Dalam dunia televisi, ada dua musim hijrah besar-besaran. Hijrah yang
dimaksud di sini adalah pindah dari stasiun televisi A ke stasiun
televisi B. Menjelang dua musim, HRD stasiun televisi pasti berhadapan
dengan sejumlah karyawan yang mengajukan surat pengunduran diri. Oleh
karena sudah “rutin”, menjelang dua musim hijrah, para Manager sibuk
atur strategi dalam mengelola SDM. Hal tersebut dilakukan agar
operasional televisi tetap berjalan.
Musim hijrah pertama
terjadi paska Idul Fitri. Bagi karyawan stasiun televisi, momentum
“terlahir kembali” setelah menjalankan ibadah puasa dimanfaatkan untuk
bekerja di stasiun televisi baru. Menjelang puasa, karyawan sudah
mengajukan surat pengunduran diri. Kenapa sebelum puasa? Sebab, ada
istilah one month notice atau pemberitahuan satu bulan sebelum mengundurkan diri.
Barangkali
Anda tahu, mengapa paska Idul Fitri menjadi musim pertama para karyawan
hijrah. Yup! Anda benar! Para karyawan yang mengundurkan diri masih
tetap mendapatkan hak mereka di stasiun televisi lama, yakni Tunjangan
Hari Raya (THR). Lumayanlah, sebelum goodbye, masih mendapatkan
THR satu bulan gaji. Angka segitu belum ditambah uang pesangon atau
jasa yang perkaliannya tergantung dari masa kerja.
Di musim
pertama ini, sejumlah news anchor ramai-ramai ke +CNN Indonesia (CNN Indonesia). Nama-nama news anchor yang sudah tak asaing lagi bakal
menghiasai layar CNN Indonesia. Mereka adalah dua mantan tvOne: +alfito deanova dan Elvira Khairunnisa. Lalu dari +Metro TV: Dessy Anwar dan Eva
Julianti. Prabu Revolusi yang sempat di Metro TV dan baru satu tahun
ini di Rajawali Televisi (RTV) juga hijrah ke CNN. Selain nama-nama news
anchor, tentu saja banyak Produser maupun Production Asisstance
(PA) dari stasiun televisi lain hijrah. Stasiun televisi yang masih di
bawah Trans Corp ini sendiri akan meresmikan siarannya bertepatan dengan
HUT RI ke-70 pada 17 Agustus 2015 mendatang.
Musim hijrah kedua
terjadi paska Tahun Baru. Sebagaimana paska Idul Fitri, mereka yang
hijrah paska Tahun Baru merasa momentumnya tepat. Tahun Baru, stasiun
televisi baru, suasana baru, tantangan baru. Namun, tentu saja selain
hal-hal yang baru tersebut, ada alasan lain yang tak kalah stategis,
yakni bonus.
Di akhir atau awal tahun baru, biasanya stasiun
televisi akan memberikan bonus. Memang, soal bonus, stasun televisi tak
berkewajiban memberikan. Bonus adalah kebijakan perusahaan yang
bersangkutan. Nilainya pun beragam. Ada yang berdasarkan kebijakan, tak
sedikit pula stasiun televisi memberikan bonus berdasarkan performa
kerja masing-masing karyawan. Mereka yang punya “rapor” bagus, bonusnya
besar. Sebaliknya, karyawan yang biasa-biasa saja, bonusnya tentu akan
kecil. Kecil atau pun besar, tetap saja ada sejumlah uang yang
ditransfer di rekening si karyawan.
Wajarkah mereka hijrah?
Jelas wajar. Selama stasiun televisi tersebut memberikan benefit di atas
stasiun televisi sebelumnya, si karyawan tentu akan memilih hijrah.
Apalagi, lingkungan kerja stasiun televisi sudah tidak nyaman lagi,
atasan tidak satu visi, terlalu banyak janji, terlalu menekan dan
membuat karyawan demotivasi, atau sistem promosi tidak berjalan dengan
baik, barangkali juga gaji tidak sesuai dengan produktivitas yang
dilakukan, dan masih 1001 alasan lagi yang membuat seorang karyawan
lebih suka berhijrah.
Di buku-buku maupun di tulisan-tulisan
saya sebelumnya, saya selalu memberikan motivasi soal hijrah ini.
Mumpung masih “laku”, lebih baik Anda hijrah ke perusahaan lain, kalo
memang alasan-alasan seperti yang saya sudah sebutkan di atas ada pada
diri Anda. Ingat! Rezeki bukan cuma ada di tempat Anda bekerja sekarang
ini. Terlebih lagi bagi Anda yang masih muda (baca: baru sekali kerja di
stasiun televisi). Berkarya jangan cuma di satu tempat, tetapi gali
pengalaman di tempat lain. Jangan pernah berada di zona nyaman, hingga
sampai bertahun-tahun di tempat yang sama.
Senin, 21 September 2015
PHK DI TELEVISI SWASTA
Suka tak suka ekonomi kita saat ini sedang melambat. Dari data yang
penulis peroleh, perekonomian kita hanya tumbuh 4,7 persen di kuartal II
pada 2015 ini. Tak heran, banyak investor yang menunggu dan melihat
(wait and see) mengenai kondisi ekonomi. Sementara para pengusaha
berusaha memutar otak agar perusahaan mereka tetap eksis. Saking ingin
eksis, saat menjelang lebaran 2015 ini, di antara para pengusaha
tersebut terpaksa melanggar aturan terkait pembayaraan Tunjangan Hari
Raya (THR) bagi pekerja. Setidaknya hal tersebut dikatan sendiri oleh
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.
Dari rincian pelanggaran, diketahui, ada perusahaan yang THR-nya tidak mencapai satu bulan gaji. Ada pula THR hanya diganti dalam bentuk benda atau makanan dan minuman.
Di dunia televisi, penulis tidak mendengar pelanggaran terkait THR. Namun tahukah Anda, dampak dari perekonomian Indonesia kini? Diam-diam ada televisi swasta yang mulai mengurangi karyawan (baca: PHK) sebelum dan sesudah Idul Fitri 2015 ini.
Berita soal PHK ini memang tak begitu terdengar santer. Tidak seperti ketika berita PHK di SCTV dan Indosiar pada 2013. Kala itu PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) akan bergabung alias merger dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Silahkan baca tulisan Serikat Pekerja SCTV: http://www.kompasiana.com/spsctv/musim-phk-segera-tiba-di-sctv-indosiar_552c62f16ea83442058b457a). Kenapa tidak santer? Sebab, gelombang PHK di stasiun televisi pada 2015 ini tidak massal. Penulis tak ingin membocorkan lebih detail stasiun televisi mana yang sudah mengurangi jumlah karyawan. Yang pasti, di antara karyawan stasiun televisi ini, ada nama news anchor terkenal yang masuk ke dalam gelombang pengurangan pegawai.
Gelombang PHK besar di stasiun televisi bisa saja terjadi jika perekonomian makin buruk dan nilai dollar semakin tinggi. Betapa tidak, saat ini ada stasiun televisi yang masih berhutang dan nilainya tidak sedikit. Televisi ini berhutang dengan menggunakan dollar. Jadi, Anda bisa bayangkan, betapa berat televisi yang berhutang ini jika harus membayar kewajiban hutan dengan dollar, sementara pendapatannya dari iklan dengan nilai rupiah. Semakin berat jika keuangan televisi ini tidak perform atau pendapatannya per bulan tidak cukup membiayai operasional siaran. Jalan satu-satunya dan mau tak mau adalah dengan cara mengurangi karyawan. Ah, semoga saja tak terjadi.
Dari rincian pelanggaran, diketahui, ada perusahaan yang THR-nya tidak mencapai satu bulan gaji. Ada pula THR hanya diganti dalam bentuk benda atau makanan dan minuman.
Di dunia televisi, penulis tidak mendengar pelanggaran terkait THR. Namun tahukah Anda, dampak dari perekonomian Indonesia kini? Diam-diam ada televisi swasta yang mulai mengurangi karyawan (baca: PHK) sebelum dan sesudah Idul Fitri 2015 ini.
Berita soal PHK ini memang tak begitu terdengar santer. Tidak seperti ketika berita PHK di SCTV dan Indosiar pada 2013. Kala itu PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) akan bergabung alias merger dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Silahkan baca tulisan Serikat Pekerja SCTV: http://www.kompasiana.com/spsctv/musim-phk-segera-tiba-di-sctv-indosiar_552c62f16ea83442058b457a). Kenapa tidak santer? Sebab, gelombang PHK di stasiun televisi pada 2015 ini tidak massal. Penulis tak ingin membocorkan lebih detail stasiun televisi mana yang sudah mengurangi jumlah karyawan. Yang pasti, di antara karyawan stasiun televisi ini, ada nama news anchor terkenal yang masuk ke dalam gelombang pengurangan pegawai.
Gelombang PHK besar di stasiun televisi bisa saja terjadi jika perekonomian makin buruk dan nilai dollar semakin tinggi. Betapa tidak, saat ini ada stasiun televisi yang masih berhutang dan nilainya tidak sedikit. Televisi ini berhutang dengan menggunakan dollar. Jadi, Anda bisa bayangkan, betapa berat televisi yang berhutang ini jika harus membayar kewajiban hutan dengan dollar, sementara pendapatannya dari iklan dengan nilai rupiah. Semakin berat jika keuangan televisi ini tidak perform atau pendapatannya per bulan tidak cukup membiayai operasional siaran. Jalan satu-satunya dan mau tak mau adalah dengan cara mengurangi karyawan. Ah, semoga saja tak terjadi.
RTV MENCARI CEO
Di dunia pertelevisian nasional, nama Maria Goretti Limi Xu memang
tak dikenal sebagaimana Ishadi SK atau Alex Kumara. Juga tak sepopuler
Wishnutama atau Suryopratomo. Empat nama pria tersebut sudah dikenal
malang melintang di dunia pertelevisian. Bahkan saat ini Wishnutama dan
Suryopratomo masih aktif di struktur direksi. Jika Tama –panggilan +Wishnutama Kusubandio- duduk sebagai Chief Executive Officer (CEO) PT Net Mediatama
yang mengelola Net TV, Tommy- panggilan Suryopratomo- tercatat sebagai
Direktur Pemberitaan +metrotvnews.
Namun, di dunia media, nama Limi –begitu panggilan +Limi Maria Goretti- sudah malang melintang selama kurang lebih 20 tahun lebih. Latar belakangnya adalah seorang sales marketing. Ia pernah duduk di jajaran direksi di +TvOneNews dan +ANTV Wow Keren. Namanya makin dikenal begitu menjabat sebagai CEO Rajawali Televisi (RTV) pada 2013.
Limi masuk RTV saat televisi milik Peter Sondakh masih bernama B Channel. Dalam kisahnya, ketika awal masuk, Limi ditargetkan dalam tiga bulan harus melakukan rebranding. Sebelum resmi menggunakan nama ‘Rajawali Televisi’, ia menggunakan jasa konsultan. Konsultan ini sempat mengusulkan sejumlah nama, mulai dari Singa TV, Andromeda TV, Spekta TV, Komodo TV, dan beberapa nama lain. Hasilnya yang dipilih adalah +RAJAWALI TELEVISI - LANGIT RTV atau disingkat RTV sesuai dengan holding company-nya, yakni Rajawali Group.
Berkat Limi dan tim, lambat laun RTV sudah muncul awareness-nya. Namun, kerja keras Limi dan tim selama 20 bulan sebelum rebranding tak akan dirasakan lagi “kenikmatannya”. Awal September 2015 lalu, perempuan ini mengundurkan diri sebagai CEO RTV. Banyak spekulasi yang beredar mengenai pengunduran dirinya. Ada spekulasi yang mengatakan, ia undur diri, karena dianggap tak mampu dibebankan target dalam hal pendapatan iklan di RTV. Spekulasi lainnya, Limi tak klop bersinergi dengan “seseorang” yang dianggapnya sombong dan seolah-olah paling tahu industri media, padahal baru masuk industri media 2-3 tahun. Setidaknya hal ini terlihat dari status di akun Facebook pribadinya.

“Individu yang bekerja di media juga harus memiliki idealisme, karena media memegang peranan penting bagi stabilitas dan keamanan suatu negara. Hal ini yg menyebabkan pimpinan media harus matang secara mental dan spiritual serta memiliki kebijaksanaan dalam bertindak.
Media menjanjikan dunia yang glamour dan ketenaran, justru bagi yang belum ‘matang’ akhirnya terjebak dengan arogansi dan kesombongan. Sangat mudah bagi seseorang utk masuk ke industri media terutama televisi, akan tetapi seberapa lama mereka bisa bertahan?
Bandingkan dengan anak muda yg baru masuk industri media yg baru 2-3 tahun, tapi seolah-olah yang paling tahu industri ini. Kemudian langsung merasa bangga karna bisa berkenalan dengan pejabat penting, merasa lingkungan pergaulannya sudah beda dibandingkan dengan teman-temannya. Muncul rasa pongah. Lantas bagaimana sikapnya jika para senior berkumpul, akhirnya hukum alam berbicara. Orang tersebut akan tersisihkan dengan sendirinya.”
Kini, sejak Limi mengundurkan diri, posisi CEO RTV diisi oleh Satrio. Pria ini bukanlah broadcaster atau berlatar belakang dari industri media. Ia adalah tangan kanan dari pemilik RTV, yakni Peter Sondakh. Nama Peter sendiri tentu bukan nama baru di dunia pertelevisian. Bersama Bimantara, di bawah Rajawali Group, ia membangun RCTI dari 1989 hingga 2000.
Satrio adalah seorang yang berlatar belakang sebagai auditor. Ia pernah bekerja di Pricewater House. Sebetulnya Satrio bukanlah orang baru di RTV dan baru masuk saat Limi resign. Pria lulusan +Harvard University ini sudah ada sejak B Channel bersiaran. Jasanya tidak sedikit. Satrio lah yang mengurus seluruh perizinan hingga RTV bisa dinikmati siarannya di 33 kota.
Namun, pria yang baru berusia 33 tahun ini hanya sebagai CEO sementara. Saat ini RTV sedang mencari CEO pengganti Limi. Siapakah? Akankah orang yang duduk di posisi tinggi tersebut berasal dari kalangan senior broadcaster atau industri media?
Namun, di dunia media, nama Limi –begitu panggilan +Limi Maria Goretti- sudah malang melintang selama kurang lebih 20 tahun lebih. Latar belakangnya adalah seorang sales marketing. Ia pernah duduk di jajaran direksi di +TvOneNews dan +ANTV Wow Keren. Namanya makin dikenal begitu menjabat sebagai CEO Rajawali Televisi (RTV) pada 2013.
Limi masuk RTV saat televisi milik Peter Sondakh masih bernama B Channel. Dalam kisahnya, ketika awal masuk, Limi ditargetkan dalam tiga bulan harus melakukan rebranding. Sebelum resmi menggunakan nama ‘Rajawali Televisi’, ia menggunakan jasa konsultan. Konsultan ini sempat mengusulkan sejumlah nama, mulai dari Singa TV, Andromeda TV, Spekta TV, Komodo TV, dan beberapa nama lain. Hasilnya yang dipilih adalah +RAJAWALI TELEVISI - LANGIT RTV atau disingkat RTV sesuai dengan holding company-nya, yakni Rajawali Group.
Berkat Limi dan tim, lambat laun RTV sudah muncul awareness-nya. Namun, kerja keras Limi dan tim selama 20 bulan sebelum rebranding tak akan dirasakan lagi “kenikmatannya”. Awal September 2015 lalu, perempuan ini mengundurkan diri sebagai CEO RTV. Banyak spekulasi yang beredar mengenai pengunduran dirinya. Ada spekulasi yang mengatakan, ia undur diri, karena dianggap tak mampu dibebankan target dalam hal pendapatan iklan di RTV. Spekulasi lainnya, Limi tak klop bersinergi dengan “seseorang” yang dianggapnya sombong dan seolah-olah paling tahu industri media, padahal baru masuk industri media 2-3 tahun. Setidaknya hal ini terlihat dari status di akun Facebook pribadinya.

“Individu yang bekerja di media juga harus memiliki idealisme, karena media memegang peranan penting bagi stabilitas dan keamanan suatu negara. Hal ini yg menyebabkan pimpinan media harus matang secara mental dan spiritual serta memiliki kebijaksanaan dalam bertindak.
Media menjanjikan dunia yang glamour dan ketenaran, justru bagi yang belum ‘matang’ akhirnya terjebak dengan arogansi dan kesombongan. Sangat mudah bagi seseorang utk masuk ke industri media terutama televisi, akan tetapi seberapa lama mereka bisa bertahan?
Bandingkan dengan anak muda yg baru masuk industri media yg baru 2-3 tahun, tapi seolah-olah yang paling tahu industri ini. Kemudian langsung merasa bangga karna bisa berkenalan dengan pejabat penting, merasa lingkungan pergaulannya sudah beda dibandingkan dengan teman-temannya. Muncul rasa pongah. Lantas bagaimana sikapnya jika para senior berkumpul, akhirnya hukum alam berbicara. Orang tersebut akan tersisihkan dengan sendirinya.”
Kini, sejak Limi mengundurkan diri, posisi CEO RTV diisi oleh Satrio. Pria ini bukanlah broadcaster atau berlatar belakang dari industri media. Ia adalah tangan kanan dari pemilik RTV, yakni Peter Sondakh. Nama Peter sendiri tentu bukan nama baru di dunia pertelevisian. Bersama Bimantara, di bawah Rajawali Group, ia membangun RCTI dari 1989 hingga 2000.
Satrio adalah seorang yang berlatar belakang sebagai auditor. Ia pernah bekerja di Pricewater House. Sebetulnya Satrio bukanlah orang baru di RTV dan baru masuk saat Limi resign. Pria lulusan +Harvard University ini sudah ada sejak B Channel bersiaran. Jasanya tidak sedikit. Satrio lah yang mengurus seluruh perizinan hingga RTV bisa dinikmati siarannya di 33 kota.
Namun, pria yang baru berusia 33 tahun ini hanya sebagai CEO sementara. Saat ini RTV sedang mencari CEO pengganti Limi. Siapakah? Akankah orang yang duduk di posisi tinggi tersebut berasal dari kalangan senior broadcaster atau industri media?
Kamis, 17 September 2015
DARI MTGW KE SUPERONE
Teka-teki stasiun televisi penayang motivator Mario Teguh akhirnya
terjawab sudah. Begitu kelar berkolaborasi dengan Metro TV per September
2015 lalu, seluruh penggemar Mario Teguh sempat dibuat penasaran kemana
sang idola mereka akan berlabuh. Televisi teresterial kah? Televisi
berjaringan? Atau barangkali televisi berlangganan?
Namun, sebuah poster telah dipublikasikan ke publik. Selain foto diri sang motivator, di poster ini lengkap dengan judul program baru dan jam tayang. Kalau di Metro TV memakai judul Mario Teguh Golden Way (MTGW), judul baru acara Mario Teguh kali ini SUPERONE.
“Sebuah talkshow interaktif pengembangan diri yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi kehidupan pemirsa. Menghadirkan tema-tema aplikatif dari kehidupan sehari-hari..”
Begitulah bunyi serangkaian kata-kata untuk acara baru Mario Teguh, yakni SUPERONE. Dari judul acara tersebut, Anda pasti sudah bisa menebak, stasiun televisi yang menayangkannya.
BENAR! Mario Teguh kini hadir di tvOne. Spekulasi penayangan selama ini akhirnya sudah terjawab. Mulai minggu depan, Anda sebagai penonton setia Mario Teguh mulai memantengkan kanal Anda ke stasiun televisi yang sebagian besar sahamnya masih dimiliki Bakrie Group ini. Sebetulnya, jika Anda penggemar Mario Teguh yang pernah menonton studio di Grand Studio Metro TV, minggu lalu sempat diundang pihak managemen Mario Teguh pasti sudah tahu. Sebab, kabarnya syuting SUPERONE sudah dilakukan bulan lalu.
Entah apa alasan Mario Teguh hijrah ke televisi pesaing Metro TV ini. Ada yang mengatakan, jangan-jangan info ini cuma hoax. Hoax atau bukan, kabarnya acara SUPERONE ini pun “memakai slot “ saat MTGW masih tayang di Metro TV, yakni setiap Minggu pukul 19:00-20:30 WIB. Saat di Metro TV, slot tersebut berhasil meraih jumlah rating-share yang luar biasa. Bahkan beberapa kali ada acara di televisi kompetitor, rating-share MTGW masih tetap unggul.
Nah, apakah SUPERONE mampu mempertahankan kedigdayaan Mario Teguh sebagaimana saat di MTGW dulu? Lalu, apakah slot yang “dimanfaatkan” tvOne akan meraih kesuksesan yang sama dengan Metro TV? Cukup menarik untuk kita ikuti perjalanan karir Mario Teguh ini, termasuk mengetahui info ini hoax apa bukan.
Salam Super!
Namun, sebuah poster telah dipublikasikan ke publik. Selain foto diri sang motivator, di poster ini lengkap dengan judul program baru dan jam tayang. Kalau di Metro TV memakai judul Mario Teguh Golden Way (MTGW), judul baru acara Mario Teguh kali ini SUPERONE.
“Sebuah talkshow interaktif pengembangan diri yang mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi kehidupan pemirsa. Menghadirkan tema-tema aplikatif dari kehidupan sehari-hari..”
Begitulah bunyi serangkaian kata-kata untuk acara baru Mario Teguh, yakni SUPERONE. Dari judul acara tersebut, Anda pasti sudah bisa menebak, stasiun televisi yang menayangkannya.
BENAR! Mario Teguh kini hadir di tvOne. Spekulasi penayangan selama ini akhirnya sudah terjawab. Mulai minggu depan, Anda sebagai penonton setia Mario Teguh mulai memantengkan kanal Anda ke stasiun televisi yang sebagian besar sahamnya masih dimiliki Bakrie Group ini. Sebetulnya, jika Anda penggemar Mario Teguh yang pernah menonton studio di Grand Studio Metro TV, minggu lalu sempat diundang pihak managemen Mario Teguh pasti sudah tahu. Sebab, kabarnya syuting SUPERONE sudah dilakukan bulan lalu.
Entah apa alasan Mario Teguh hijrah ke televisi pesaing Metro TV ini. Ada yang mengatakan, jangan-jangan info ini cuma hoax. Hoax atau bukan, kabarnya acara SUPERONE ini pun “memakai slot “ saat MTGW masih tayang di Metro TV, yakni setiap Minggu pukul 19:00-20:30 WIB. Saat di Metro TV, slot tersebut berhasil meraih jumlah rating-share yang luar biasa. Bahkan beberapa kali ada acara di televisi kompetitor, rating-share MTGW masih tetap unggul.
Nah, apakah SUPERONE mampu mempertahankan kedigdayaan Mario Teguh sebagaimana saat di MTGW dulu? Lalu, apakah slot yang “dimanfaatkan” tvOne akan meraih kesuksesan yang sama dengan Metro TV? Cukup menarik untuk kita ikuti perjalanan karir Mario Teguh ini, termasuk mengetahui info ini hoax apa bukan.
Salam Super!
Senin, 14 September 2015
TELEVISI MANA IKUT JEJAK BLOOMBERG TV?
Begitu mendengar Bloomberg TV akan membuka “cabang” di tanah air,
sejumlah orang langsung meramalkan, stasiun televisi berita yang sudah
eksis akan “goyang”. Stasiun televisi berita yang dimaksud tak lain
adalah Metro TV dan tvOne yang masih jadi “pemain utama” di jalur
televisi berita. Diramalkan, dua stasiun berita ini bakal kehilangan
separuh penonton. Betapa tidak, Bloomberg TV sudah cukup tersohor di
negara asalnya.
Bloomberg TV menjadi satu-satunya televisi yang menayangkan berita mengenai dunia ekonomi dan bisnis selama 24 jam. Televisi ini didukung oleh jaringan internasional Bloomberg yang terdiri dari 2.300 jurnalis profesional. Mereka tersebar di 146 biro dan 72 negara. Menurut data, jaringan televisi ini disiarkan ke lebih dari 330 juta rumah tangga di seluruh dunia. Luar biasa bukan?
Makin heboh ramalannya, kondisi Metro TV dan tvOne bakal “goyang”. Bagai kapal kehilangan nahkoda, begitu tersiar kabar, beberapa SDM di dua televisi ini hijrah ke Bloomberg TV. Operasional redaksi bakal timpang. Maklumlah, SDM yang hijrah ke Bloomberg TV kebanyakan senior, termasuk dua newsanchor model Kania Sutisnawinata dan Tommy Tjokro.
Namun ramalan tersebut tak terbukti. Metro TV dan tvOne ternyata masih tetap eksis. Justru yang “goyang” dan dikabarkan akan bangkrut adalah Bloomberg TV. Kabar secara resmi menginfokan terjadi PHK. Padahal, usia televisi yang menyiarkan informasi bisnis 24 jam pertama di Indonesia ini baru seumur jagung, yakni 2 tahun. Bloomberg TV tayang perdana 11 Juli 2013.
Apa yang menyebabkan Bloomberg TV “goyang”?
Jawabannya "sederhana" dan Anda pasti bisa menerka. Apakah Anda bisa leluasa melihat tayangan Bloomberg TV di pesawat televisi Anda di rumah? Sebagian besar dari Anda pasti menjawab: tidak.
Yup! Bloomberg TV bukan televisi teresterial sebagaimana Metro TV dan tvOne. Bloomberg TV hanya bisa dinikmati oleh pelanggan First Media, tepatnya di kanal nomer 13. Artinya, jika mau menonton Bloomberg TV harus berlangganan terlebih dahulu alias tidak gratis. Beda dengan Metro TV dan tvOne yang bisa Anda nikmati tayangannya tanpa bayar.
Sebetulnya, sebelum Bloomberg TV dikabarkan bangkrut, ada televisi lain yang diam-diam juga “sempoyongan”, yakni BeritaSatu. Seperti juga Bloomberg TV, kondisi yang menyebabkan BeritaSatu “sempoyongan” adalah, tidak semua orang bisa menyaksikan tayangan BeritaSatu. Penonton yang mau menyaksikan BeritaSatu harus berlangganan First Media atau Telkom Vision.
Padahal ketika sejumlah SDM dari Metro TV dan tvOne hijrah besar-besaran ke BeritaSatu, lagi-lagi banyak yang meramalkan akan “goyang”. Penonton boleh saja “terpecah-pecah”, tetapi sebagai stasiun teresterial yang bersiaran nasional dan gratis, Metro TV dan tvOne tetap menang.
Kompas TV sebetulnya juga sempat "sempoyongan". Memang, untuk menyaksikan televisi milik Kompas-Gramedia ini bisa gratis. Namun, kategori siarannya bukan teresterial seperti Metro TV dan tvOne, tetapi televisi berjaringan. Sistem televisi berjaringan adalah, bekerjasama dengan televisi-televisi lokal setempat, agar siaran si televisi berjaringan ini ingin ditangkap secara nasional.
Beruntunglah +BeritaSatuTV dan +Kompas TV masih punya kekuatan dana besar dari holding company mereka. BeritaSatu masih disokong oleh +Lippo Group, sementara dana KompasTV sebagian besar dari +Kompas Gramedia. Oleh karena masih ada bantuan besar, “nafas” BeritaSatu dan Kompas TV tidak kembang kempis sebagaimana Bloomberg TV. Jadi, siapa menyusul +Bloomberg TV?
Belakangan, kehadiran CNN Indonesia cukup menarik. Namun, kehadiran televisi milik Chairul Tanjung ini sebetulnya mengulang kehadiran BeritaSatu, kala BeritaSatu pertama kali hendak bersiaran pada 2011. Berlomba-lomba SDM +metrotvnews dan +TvOneNews resign dan hijrah ke BeritaSatu. Mereka tergiur dengan posisi dan tentu saja gaji yang besar. Ketika +CNN Indonesia buka lowongan dan merekrut SDM, peristiwa yang sama terjadi. Senior-senior broadcaster berlomba-lomba menuju ke Tendean, Jakarta Selatan.
Namun, sebagaimana BeritaSatu, Anda tak bisa leluasa melihat CNN Indonesia, jika tidak berlangganan televisi berlangganan (pay tv). Anda harus berlangganan TransVision terlebih dahulu baru bisa melihat wajah newsanchor tampan seperti Alfito Deanova, Indra Maulana, Prabu Revolusi, atau newsanchor cantik seperti Eva Julianti atau Elvira Khairunnisa.
Apakah kehadiran CNN Indonesia bisa "memecah" penonton televisi berita? Pasti. Sebelum ada CNN Indonesia pun penonton sudah "terpecah-pecah", terlebih lagi ada pesaing baru iNews *cc +iNewsTV - Jaringan Daerah*. Tetapi apakah kehadiran CNN Indonesia akan menggoyangkan dua stasiun televisi teresterial sebelumnya? Anda tahu jawabannya. Yang pasti, “nasib” CNN Indonesia masih jauh lebih aman dibanding Bloomberg TV. Ada +Trans Corp Channel, sang penyokong dana, yang sudah lebih dulu mengibarkan Trans TV *+TRANS TV Official* dan +TRANS 7 di jagat pertelevisian nasional.
Bloomberg TV menjadi satu-satunya televisi yang menayangkan berita mengenai dunia ekonomi dan bisnis selama 24 jam. Televisi ini didukung oleh jaringan internasional Bloomberg yang terdiri dari 2.300 jurnalis profesional. Mereka tersebar di 146 biro dan 72 negara. Menurut data, jaringan televisi ini disiarkan ke lebih dari 330 juta rumah tangga di seluruh dunia. Luar biasa bukan?
Makin heboh ramalannya, kondisi Metro TV dan tvOne bakal “goyang”. Bagai kapal kehilangan nahkoda, begitu tersiar kabar, beberapa SDM di dua televisi ini hijrah ke Bloomberg TV. Operasional redaksi bakal timpang. Maklumlah, SDM yang hijrah ke Bloomberg TV kebanyakan senior, termasuk dua newsanchor model Kania Sutisnawinata dan Tommy Tjokro.
Namun ramalan tersebut tak terbukti. Metro TV dan tvOne ternyata masih tetap eksis. Justru yang “goyang” dan dikabarkan akan bangkrut adalah Bloomberg TV. Kabar secara resmi menginfokan terjadi PHK. Padahal, usia televisi yang menyiarkan informasi bisnis 24 jam pertama di Indonesia ini baru seumur jagung, yakni 2 tahun. Bloomberg TV tayang perdana 11 Juli 2013.
Apa yang menyebabkan Bloomberg TV “goyang”?
Jawabannya "sederhana" dan Anda pasti bisa menerka. Apakah Anda bisa leluasa melihat tayangan Bloomberg TV di pesawat televisi Anda di rumah? Sebagian besar dari Anda pasti menjawab: tidak.
Yup! Bloomberg TV bukan televisi teresterial sebagaimana Metro TV dan tvOne. Bloomberg TV hanya bisa dinikmati oleh pelanggan First Media, tepatnya di kanal nomer 13. Artinya, jika mau menonton Bloomberg TV harus berlangganan terlebih dahulu alias tidak gratis. Beda dengan Metro TV dan tvOne yang bisa Anda nikmati tayangannya tanpa bayar.
Sebetulnya, sebelum Bloomberg TV dikabarkan bangkrut, ada televisi lain yang diam-diam juga “sempoyongan”, yakni BeritaSatu. Seperti juga Bloomberg TV, kondisi yang menyebabkan BeritaSatu “sempoyongan” adalah, tidak semua orang bisa menyaksikan tayangan BeritaSatu. Penonton yang mau menyaksikan BeritaSatu harus berlangganan First Media atau Telkom Vision.
Padahal ketika sejumlah SDM dari Metro TV dan tvOne hijrah besar-besaran ke BeritaSatu, lagi-lagi banyak yang meramalkan akan “goyang”. Penonton boleh saja “terpecah-pecah”, tetapi sebagai stasiun teresterial yang bersiaran nasional dan gratis, Metro TV dan tvOne tetap menang.
Kompas TV sebetulnya juga sempat "sempoyongan". Memang, untuk menyaksikan televisi milik Kompas-Gramedia ini bisa gratis. Namun, kategori siarannya bukan teresterial seperti Metro TV dan tvOne, tetapi televisi berjaringan. Sistem televisi berjaringan adalah, bekerjasama dengan televisi-televisi lokal setempat, agar siaran si televisi berjaringan ini ingin ditangkap secara nasional.
Beruntunglah +BeritaSatuTV dan +Kompas TV masih punya kekuatan dana besar dari holding company mereka. BeritaSatu masih disokong oleh +Lippo Group, sementara dana KompasTV sebagian besar dari +Kompas Gramedia. Oleh karena masih ada bantuan besar, “nafas” BeritaSatu dan Kompas TV tidak kembang kempis sebagaimana Bloomberg TV. Jadi, siapa menyusul +Bloomberg TV?
Belakangan, kehadiran CNN Indonesia cukup menarik. Namun, kehadiran televisi milik Chairul Tanjung ini sebetulnya mengulang kehadiran BeritaSatu, kala BeritaSatu pertama kali hendak bersiaran pada 2011. Berlomba-lomba SDM +metrotvnews dan +TvOneNews resign dan hijrah ke BeritaSatu. Mereka tergiur dengan posisi dan tentu saja gaji yang besar. Ketika +CNN Indonesia buka lowongan dan merekrut SDM, peristiwa yang sama terjadi. Senior-senior broadcaster berlomba-lomba menuju ke Tendean, Jakarta Selatan.
Namun, sebagaimana BeritaSatu, Anda tak bisa leluasa melihat CNN Indonesia, jika tidak berlangganan televisi berlangganan (pay tv). Anda harus berlangganan TransVision terlebih dahulu baru bisa melihat wajah newsanchor tampan seperti Alfito Deanova, Indra Maulana, Prabu Revolusi, atau newsanchor cantik seperti Eva Julianti atau Elvira Khairunnisa.
Apakah kehadiran CNN Indonesia bisa "memecah" penonton televisi berita? Pasti. Sebelum ada CNN Indonesia pun penonton sudah "terpecah-pecah", terlebih lagi ada pesaing baru iNews *cc +iNewsTV - Jaringan Daerah*. Tetapi apakah kehadiran CNN Indonesia akan menggoyangkan dua stasiun televisi teresterial sebelumnya? Anda tahu jawabannya. Yang pasti, “nasib” CNN Indonesia masih jauh lebih aman dibanding Bloomberg TV. Ada +Trans Corp Channel, sang penyokong dana, yang sudah lebih dulu mengibarkan Trans TV *+TRANS TV Official* dan +TRANS 7 di jagat pertelevisian nasional.
EPISODE TERAKHIR MTGW DI METRO TV
“Pacing Cinta”
Itulah judul Mario Teguh Golden Way (MTGW) pada Minggu, 13 September 2015 lalu. Di episode itu Mario Teguh akan memaparkan perbaikan diri, agar kita lebih berkualitas dan disukai oleh orang lain. Sebagai manusia yang dianugerahkan keunggulan, terkadang kita memang malas untuk meningkatkan kualitas. Padahal, dengan meningkatkan kualitas, kita akan disukai oleh orang lain, termasuk oleh pasangan kita.
Episode Pancing Cinta yang di Metro TV pada pukul 19:30 hingga 21:00 WIB itu merupakan episode terakhir MTGW tayang di Metro TV. Kaget? Tak perlu, berita ini sudah penulis konfirmasi ke pihak MTGW dan juga Metro TV.
MTGW pertama kali ditayangkan di Metro TV pada Desember 2008. Sejak awal, MTGW menggunakan format ala seminar motivasi. Mario sebagai pembicara menjelaskan paparan sesuai tema. Lalu, di segmen berikut ada penonton yang bertanya. Segmen lain, Mario mengajak penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, untuk berperan melakukan polling. Ada tiga pertanyaan yang diajukan, para pemirsa tinggal menekan tombol alat polling yang sudah disediakan. Hasil polling ini akan dibahas di segmen berikut.
Program ini memiliki konsep inspiratif dan motivatif. Tema-tema yang diangkat setiap episode mayoritas terinspirasi dari problem hidup para penggemar setianya, yang selalu menuliskan kegalauannya via akun Facebook. Harap maklum, sampai September 2015 ini Facebook Mario sudah beranggotakan 16,2 juta. Hebatnya, anggota yang aktif di Facebook pun luar biasa biasa. Bayangkan, satu kali update status, yang memberikan "jempol" minimal 10 ribu. Jadi, sangat mudah mengukur tema-tema yang layak untuk ditampilkan
Selain terinspirasi dari Facebook, tema bisa juga berasal dari judul lagu atau kalimat-kalimat yang sedang happening. Sebagai contoh kalimat: Sakitnya Tuh Di Sini. Ada banyak kalimat gaul yang dijadikan judul: Aku Tuh Nggak Bisa Digituin, UN No Worries, Yang Bener Aja, Kebangetan, Jomblo Prinsip atau Nasib, dan masih banyak lagi. Mengambil tema atau kalimat yang lagi happening merupakan salah satu resep sukses MTGW hingga bisa bertahan selama 8 tahun. Selalu melakukan pembaharuan dengan mengikuti tren.
Belakangan pada 2014, konsep tema dan materi pembahasan MTGW berubah. Ia ingin membuat "penonton baru" dari kalangan muda. Tahu sendiri, penonton Metro TV berusia AB 40+ atau segmentasi kelas AB usia 40 tahun ke atas. Membentuk "penonton baru" menjadi strategi sukses MTGW lain. Meski usia sudah tak muda lagi, tetapi Mario pun coba meng-update dunia ABG. Selain tema, sejak 2014, tiap episode MTGW mulai menampilkan meme (biasa dibaca mim, adalah kumpulan gambar yang dicampur dengan tulisan atau sebaliknya). Walhasil, penonton MTGW bukan lagi para orangtua, tetapi juga pelajar dan anak-anak muda yang punya segudang masalah, mulai dari kegaulan, percintaan, bahkan tema-tema mengenai jomblo. Makin menarik dan mengambil banyak penonton muslim, di antara pembahasan, terkadang Mario menyisipkan kalimat-kalimat yang diambil dari al-Qur’an maupun Hadist.
Segmen curhat yang ada di beberapa segmen, membuat MTGW tetap mempertahankan kesuksesan hingga kini. Di antara 300 penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, tim Mario Teguh Super Crew (MTSC) -tim dari Mario Teguh- akan memillih beberapa orang penonton yang memiliki curhat sesuai dengan tema. Sebagian dari Anda yang menjadi penonton setia pasti tertawa mendengar curhat-curhat yang ditampilkan di MTGW, setidaknya tersenyum.
Tentu, kesuksesan MTGW memang tak bisa lepas dari kata-kata inspiratif Mario Teguh di tiap episodenya. Kata-kata ini muncul, tentu setelah sang motivator memberikan penjelasan sederhana atas problematika yang dihadapi penonton yang curhat di atas panggung. Sambil mendengar, sesekali Mario memancing pertanyaan pada penonton yang curhat agar berpikir dan menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Sampai akhirnya Mario yang menjelaskan problem dan memberikan solusi. Para penonton yang curhat ini pun mampu menangkap penjelasan sederhana tersebut oleh penonton.
Selama ini belum ada acara motivasi yang bertahan sebagaimana MTGW yang sudah 7 tahun. Jika ada acara yang saat ini sukses, boleh jadi, karena terdapat elemen lain, yakni pengisi acara atau narasumber yang berganti-ganti. Tentu saja dengan kehebatan pembawa acara atau newsanchor. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada MTGW. Acara ini cuma “mengandalkan” kekuatan Mario. Tak ada artis sebagai pengisi acara atau narasumber yang menjadi newsmaker yang diundang ke studio.
Terlepas dari kekuatan konsep yang dimiliki oleh MTGW dan juga Mario Teguh, tentu tak bisa lepas dari peran Metro TV yang menjadi lembaga penyiar acara inspiratif dan motivatif ini. Dengan tagline-nya knowledge to elevate, Metro TV berhasil menggangkat Mario menjadi sukses sekarang ini. Peran Metro TV tak bisa dianggap remeh. Ibaratnya, kemilau seorang Mario berhasil "diasah" di Metro TV. Tentu Anda tahu, sebelum di Metro TV, Mario sempat muncul di acara Business Art di O'Channel.
Namun sayang, kolaborasi Metro TV dan MTGW harus berakhir. Tepat pada Minggu, 13 September 2015 lalu, MTGW tayang untuk terakhir kali di Metro TV. Tentu saya tak akan menyebutkan kenapa kolaborasi ini berakhir dan ke televisi mana MTGW akan ditayangkan. Yang pasti, begitu kolaborasi ini berakhir, banyak spekulasi bernada pesimis dan optimis. Ada yang mengatakan, MTGW tak akan sukses jika tak tayang di Metro TV. Sebaliknya, ada yang secara optimis mengatakan, MTGW tetap akan besar dan ditonton banyak orang. Sebab, penonton televisi tak loyal pada satu stasiun televisi, tetapi pada acara. Mana pendapat yang benar, mari kita buktikan bersama.
Salam Super!
Itulah judul Mario Teguh Golden Way (MTGW) pada Minggu, 13 September 2015 lalu. Di episode itu Mario Teguh akan memaparkan perbaikan diri, agar kita lebih berkualitas dan disukai oleh orang lain. Sebagai manusia yang dianugerahkan keunggulan, terkadang kita memang malas untuk meningkatkan kualitas. Padahal, dengan meningkatkan kualitas, kita akan disukai oleh orang lain, termasuk oleh pasangan kita.
Episode Pancing Cinta yang di Metro TV pada pukul 19:30 hingga 21:00 WIB itu merupakan episode terakhir MTGW tayang di Metro TV. Kaget? Tak perlu, berita ini sudah penulis konfirmasi ke pihak MTGW dan juga Metro TV.
Kenangan saya saat syuting bersama Mario Teguh di Paris, Perancis beberapa waktu lalu
MTGW pertama kali ditayangkan di Metro TV pada Desember 2008. Sejak awal, MTGW menggunakan format ala seminar motivasi. Mario sebagai pembicara menjelaskan paparan sesuai tema. Lalu, di segmen berikut ada penonton yang bertanya. Segmen lain, Mario mengajak penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, untuk berperan melakukan polling. Ada tiga pertanyaan yang diajukan, para pemirsa tinggal menekan tombol alat polling yang sudah disediakan. Hasil polling ini akan dibahas di segmen berikut.
Program ini memiliki konsep inspiratif dan motivatif. Tema-tema yang diangkat setiap episode mayoritas terinspirasi dari problem hidup para penggemar setianya, yang selalu menuliskan kegalauannya via akun Facebook. Harap maklum, sampai September 2015 ini Facebook Mario sudah beranggotakan 16,2 juta. Hebatnya, anggota yang aktif di Facebook pun luar biasa biasa. Bayangkan, satu kali update status, yang memberikan "jempol" minimal 10 ribu. Jadi, sangat mudah mengukur tema-tema yang layak untuk ditampilkan
Selain terinspirasi dari Facebook, tema bisa juga berasal dari judul lagu atau kalimat-kalimat yang sedang happening. Sebagai contoh kalimat: Sakitnya Tuh Di Sini. Ada banyak kalimat gaul yang dijadikan judul: Aku Tuh Nggak Bisa Digituin, UN No Worries, Yang Bener Aja, Kebangetan, Jomblo Prinsip atau Nasib, dan masih banyak lagi. Mengambil tema atau kalimat yang lagi happening merupakan salah satu resep sukses MTGW hingga bisa bertahan selama 8 tahun. Selalu melakukan pembaharuan dengan mengikuti tren.
Belakangan pada 2014, konsep tema dan materi pembahasan MTGW berubah. Ia ingin membuat "penonton baru" dari kalangan muda. Tahu sendiri, penonton Metro TV berusia AB 40+ atau segmentasi kelas AB usia 40 tahun ke atas. Membentuk "penonton baru" menjadi strategi sukses MTGW lain. Meski usia sudah tak muda lagi, tetapi Mario pun coba meng-update dunia ABG. Selain tema, sejak 2014, tiap episode MTGW mulai menampilkan meme (biasa dibaca mim, adalah kumpulan gambar yang dicampur dengan tulisan atau sebaliknya). Walhasil, penonton MTGW bukan lagi para orangtua, tetapi juga pelajar dan anak-anak muda yang punya segudang masalah, mulai dari kegaulan, percintaan, bahkan tema-tema mengenai jomblo. Makin menarik dan mengambil banyak penonton muslim, di antara pembahasan, terkadang Mario menyisipkan kalimat-kalimat yang diambil dari al-Qur’an maupun Hadist.
Segmen curhat yang ada di beberapa segmen, membuat MTGW tetap mempertahankan kesuksesan hingga kini. Di antara 300 penonton yang berada di dalam Grand Studio Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat, tim Mario Teguh Super Crew (MTSC) -tim dari Mario Teguh- akan memillih beberapa orang penonton yang memiliki curhat sesuai dengan tema. Sebagian dari Anda yang menjadi penonton setia pasti tertawa mendengar curhat-curhat yang ditampilkan di MTGW, setidaknya tersenyum.
Tentu, kesuksesan MTGW memang tak bisa lepas dari kata-kata inspiratif Mario Teguh di tiap episodenya. Kata-kata ini muncul, tentu setelah sang motivator memberikan penjelasan sederhana atas problematika yang dihadapi penonton yang curhat di atas panggung. Sambil mendengar, sesekali Mario memancing pertanyaan pada penonton yang curhat agar berpikir dan menemukan solusi atas masalah mereka sendiri. Sampai akhirnya Mario yang menjelaskan problem dan memberikan solusi. Para penonton yang curhat ini pun mampu menangkap penjelasan sederhana tersebut oleh penonton.
Selama ini belum ada acara motivasi yang bertahan sebagaimana MTGW yang sudah 7 tahun. Jika ada acara yang saat ini sukses, boleh jadi, karena terdapat elemen lain, yakni pengisi acara atau narasumber yang berganti-ganti. Tentu saja dengan kehebatan pembawa acara atau newsanchor. Namun, hal tersebut tidak berlaku pada MTGW. Acara ini cuma “mengandalkan” kekuatan Mario. Tak ada artis sebagai pengisi acara atau narasumber yang menjadi newsmaker yang diundang ke studio.
Terlepas dari kekuatan konsep yang dimiliki oleh MTGW dan juga Mario Teguh, tentu tak bisa lepas dari peran Metro TV yang menjadi lembaga penyiar acara inspiratif dan motivatif ini. Dengan tagline-nya knowledge to elevate, Metro TV berhasil menggangkat Mario menjadi sukses sekarang ini. Peran Metro TV tak bisa dianggap remeh. Ibaratnya, kemilau seorang Mario berhasil "diasah" di Metro TV. Tentu Anda tahu, sebelum di Metro TV, Mario sempat muncul di acara Business Art di O'Channel.
Namun sayang, kolaborasi Metro TV dan MTGW harus berakhir. Tepat pada Minggu, 13 September 2015 lalu, MTGW tayang untuk terakhir kali di Metro TV. Tentu saya tak akan menyebutkan kenapa kolaborasi ini berakhir dan ke televisi mana MTGW akan ditayangkan. Yang pasti, begitu kolaborasi ini berakhir, banyak spekulasi bernada pesimis dan optimis. Ada yang mengatakan, MTGW tak akan sukses jika tak tayang di Metro TV. Sebaliknya, ada yang secara optimis mengatakan, MTGW tetap akan besar dan ditonton banyak orang. Sebab, penonton televisi tak loyal pada satu stasiun televisi, tetapi pada acara. Mana pendapat yang benar, mari kita buktikan bersama.
Salam Super!
Sabtu, 05 September 2015
WA TEMAN SAYA SOAL BLOOMBERG TV
Pagi itu tiba-tiba ada what's app (WA) masuk ke handphone saya dari salah seorang teman. Sebut saja nama teman saya ini TBC.
Saya mengenal teman saya ini saat masih kerja di salah satu televisi nasional. Ia karyawan yang rajin dan sangat profesional di bidangnya. Ketika membaca WA-nya, miris sekali rasanya.
Berikut percakapan saya di WA tanpa di-lebay-lebay-in...
Begitulah sekelumit komunikasi saya via WA yang masih saya simpan sampai sekarang. Kasihan teman saya ini sekarang "mengemis-ngemis" minta lowongan kerja alias loker. Dan saya yakin, bukan TBC saja yang merasakan hal yang sama. Beberapa teman lain di Bloomberg juga sedang galau dengan nasibnya. Untung ada satu teman saya yang sudah buru-buru pindah ke stasiun televisi lain. Sementara ada dua news anchor yang saya kenal sudah kena PHK.
Sebetulnya tentang kebangkrutan Bloomberg TV bukan baru saja dengar sekarang ini saja. Beberapa bulan lalu sudah saya dengar, bahkan saya sempat membuat prediksi, "nafas" Bloomberg TV nggak akan lama. Ada satu ada dua tulisan yang pernah saya posting. Namun, soal gaji yang sekarang tinggal diberikan 50% dan THR dicicil baru akhir Agustus 2015 lalu saya dengar, ya lewat teman saya itu.
Ah, apapun yang sedang terjadi, saya berdoa kepada para pemilik dan semua karyawan tetapi diberikan kemudahaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalo pemilik, diberikan kemudahan agar tidak terjadi huru-hara yang menyebabkan kerugian materi maupun non-materi. Sementara untuk karyawan-karyawannya, kelak mereka mendapatkan pekerjaan kembali sesuai dengan keinginan mereka. Aamiiin....
Saya mengenal teman saya ini saat masih kerja di salah satu televisi nasional. Ia karyawan yang rajin dan sangat profesional di bidangnya. Ketika membaca WA-nya, miris sekali rasanya.
Berikut percakapan saya di WA tanpa di-lebay-lebay-in...
TBC:
Pak ada loker nggak?
Ombrill:
Lho, emangnya kenapa?
TBC:
Bloomberg udah mau tutup nih?
Ombrill:
Hah?! Serius?!
TBC:
Iya...
Gaji aja cuma dibayar 50%...
Ombrill:
Hah?! Serius gaji Bloomberg sekarang cuma dibayar 50%?
TBC:
Iye...
Ombrill:
Sejak kapan?
TBC:
Sejak Juli...
Ombrill:
Busyet!!!
Trus THR kemarin gimana? Ente dapat THR dong?
TBC:
Dapat, tapi dicicil...
Full, tapi dicicil
Ombrill:
Walaah!!!
Oh iya, ane denger ada PHK, bener nggak?
TBC:
Sudah...
Gimana pak, ada loker nggak?
Ombrill:
Loker belum dengar nih. Nanti kalo kebetulan dengar, saya kabari ya...
Begitulah sekelumit komunikasi saya via WA yang masih saya simpan sampai sekarang. Kasihan teman saya ini sekarang "mengemis-ngemis" minta lowongan kerja alias loker. Dan saya yakin, bukan TBC saja yang merasakan hal yang sama. Beberapa teman lain di Bloomberg juga sedang galau dengan nasibnya. Untung ada satu teman saya yang sudah buru-buru pindah ke stasiun televisi lain. Sementara ada dua news anchor yang saya kenal sudah kena PHK.
Sebetulnya tentang kebangkrutan Bloomberg TV bukan baru saja dengar sekarang ini saja. Beberapa bulan lalu sudah saya dengar, bahkan saya sempat membuat prediksi, "nafas" Bloomberg TV nggak akan lama. Ada satu ada dua tulisan yang pernah saya posting. Namun, soal gaji yang sekarang tinggal diberikan 50% dan THR dicicil baru akhir Agustus 2015 lalu saya dengar, ya lewat teman saya itu.
Ah, apapun yang sedang terjadi, saya berdoa kepada para pemilik dan semua karyawan tetapi diberikan kemudahaan dari Tuhan Yang Maha Esa. Kalo pemilik, diberikan kemudahan agar tidak terjadi huru-hara yang menyebabkan kerugian materi maupun non-materi. Sementara untuk karyawan-karyawannya, kelak mereka mendapatkan pekerjaan kembali sesuai dengan keinginan mereka. Aamiiin....
ACARA "BERITA ISLAM MASA KINI" DIPROTES
Kalo sebelumnya yang diprotes acara agama di Trans7, kali ini giliran Trans TV. Acara yang menjadi sasaran protes adalah Berita Islam Masa Kini.
"Saya warga NU merasa sangat terganggu dengan adegan Saskia Adya Meicha dan Tengku Wisnu di acara "Berita Islam Masa Kini" di Trans TV yang mengatakan bahwa al-Fatihah untuk ahli kubur dan setelah sholat dianggap bid'ah. Trans TV jadi tv wahhabi yang menyulut api fitnah. Hal ini meresahkan kami warga NU harap KPI MENGHENTIKAN ACARA tersebut!!! Karena meresahkan dan bisa memecah belah umat
Silahkan kirim ke KPI Pusat: 081228786662 - 081219719789"
Begitulah bunyi protes yang sempat dikirimkan ke BB saya.
Terus terang saya penggemar acara Berita Islam Masa Kini. Beberapa episodenya sangat menarik. Namun, saya tidak sempat menyaksikan ada episode yang diprotes orang yang mengaku warga NU ini. Saya tidak tahu siapa tim Berita Islam Masa Kini, apakah mereka punya tim ahli yang terdiri dari sejumlah Ustadz, sebagaimana acara Khazanah (Trans7). Kalo ada, berarti Produser dan tim kreatif tidak asal membuat paket berita ini, karena bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi kalo tidak, mereka saya anggap melakukan "bunuh diri".
Terlepas dari salah apa benar, protes orang yang mengatasnamakan warga NU di atas terlalu berlebihan. "Ia" meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menghentikan acara Berita Islam Masa Kini, hanya, karena episode tersebut menyinggung mereka. Sebab, jika yang dianggap tidak cocok dengan "dirinya" cuma satu episode itu, ya tidak perlu menghentikan acara. Toh, sejauh ini teman-teman NU saya tidak pernah protes dengan acara Berita Islam Masa Kini ini.
Namun rupanya KPI tetap memberikan surat teguran bernomer 913/K/KPI/09/15 tertanggal 4 September 2015 pada acara Berita Islam Masa Kini ini.
Berikut surat KPI ke Trans TV:
Kami meminta saudari berhati-hati dalam
menyajikan program yang berkaitan dengan agama agar tidak menyinggung
pandangan/paham dalam suatu agama maupun agama lain. Saudari wajib
menjadikan P3 dan SPS KPI Tahun 2012 sebagai acuan utama dalam
penayangan sebuah program siaran. Demikian agar sanksi administratif
teguran tertulis kedua ini diperhatikan dan dipatuhi. Terima kasih
"Saya warga NU merasa sangat terganggu dengan adegan Saskia Adya Meicha dan Tengku Wisnu di acara "Berita Islam Masa Kini" di Trans TV yang mengatakan bahwa al-Fatihah untuk ahli kubur dan setelah sholat dianggap bid'ah. Trans TV jadi tv wahhabi yang menyulut api fitnah. Hal ini meresahkan kami warga NU harap KPI MENGHENTIKAN ACARA tersebut!!! Karena meresahkan dan bisa memecah belah umat
Silahkan kirim ke KPI Pusat: 081228786662 - 081219719789"
Begitulah bunyi protes yang sempat dikirimkan ke BB saya.
Terus terang saya penggemar acara Berita Islam Masa Kini. Beberapa episodenya sangat menarik. Namun, saya tidak sempat menyaksikan ada episode yang diprotes orang yang mengaku warga NU ini. Saya tidak tahu siapa tim Berita Islam Masa Kini, apakah mereka punya tim ahli yang terdiri dari sejumlah Ustadz, sebagaimana acara Khazanah (Trans7). Kalo ada, berarti Produser dan tim kreatif tidak asal membuat paket berita ini, karena bisa dipertanggung jawabkan. Tetapi kalo tidak, mereka saya anggap melakukan "bunuh diri".
Terlepas dari salah apa benar, protes orang yang mengatasnamakan warga NU di atas terlalu berlebihan. "Ia" meminta Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menghentikan acara Berita Islam Masa Kini, hanya, karena episode tersebut menyinggung mereka. Sebab, jika yang dianggap tidak cocok dengan "dirinya" cuma satu episode itu, ya tidak perlu menghentikan acara. Toh, sejauh ini teman-teman NU saya tidak pernah protes dengan acara Berita Islam Masa Kini ini.
Namun rupanya KPI tetap memberikan surat teguran bernomer 913/K/KPI/09/15 tertanggal 4 September 2015 pada acara Berita Islam Masa Kini ini.
Berikut surat KPI ke Trans TV:
Komisi Penyiaran Indonesia Pusat (KPI
Pusat) berdasarkan kewenangan menurut Undang-Undang No. 32 Tahun 2002
tentang Penyiaran (UU Penyiaran), pengaduan masyarakat, pemantauan, dan
hasil analisis telah menemukan pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran
dan Standar Program Siaran (P3 dan SPS) KPI Tahun 2012 pada Program
Siaran “Berita Islami Masa Kini” yang ditayangkan oleh stasiun TRANS TV
pada tanggal 1 September 2015 pukul 17.01 WIB.
Program tersebut mengangkat tema tentang
kesalahan dalam mengamalkan surat Al-Fatihah dimana terdapat pernyataan
antara lain “..kesalahan dalam mengamalkan surat Al-Fatihah di
antaranya yaitu mengirimkan Al-Fatihah untuk orang yang sudah tiada..”.
Selain itu, terdapat pula pernyataan dari pembawa acara yakni Zaskia
Adya Mecca “..karena terus terang saya baru tahu sekarang, kalau yang
namanya Al-Fatihah saya sering banget membacakan surat Al-Fatihah untuk
orang-orang yang sudah meninggal biasanya habis shalat tapi ternyata
Rasulullah tidak menjalankannya..”, “..betul sekali, jangan sampai
ketika kita melakukan sesuatu dengan niat yang baik tapi justru kita
malah melakukan bid’ah, itu kan ngeri banget”. Hal tersebut dapat
menyinggung dan menimbulkan kesalah pahaman karena adanya perbedaan
pandangan/paham dalam agama Islam. KPI Pusat mengingatkan bahwa dalam
menyajikan sebuah program siaran yang berisi perbedaan pandangan/paham
dalam suatu agama wajib disajikan secara berhati-hati, berimbang, dengan
narasumber yang berkompeten dan dapat dipertanggungjawabkan. Jenis
pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran atas penghormatan
terhadap nilai-nilai agama.
KPI Pusat memutuskan bahwa program
tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran
Indonesia Tahun 2012 Pasal 6 serta Standar Program Siaran Komisi
Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 7 huruf b. Berdasarkan hal
tersebut, KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran
Tertulis Kedua.
Berdasarkan catatan KPI Pusat, program
saudari telah mendapatkan Surat Teguran Tertulis Nomor 635/K/KPI/06/15
tertanggal 23 Juni 2015 terkait pembahasan mengenai alasan perpindahan
agama seseorang. Kami akan terus melakukan pemantauan intensif terhadap
program saudari, jika masih ditemukan pelanggaran di kemudian hari, kami
akan memberikan sanksi yang lebih berat yaitu penghentian sementara
sesuai dengan Pasal 75 SPS KPI Tahun 2012.
Langganan:
Komentar (Atom)

