum. Misal, Anda tahu berapa jumlah TV mainstream saat ini, lalu tahu sedikit mengenai apa itu televisi teresterial, pay TV, atau istilah-istilah lain di televisi.

2. Nonton acara TV

Ketika sudah bertekad bulat melamar di stasiun televisi A, seharusnya Anda juga sudah pantengin program-program acaranya. Bagaimana interviewer mau terkesan dengan Anda, jika Anda tidak memberikan kesan serius ingin kerja di stasiun televisi A?
Kesan yang serius yang dimaksud adalah mengetahui program-programnya. Saat ini kita sudah dimudahkan dengan media sosial. Anda tinggal googling nama stasiun A, maka akan ditemukan product knowladge maupun program televisi A. 
Tonton beberapa program yang sudah diproduksi stasiun televisi A, maupun program talkshowvariaty shownews, atau yang lain-lain. Cari tahu program favorit dari televisi A. Perhatikan dan analisa apa yang bisa membuat program teresebut menjadi favorit. Kalau perlu, riset lebih dalam lagi dari akun twitter atau instagram.

3. Pastikan posisi Anda

"Saya bisa menjadi apa saja, Pak. Kalau di sini yang kosong Production Asssistance, ya saya bisa. Kalau di sini butuh kreatif, saya juga bisa."
Jawaban tersebut sungguh tidak mencerminkan sebuah kepastian, Anda sebetulnya mau melamar jadi apa. Memang, positifnya Anda bisa jadi apa saja. Bisa jadi PA, bisa jadi Kreatif.
Jangan-jangan jika di stasiun televisi A lagi butuh Office Boy (OB), Anda juga tidak masalah bekerja jadi OB. Maaf, saya tidak bermaksud menyinggung profesi OB, lho. Saya hanya ingin mengatakan, Anda belum yakin dengan posisi yang Anda lamar. Padahal, keyakinan Anda merupakan nilai.

4. Redaksi dan produksi itu beda!

Seorang pelamar menjelaskan, bahwa ia ingin melamar jadi Produser. Meski bekerja di salah satu stasiun terkemuka, tapi pengelamannya baru pegang satu program dokumenter. Di program itu pun posisinya hanya sebagai Reporter. Namun, dengan percaya diri, ia mampu jadi Produser News. Yang makin menggelikan saya, dengan percaya diri pula, ia mengatakan, "Saya bisa kok jadi Produser News atau Produser Produksi".
Percaya diri boleh, tapi jika tidak mengerti, jadi nampak bodoh. Baru pegang satu program, ia sudah berani mengatakan sanggup menjadi Produser News. Ia belum tahu, bahwa menjadi Produser News, bukan cuma bisa pegang program dokumenter, tetapi harus siap pegang program buletin. Harus siap menghadapi "kepanikan" di newsroom dan control room saat harus breaking news.
Harus siap membuat rundown dadakan, membuat naskah untuk paket dadakan, menghadirkan narasumber last minute, atau telewicara, dan aneka "keribetan" lain. Produser News beda dengan Produser di produksi. Memang, di redaksi juga ada tahapan produksi: pra-produksi-paska. Namun ritmenya beda.
Ketika si pelamar mengatakan bisa menjadi Produser produksi, saya langsung tanya, "Apa yang harus kamu persiapkan saat ingin membuat syuting variaty show?" Ia pun tak bisa menjawab, baik secara teknis maupun nonteknis.
Buat Produksi, mungkin sudah terbiasa mempersiapkan program variaty show. Tapi buat pelamar yang baru punya pengalaman pegang satu program non-bulletin, tentu belum terbayang mempersiapkan syuting varity show dengan menggunakan multi-kamera.

5. Siapkan kemampuan kreatif Anda

Sudah bukan rahasia, praktisi televisi berhubungan dengan pekerjaan kreatif, apalagi di bagian produksi dan redaksi. Nah, biasanya interviewer selalu memancing kreativitas si pelamar. Sebagai calon pekerja tv, tentu harus siap untuk mengasah kemampuan kreativitasnya. Jangan sampai Anda mengatakan sebagaimana calon pelamar yang pernah saya interview.
"Jika saya minta Anda bikin program light talk show, coba kira-kira konsep light show seperti apa yang akan Anda buat?" 
"Wah, tidak bisa kira-kira pak..." jawab si pelamar.
"Ya, kamu coba bayangkan konsepnya," tanya saya lagi.
"Tidak bisa dibayangkan pak..."
Dalam hati kecil saya, ini pelamar tidak mengerti pertanyaan saya atau memang tidak kreatif ya? Setahu saya, pertanyaan saya jelas. Seharusnya, si pelamar bisa pamer kreativitas. Bisa jadi kreativitasnya sudah ada. Namun yang terpenting dan menjadi nilai tambah, interviewer melihat keberanian si pelamar mengungkapkan gagasan.

6. Boleh "jual diri", tapi jangan kebangetan

Menjual diri dalam konteks ini adalah mengungkapkan pengalaman yang memang bener-benar pernah Anda lakukan. Misal, Anda pernah bikin program acara, menjadi Sutradara atau Program Director (PD) atau scriptwriter, di mana acara tersebut meraih penghargaan.
Nah, prestasi ini layak untuk Anda "jual". Contoh lain, Anda sampai saat ini menjadi kontributor citizen journalist sebuah televisi nasional. Kemampuan Anda sebagai kontributor berita -meski citizen jounalist-, namun hal tersebut merupakan pengalaman yang patut dijual.
Namun yang perlu diingat, "jual diri" boleh, hanya jangan "lebay". Maksudnya lebay, Anda sok tahu padahal belum cukup banyak tahu. Anda sok ngerti, padahal baru sedikit ngerti.
"Saya pernah menjadi Produser seorang Motivator," jelas pelamar pada saya.
"Apa tugas Produser di situ mas?" tanya saya.
"Mengelola jadwal Motivator. Mengajak kerja sama dengan stasiun televisi..."
Menurut saya lucu jika baru mengelola jadwal dan mengajak kerja sama dengan stasiun televisi sudah mengakui punya pengalaman sebagai Produser. Buat saya, si pelamar ini lebay. Ia belum banyak tahu tugas dan tanggung jawab sebagai Produser secara menyeluruh.
Dalam tulisan ini saya tak akan menjabarkan tugas dan tanggung jawab Produser. Yang pasti, Anda sebagai pelamar jangan sok tahu, mengaku punya punya pengalaman menjadi Produser jika belum pernah membuat acara dari A-Z, dari pra produksi-produksi-sampai paska produksi.

7. Update berita

Apa jadinya jika Anda mau jadi Reporter, tapi tidak update berita? Nah, ini terjadi ketika saya mewawancarai calon Reporter. Setiap kali mewawancarai calon Reporter, saya selalu memancing dengan pertanyaan, "Apa isu yang saya ini sedang jadi berita?" Atau "Berita apa yang sekarang lagi viral di media sosial?"
Kemarin, saat wawancara, ada seorang Reporter sempat saya tanya, "Kemarin Kementrian Agama sempat heboh. Kamu tahu kehebohan apa?" Jawaban calon Reporter bikin saya tersenyum. 
"Soal puasa pertama ya, Pak? Dan soal Idul Fitri..."
Sungguh, calon Reporter ini tidak update dengan berita. Ia tak tahu sama sekali, bahwa berita terakhir soal Kementerian Agama soal dirilisnya 200 daftar nama penceramah Indonesia yang menjadi polemik. Saya pun semakin yakin, calon Reporter ini tidak pernah baca koran atau baca media online.
"Kapan terakhir baca media online?" tanya saya.
"Kapan ya...(ragu-ragu)," jawab calon Reporter.
"Jadi tidak tiap hari baca koran atau baca media online?" tanya saya lagi.
"Tidak, Pak."
Jawaban calon Reporter itu sungguh jujur. Ia tidak setiap hari baca koran atau baca media online. Itu artinya, ia tidak update berita. Tentu, buat seorang interviewer, hal ini memberikan nilai minus pada si calon. Oleh karena itu, tips yang baik bagi calon Reporter, jangan berani di-interview, jika Anda belum sempat update berita.

Hebat! Ada Stasiun TV Nasional PHK Ratusan Karyawan Tanpa Gaduh

Tak banyak tahu, pada 2018 lalu, ada stasiun televisi nasional diam-diam telah mem-PHK karyawan mereka. Maaf, penulis merahasiakan nama stasiun televisi ini, tetapi kita sebut saja TV A. Sekitar 200-an karyawan TV A di-PHK. Namun sebelum di-PHK, ada sebagian yang sempat ditawari untuk hijrah ke TV lain. Sebagian lagi lebih suka mengambil uang pesangon.
Pertanyaannya, kok banyak yang nggak tahu?  
Itulah "kehebatan" manajemen TV A ini. Tentu, sebelum memutuskan mem-PHK ratusan karyawan tersebut, bagian keuangan sudah merumuskan plus minus, untung rugi. Rumusan itu kemudian dilaporkan ke Direksi dan Owner. Dari rumusan tersebut ada indikator-indikator yang "memaksa" Owner mengeluarkan keputusan PHK. Selain belanja iklan yang menurun, tentu jumlah karyawan dengan produktivitas kerja sangat menentukan. Tentu manajemen tak ingin jumlah produksi menurun, tetap jumlah karyawan tetap. Yang terjadi, cost operasional tidak efisien. Banyak karyawan yang "magabut" alias "makan gaji buta". Setiap hari, karyawan cuma datang, absen, nongkrong, lalu pulang. Tentu, hal tersebut sangat merugikan bagi perusahaan. Itulah yang akhirnya "memaksa" perusahaan mengeluarkan keputusan: PHK.  
Balik lagi ke pertanyaan di atas. Kok banyak yang nggak tahu TV A mem-PHK ratusan karyawan? Golden shake hand. Pantes! GSH bukan sekadar salam-salaman say goodbye pada perusahaan, tetapi kedua belah pihak bersepakat. Sepakat apa? Sepakat untuk melepaskan hak dan kewajiban dalam sebuah perusahaan. Dalam GSH disepakti jumlah pesangon yang harus diberikan. Selain hitung-hitungan dengan rumusan Kementrian Tenaga Kerja, juga ditambah uang jasa, dan lain-lain, yang jumlahnya lumayan. Itulah yang membuat PHK di TV A tidak menimbulkan gejolak. Tidak ada pemberitaan di media mana pun.   
Baiklah, kita tinggalkan cerita TV A. Pembaca yang budiman, tahukah Anda, ada stasiun tv nasional lain, yang siap-siap mem-PHK karyawannya. Ini bukan hoax. Namun maaf, penulis tak akan membocorkan nama stasiun televisinya. Kita sebut saja TV B. Jika resep GSH dilakukan oleh TV B, tentu PHK yang akan terjadi tak akan gaduh, seperti yang dialami TV A. Sebaliknya, jika formula PHK yang dilakukan oleh TV B kurang tepat, kegaduhan pasti terjadi. Jika gaduh, pasti diberitakan di media dan Anda jadi akhirnya tahu. Oleh karena itu, penulis berharap, TV B bisa melakukan formula PHK sebagaimana TV A, sehingga PHK berjalan mulus. Aamiin. 

Stasiun TV Nasional: Mungkinkah Independen?

Bertahun-tahun sebelum Aksi 212 terjadi, hampir semua stasiun televisi tak pernah menyiarkan sisi positif yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI). Namun, begitu FPI diduga melakukan kesalahan, sontak stasiun-stasiun televisi memberitakan. Mengupas habis peristiwa yang dilakukan FPI tersebut, tanpa diimbangi berita mengenai aktivitas-aktivitas positif yang sudah dilakukan FPI.
News judgment yang sama juga dilakukan sejumlah stasiun televisi, jelang Pemilihan Presiden Republik Indonesia 2014 lalu. Oleh beberapa stasiun televisi, Joko Widodo digambarkan sebagai sosok yang tak layak jadi Presiden RI periode 2014-2019. Betapa tidak, paket-paket berita yang dimunculkan tentang Jokowi, hanya yang negatif-negatif, bahkan cenderung hoax. Di mata pemirsa stasiun televisi tersebut, Jokowi tak ada nilai positifnya.
Terakhir, pada paruh 2017, saat Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Mayoritas penonton televisi lagi-lagi dijejali keberpihakan pada Calon Gubernur. Penonton di tanah air sudah tahu, mana stasiun televisi yang berpihak pada pasangan Ahok-Djarot, dan mana stasiun televisi yang pro terhadap pasangan Anies-Sandi. Dua pasangan, berbeda sudut pandang dalam mengupas isu.
Stasiun televisi pro ke Anies-Sandi membombardir paket berita negatif, baik mengenai prilaku maupun sejumlah kebijakan Ahok-Djarot. Seolah Ahok-Djarot tak ada sisi positifnya. Sebaliknya, stasiun televisi pro Ahok-Djarot memberikan panggung ke sejumlah Narasumber untuk mem-bully sosok Anies-Sandy. Selain memberi panggung, juga memberikan data-data hasil survey yang keakuratannya dipertanyakan.
***
Miris. Begitu barangkali kata yang tepat untuk mengomentari kondisi di layar kaca beberapa tahun kemarin dan sampai kini. Penonton (baca: rakyat) dibuat bingung dengan informasi yang berbeda di masing-masing televisi. Di televisi A, menginformasikan begini. Sementara di televisi B, informasinya begitu. Narasumber pun dibuat terpolarisasi. Ketika Narasumber A pro ke Capres atau Cagub tertentu, Narasumber ini pun seolah dikontrak seumur hidup di stasiun televisi tersebut. News Producer yang coba-coba mencari Narasumber yang pro Capres atau Cagub lain, bakal disemprot oleh Executive Producer (EP) atau Pemimpin Redaksi (Pemred). Jika EP atau Pemred tak berani menyemprot News Producer yang berani "tampil beda" (baca: independen), siap-siap Owner akan merestrukturisasi jabatan mereka.
Hari ini, tepat di Hari Pers Nasional 2017, Dani Asmara, seorang Dosen, menulis di harian Republika (Jumat, 9 Februari 2018). Penulis setuju sekali dengan opini Dani. Tulis Dani...
"Pers sulit untuk independen, bebas dari pengaruh uang dan pasar. Belum lagi, stasiun televisi yang dijadikan sarana kampanye dan pencitraan, baik dari pemiliknya maupun koleganya semuanya jelas-jelas menunjukkan kalau independensi pers jauh dari kata merdeka".
***
Tahun ini dan tahun depan menjadi tahun politik. --Sebetulnya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu--. News Producer sudah pasti stres menerima sejumlah pesanan dari sang Atasan, agar tidak salah. Salah apa? Salah membuat angle dalam membuat paket berita atau salah menghadirkan Narasumber di program-program dialog. Jika News Producer melakukan tidak sesuai dengan kebijakan perusahaan (baca: Owner), bisa fatal akibatnya. Salah-salah disuruh menggundurkan diri.
Apa semua News Producer stres? Ya, tentu tidak! Pasti ada yang enjoy lah. Selain enjoy dengan kehidupan sebagai Jurnalis, juga enjoy (baca: sejalan) dengan sikap politik si Owner stasiun televisi. Untuk sementara, lupakan idealisme sebagai jurnalis. Oleh karena itu, alangkah sulit memberitakan hal positif seorang Presiden bernama Jokowi, ketika sang Jurnalis bekerja di stasiun Televisi X. Kebijakan pemberitaan Televisi X memang tak ingin Jokowi menang sebagai Presiden. Begitu juga sungguh berat membuat news feature mengenai FPI di stasiun televisi Y. Jadi, rasanya apa yang ditulis oleh Dani di Republika hari ini ada benarnya. Bahwa, independensi pers, jauh dari kata merdeka.