Minggu, 12 September 2010

Tahun 2014 Akan Ada 900-an Stasiun Televisi Baru di NKRI ini

Boleh jadi ini kabar gembira bagi Anda yang ingin bergabung di industri televisi. Setelah pemerintah mewajibkan seluruh stasiun televisi beralih ke digital mulai 2013 ini sampai batas waktu di 2015, maka tidak akan ada lagi stasiun televisi bersiaran nasional dan mengusai daerah sebagaimana sekarang ini. Masing-masing hanya bersiaran sesuai dengan zona.

Bloggers, kalo sekarang, siaran SCTV bisa dinikmati penonton seluruh Indonesia, di era digital nanti SCTV hanya dinikmati di zona-zona tertentu saja. Begitu pula dengan Metro TV, ANTV, maupun Trans. Nanti, SCTV hanya bisa bersiaran di zona yang ia dapatkan. Zona-zona yang sudah diseleksi tim Lembaga Penyiaran Penyelenggara Penyiaran Multipleksing (LPPPM) Kementerian Kominfo terdiri dari yakni zona layanan IV (DKI Jakarta dan Banten), V (Jawa Barat), VI (Jawa Tengah dan Yogyakarta), VII (Jawa Timur) dan XV (Kepulauan Riau).

Penyelenggara multiplekser di zona IV: PT Banten Sinar Dunia Televisi (BSTV), PT Lativi Media Karya (tvOne), PT Media Televisi Indonesia (Metro TV), PT Surya Citra Televisi (SCTV), PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV). Lalu penyelenggara multiplekser di zona V: PT Cakrawala Andalas Televisi Bandung dan Bengkulu (ANTV Bandung), PT Indosiar Bandung Televisi (Indosiar Bandung), PT Media Televisi Bandung (Metro TV Jabar), PT RCTI Satu (RCTI Network), PT Trans TV Yogyakarta Bandung (Trans TV Bandung).

Penyelenggara multiplekser di zona VI: PT GTV (Global TV), PT Indosiar Televisi Semarang (Indosiar Semarang), PT Lativi Mediakarya Semarang - Padang (tvOne Semarang), PT Media Televisi Semarang (Metro TV Semarang), PT Trans TV Semarang Makassar (Trans TV Semarang). Kemudian penyelenggara multiplekser di zona VII: PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), PT Global Informasi Bermutu (Global TV), PT Media Televisi Indonesia (Metro TV), PT Surya Citra Televisi (SCTV), PT Televisi Transformasi Indonesia (Trans TV). Terakhir, penyelenggara multiplekser di zona XV adalah PT RCTI Sepuluh (RCTI Network), PT Surya Citra Pesona Media (SCTV Batam), PT Trans TV Batam Kendari (Trans TV Batam).

Bloggers, di atas tadi ada kata-kata multiplekser. Barangkali Bloggers ada yang bingung. Baiklah, saya jelaskan. mux adalah kependekan dari Multipekser, yakni alat atau komponen elektronika berfungsi menggabung beberapa sinyal input yang kemudian sinyal input tersebut diseleksi keluarannya oleh suatu pengendali. Bahasa sederhananya, ibarat dekorder. Anda punya dekorder yang berisi beberapa saluran atau kanal. 

Mereka yang mendapatkan mux disebut sebagai penyelenggara multiplekser atau penyelenggara mux. Sementara mereka yang tidak mendapatkan mux tetapi memiliki izin bersiaran disebut sebagai Pemilik Izin Penyelenggaraan Penyiaran atau Pemilik IPP. Mereka ini bisa menyewa pada penyelenggara mux.

Kalo Bloggers perhatikan di atas, bahwa stasiun televisi yang saat ini bersiaran nasional, pada era digital nanti juga bisa bersiaran di daerah lain. Contoh SCTV. Selain di zona IV (DKI Jakarta dan Banten), stasiun televisi ini juga bersiaran di zona VII (Jawa Timur), dan zona XV (Kepulauan Riau). Begitu pula dengan Metro TV yang bersiaran di zona IV (DKI Jakarta dan Banten), zona VI (Jawa Tengah dan Yogyakarta), dan zona VII (Jawa Timur). Mengapa stasiun televisi nasional tersebut masih bersiaran di zona-zona lain? Sebab, mereka berhak ikut lelang pengambilan zona, dimana lelang tersebut dilakukan secara bersamaan.

Stasiun televisi yang menang lelang akan mendapatkan mux atau multiplekser itu tadi. Satu mux, rata-rata terdapat 6 konten atau bahasa sederhananya saluran. Jadi, kalo satu zona ada 30 konten, maka kalo zona-zona di Indonesia digabungkan, akan ada sekitar 900-an konten atau saluran. Jadi Bloggers yang tertarik terjun ke dunia televisi, siap-siap bakal banyak lowongan yang tersedia. Atau mereka yang sudah bosan di stasiun televisi yang sekarang bekerja, siap-siap akan ada “bedol desa” (istilah dalam dunia televisi, ketika ada sejumlah SDM di satu stasiun pindah ke stasiun lain dengan membawa SDM-SDM tersebut).

Sabtu, 04 September 2010

HATI NURANI PEKERJA INFOTAINMEN

Anda berharap wartawan infotainment itu masih punya hati nurani? Get real....
Mereka itu dibesarkan oleh ideologi Ilham Bintang, yang memang menghalalkan mencari uang dengan menghancurkan kehidupan mereka yang diberitakan ...


Kutipan di atas yang saya copy paste dari milis Naratama TV itu ditulis oleh seorang Ade Armando. Ia menanggapi komentar atas fakta di lapangan, dimana saat terjadi konfrensi pers permohonan maaf Cut Tari atas beredarnya video porno, tidak lebih dari 10 detik setelah Tari berbicara, seorang pekerja infotainment bertanya dengan nada keras.

“Kenapa baru sekarang mbak?”

Padahal belum selesai Tari menghabiskan tangisnya. Padahal banyak penonton melihat ketulusan wajah artis ini untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan ketulusan itu, sangat menggugat hati nurani kita. Padahal (pula), para pekerja infotainment belum diberikan kesempatan untuk bertanya. Namun, kejadian itu muncul. Seorang pekerjaan infotainment entah dari televisi atau production house mana, bertanya tanpa nurani.


Cut Tari dan suaminya Johannes Yusuf Subrata saat konfrensi pers.

Teman, inikah potret buram infotainment kita? Tanpa nurani? Dimana menurut Ade Armando adalah sebuah idologi yang digagas oleh Ilham Bintang. Kalo iya, sungguh ironis. Sementara praktisi media mencoba berteriak-teriak soal hati nurani, brantas korupsi, lawan ketidakadilan, sementara hati nurani praktisi media –dalam hal ini pekerja infotainment- seakan tercabut.

Dalam milis Naratama TV, Nara mencoba memberi contoh, bahwa di Amerika Serikat sendiri yang dianggap sebagai negara liberal yang menganut kebebasan pers, para wartawannya tetap memiliki etika. Ia mencotohkan pada saat konferensi pers bintang basket NBA dari LA Lakers, Kobe Bryant. Di ruang konferensi penuh dengan wartawan sport maupun infotainment. Meski jumlahnya puluhan dan semua ingin bertanya, namun semuanya serba tertib dan menjaga emosi Kobe Bryant. Contoh lain saat Nara meliput di Red Carpet Oscar 2010, dimana ratusan wartawan berjejal-jejal. Saling berebut spot (tempat untuk mengambil gambar atau interview bintang Hollywood-pen). Namun, semua jurnalis berusaha untuk tidak melanggar hak-hak serta dan emosi narasumber. Tapi di Indonesia yang katanya menjunjung sopan santun, kok begitu?

Memang, tidak semua pekerja infotainment tidak punya hati nurani. Saya yakin masih ada yang punya. Meski akhirnya mereka yang masih punya hati nurani harus kalah dalam pemberitaan, karena “kurang berani”, “kurang nakal” dalam membuat pertanyaan, dan lain sebagainya.

Coba simak pernyataan Ade Armando ini lagi:

Saya tahu masih ada sejumlah wartawan infotainment yang berusaha menerapkan standard-standard jurnalisme yang benar...Tapi itu hanya sejumlah. Kalau kita tidak mau jujur dengan kenyataan pahit ini, keadaan memang tidak akan membaik..”

Ah, moga-moga apa yang dikatakan Ade salah. Teman-teman pekerja infotainment pasti masih punya hati nurani dan ke depan pasti jauh lebih baik. Bukan begitu teman-temanku?

Foto copyright Yayat Ruhayat CnR

Jadi benar nggak ya kata-kata Luna Maya di Twiter?




Rabu, 26 Mei 2010

Yaumi Fitri (News Anchor tvOne): "Jurnalis Berhijab Tak Ganggu Kecantikan"

“Apakah saya boleh memakai jilbab, pak?”

Itulah kalimat yang diungkapkan Yaumi Fitri pada Pemimpin Redaksi (Pemred) tvOne, Karni Ilyas. Sebagai bawahan, news anchor ini tentu wajib bertanya pada sang atasan. Ia tak ingin keinginannya untuk menjalankan perintah Allah swt menjadi bumerang bagi karirnya. Meski ia yakin 100%, Allah pasti akan memberi jalan terbaik bagi umat-Nya.

Masih jelas dalam ingatannya, saat mengungkapkan kalimat itu, Yaumi tak sendirian. Kebetulan ia sedang rapat dengan Pemred bersama teman-teman news anchor lain. Awalnya, ia ragu. Namun, dengan membaca basmallah dalam hati, news anchor cantik ini pun akhirnya memberanikan diri bertanya. Dan ternyata di luar dugaan. Tanpa mempertanyakan atau mempersulit sang anak buah, Karni Ilyas merespon positif.



“Boleh,” jawab Karni. Kontan, jawaban Karni membuat Yaumi takjub. Ia tak menyangka, Karni, yang kerap digambarkan sebagai sosok yang “angker”, ternyata mengizinkan salah seorang news anchornya berhijab. “Silahkan. Tidak ada larangan, asalkan tetap good look dan tidak norak”.

Betapa bahagia perasaan Yaumi kala itu. Betapa tidak, atasan mengizinkan menggunakan hijab, yang jelas-jelas wajib dikenakan oleh perempuan muslim. Sebagaimana kaum muslim tahu, bahwa Allah swt memerintahkan kepada para perempuan untuk mengenakan hijab, yakni terdapat di surat an-Nur ayat 31.

“Wajib atas mereka (para perempuan yang beriman) menutup kain kerudung ke dadanya..”

Dalam hadist HR Abu Dawud, Rasulullah SAW juga mengatakan, “Apabila telah baliq (mengalami haid), tidak layak tampak dari tubuhnya, kecuali ini dan itu (seraya menujuk muka dan telapak tangannya).
Meski diwajibkan, namun tak semua mengerti atas kewajiban tersebut. Bahkan belum lama ini terjadi pro-kontra penggunaan hijab di kalangan perempuan TNI. Sebagai seorang profesional di dunia penyiaran Yaumi tahu, mereka (yang tak menyetujui penggunaan hijab) takut hijab akan membatasi aktivitas profesional atau kecantikan di layar televisi. Namun, Yaumi membuktikan apa yang mereka takuti salah besar.

“Justru saya akan bertanya balik, menganggu hal apanya?” tantang perempuan kelahiran Sukabumi, 1 Juli 1984 ini.

Ketika berhijab, lanjut Yaumi, kita justru dituntut untuk lebih berpakaian rapi dan lebih sopan. Begitu pula dengan prilaku. Lebih dari itu, jurnalis berhijab yang bekerja di lapangan justru malah diuntungkan. Sebab, ia akan terhindar dari rambut yang berantakan.


Perjalanan profesi Yaumi di tvOne berawal pada 2008. Saat itu ia baru lulus kuliah alias freshgraduated dari Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STBA) Yapari ABA, Bandung pada 2007. Dunia broadcast sebenarnya bukan baru di tvOne saja dimasuki. Sebelum di tvOne, saat masih kuliah, ia sudah menjadi seorang broadcaster di radio. Di Buzz Radio yang saat ini sudah bangkrut ini, ia menyambi sebagai seorang penyiar radio.

Penyandang gelar Sarjana bahasa Jepang ini kemudian mencoba melamar ke semua perusahaan, mulai dari bank, perusahaan Jepang, sampai ke televisi. Dari beberapa lamaran tersebut, ia justru dipanggil oleh HRD tvOne yang saat itu masih sedang transisi berganti nama dari Lativi. Dasar rezeki, ia langsung diterima kerja di tvOne tepat pada Februari 2008.

“Awalnya saya jadi Reporter dulu,” ujar Yaumi menikmati sekali sebagai seorang jurnalis televisi. “Biasanya saya ngepost di Istana untuk ngeliput kegiatan Presiden.”

Lima tahun bekerja di tvOne, ia mulai berhijab. Sebelumnya, selama 6 bulan ia sudah mulai belajar menutup rambut dengan kerudung. Namun, kerudung yang dikenakan belum sepenuhnya menutup rambut alias “hijab malu-malu”. Betapa tidak, Yaumi masih memperlihatkan poni rambut dan juga lehernya.

“Belajar” memakai hijab gara-gara tvOne memiliki program khusus saat haji, yakni Kabar Haji pada 2011. Entah memang sudah tanda-tanda yang diberikan Allah swt, sejak ada program khusus tersebut, Yaumi selalu ditunjuk oleh atasan sebagai presenter Kabar Haji.

“Sebetulnya keinginan untuk berhijab memang dari pengalaman membacakan berita dan melihat jalannya ibadah haji dari tahun ke tahun,” aku Yaumi.

Di acara ini, ia melihat jutaan ummat Islam melakukan wukuf, lalu melihat ka’bah. Apa yang ia lihat membuatnya sedih, kadang malah suka menangis. “Nggak tahu sebabnya. Tapi salah satunya, karena takut mati. Saya nggak tahu apakah itu termasuk bagian dari hidayah dari Allah swt”. Hingga akhirnya pada awal 2013, Yaumi pun memutuskan berhijab secara syar’i atau sesuai syariat Islam.

Tentu banyak pertanyaan yang muncul dari teman-teman, terutama pimpinan mengenai diri Yaumi mengenai penampilannya yang sudah berhijab. Bahkan, penampilannya itu sampai dibahas dalam rapat pimpinan, khususnya di redaksi. Oleh karena itu, ia akhirnya bertanya langsung kepada atasan, yakni Pemred.

“Alhamdulillah atasan saya mengizinkan,” kata perempuan yang Juli ini genap berusia 31 tahun.

Tentu saja perasaannya lega. Sebab, kewajibannya sebagai perempuan muslim untuk menutup aurat ternyata didukung oleh pekerjaan. Boleh jadi, Yaumi menjadi news anchor buletin di Indonesia yang diizinkan tampil berhijab.


“Tidak ada teman yang komplain. Bahkan setelah berhijab, teman-teman justru lebih respek,” ujar Yaumi, mengomentari news anchor perempuan sesama tvOne lain, yakni Indy Rahmawati, Elvira Khairunnisa, Balques Manisang, dan lain-lain.

“Alhamdulillah komentar penonton juga baik dan positif”.

Selain teman-temannya, atasannya pun sering memberikan komentar. Tentu, komentar setelah bersiaran. “Jilbabmu bagus,” ujar Yaumi menirukan ucapan atasannya. Ada pula yang memberikan kritik, “Kok aneh modelnya (jilbab-pen). (Kamu) jadi kelihatan tua”.

Setelah berhijab, perempuan yang punya impian menjadi chef ini, kemudian bersiaran di beberapa program religi. Selain Kabar Haji dan Kabar Ramadan, Yaumi juga pernah muncul di Hijab Stories. Lalu, diprogram buletin pun ia muncul sebagai news anchor di Kabar Siang. Belakangan ia muncul di Kabar Pagi.

“(Jurnalis) berhijab nggak akan mengurangi kecantikan. Justru aura kecantikan muncul ketika perempuan menutup auratnya,” tegas Yaumi.


Minggu, 21 Maret 2010

ANAND KHRISNA DITUDUH MELAKUKAN PELECAHAN SEKSUAL

Tiba-tiba saja wanita berambut ikal dan berkacata itu menjadi terkenal. Sore lalu (Senin, 15/02/10), ia muncul di tvOne. Wanita itu bernama Tara Pradipta Laksmi atau akrab disapa Tara. Kemunculan wanita ini, karena ingin membeberkan kasus pelecehan seksual yang dideritanya. Nggak tanggung-tanggung, orang yang dianggap melecehkan itu nggak lain nggak bukan adalah Anand Khrisna.


Tara bersama sang pengacara Fredi ketika muncul di tvOne dan diinterview oleh news anchor tvOne Indiarto dan Shinta.

Tara yang malam itu didampingi pengacaranya, Fredy, mengungkapkan mengapa dirinya bertekad bulat melaporkan sang guru spiritualnya ke polisi. Bahwa menurutnya, Anand sudah lama melakukan tindakan yang melecehkan, yakni dengan menyentuh tubuhnya, memeluk, bahkan mencium.

"Saya pun sempat disapa dengan panggilan Angel," ujar Tara pada news anchor tvOne program Kabar Petang, Indiarto dan Shinta.

Menurut Tara, sapanya Angel itu nggak dilakukan Anand pada setiap muridnya. Ia merasa, perlakuan eksklusif itu sangat mengganggu, apalagi sampai terjadi kontak fisik, yakni sentuhan-sentuhan tersebut, baik di tangan maupun pundak.

"Saya pikir seorang guru spiritual nggak akan melakukan itu," tambah Tara.


Tara membacakan print out e-mail Anand Khrisna yang dikirim ke dirinya. Menurutnya, seorang guru nggak seharusnya merayu dengan kata-kata seperti itu. "Itu masuk kategori pelecahan namanya," katanya.

Namun asisten Anand Khrisna, Maya, menepis tudingan Tara soal sapaan dan juga sentuhan. Menurut Maya, selama ini, Anand memperlakukan muridnya sama seperti apa yang dikatakan Tara. Bahwa sapaan itu lebih dalam rangka mengakrabkan pada murid, dan semua murid juga mendapatkan sapaan akrab yang berbeda-beda. Begitu pula dengan soal menyentuh secara fisik.

"Tara boleh saja bilang begitu, tetapi apa yang dituduhkan pada Anand itu tidak benar," ucap Maya.

Ketika tvOne mengkonformasi lagi pada Anand, ia juga mengelak tuduhan melakukan pelecahan seksual. Bahkan menurutnya, ia nggak merasa dirinya mengangkat jabatan sebagai guru. Kebetulan ada beberapa orang yang butuh bimbingan spiritual, orang-orang itu biasa memanggilnya dengan sebutan "guru".


Menurut Fredi, pelaporan ini lebih kepada antisipasi agar orang-orang yang bersama Anand kudu awere agar jangan sampai ada lagi pelecehan seksual.

Selain sapaan akrab dan sentuhan fisik, Tara rupanya mempunyai bukti otentik lain, yakni sebuah print out e-mail Anand ke Tara. Bahwa menurut Tara, isi dari e-mail itu dalam rangka menggoda Tara, dan menurut Tara hal tersebut sudah masuk dalam kategori pelecehan seksual. Selain itu, ada beberapa foto Tara bersama Anand yang menguatkan bahwa dirinya memang "murid" Anand.

"Kami melaporkan dalam rangka buat mengingatkan kepada para muridnya agar aware," jelas Fredi, pengacara Tara. "Agar jangan sampai lagi kejadian yang sama menimpa, sebagaimana Tara."


Anand merasa dirinya nggak pernah mengklaim diri sebagai "guru". Tetapi kebetulan banyak orang yang butuh bimbingan spiritual darinya, sehingga orang-orang menganggapnya sebagai "guru".

Entah benar atau tidak soal pelecehan seksual yang dituduhkan Tara pada Anand Khrisna, yang pasti semua orang tahu, Anand adalah tokoh spiritual yang selalu memberikan spiritual inspiration to humanity for peace, tolerance, and understanding. Sepak terjang pria kelahiran 1 September 1956 ini udah kelas dunia. Sungguh sedih kalo ada berita negatif dari tokoh sekelas Anand. Mending kasusnya apa, ini mah pelecehan seksual. Walah!

Sebelum hendak melaporkan ke polisi, Tara dan seorang penggugat lain berinisial SM udah melaporkan Anand ke Komnas Perempuan. Tuduhannya, dalam melakukan pelecehan seksual, Anand dituduh lebih dulu mecuci otak (brainwashed) korban-korbannya dengan sebuah ajaran yang mengultuskan dirinya sebagai pemimpin. Yang namanya pemimpin, jelas kudu didengar oleh murid-muridnya. Oleh karena itu, menurut pengacara SM, Agung Mattauch (detikNews, 14/022010), apapun kata Anand, semua murid kudu tunduk. Nggak heran kalo murid-muridnya rela melakukan apa saja dengan apa yang dikatakan oleh Anand Krishna. Menurut data yang saya dapatkan dari tvOne, ada sekitar 8 orang murid dari Jakarta dan 1 murid dari Bali yang melaporkan kasus pelecehan seksual ini.


all photos copyright by Brillianto K. Jaya






Rabu, 20 Januari 2010

KETIKA tvOne BIKIN "NEWS SINETRON"

Jujur, malam ini saya cukup kaget dengan tayangan baru tvOne. Bukan tayangan berita, talk show, atau veriaty show, melainkan sebuah sinetron yang kisahnya diinspirasikan dari berita kriminal. Program ini bernama tvOne Series.

Kekagetan saya ini lantaran selama ini, setahu saya, tvOne konsisten menayangkan berita, entah itu hardnews maupun soft news (current affairs, documenter, dll). Kalo pun ada program yang menampilkan scene seperti sinetron, biasanya untuk keperluan reka ulang, tetapi basic-nya tetap program berita (biasanya berita kriminal). Namun lewat tvOne Series, tvOne mencoba masuk ke jalur drama. Oleh karena basic cerita drama berdasarkan berita yang sempat terjadi, maka saya sebut sebagai "News Sinetron".



Kisah seorang reporter yang sedang menyelidiki Ivan si pembunuh berdarah dingin (foto atas). Ivan yang sedang tiduran dan sang pacar, ketika merayu minta dibuatkan rumah di Jombang (foto bawah).

Kisah yang saya saksikan malam ini bercerita mengenai seorang reporter yang melakukan penyeledikian terhadap pembunuh berantai yang berdarah dingin. Ia bernama Ivan.

Ivan adalah seorang homoseksual yang punya banyak pacar. Namun, beberapa pacarnya sempat dibunuh tanpa rasa bersalah. Selain pacar-pacarnya, pria asal Jombang yang sempat berguru di pesantren ini juga sempat membunuh Ustadz -yang mencoba membujuknya agar kembali menjadi pria normal- dan tetangganya -yang melihat Ivan saat mengubur pacarnya yang dibunuh.


Grace Natalie, anchor tvOne, yang mencoba profesi baru sebagai bintang sinetron.

Sebenarnya news sinetron model tvOne ini bukan program baru. Kalo berlangganan tv kabel, Anda pasti akan menyaksikan beberapa serial yang mengangkat kisah-kisah kriminal. Sebut saja NCIS, Bones, Criminal Minds, Lie to Me, dll (Fox Channel), CSI New York , Numb3rs, CSI Miami, 9MM, Dexter, dll(Fox Crime Channel) Kisah kriminal tersebut bisa terinspirasi dari kisah nyata, maupun benar-benar fiksi.

Kisah yang saya lihat malam ini, tentang Ivan, terinspirasi dari kisah Verry Idham Henyaksyah alias Ryan. Tahu dong Ryan? Ryan adalah seorang gay yang telah mencabut nyawa beberapa orang, empat di antaranya dibunuh di rumah orang tuanya di Jombang, yakni Ariel Somba Sitanggang, Vincent, Guntur, dan Grandy warga negara Belanda.

Meski bukan produk baru, namun news sinetron ini bisa menjadi tontonan baru, apalagi para pemainnya kebanyakan berasal dari karyawan tvOne sendiri. Salah satu pemain yang malam ini saya lihat adalah Grace Natalie. Anchor tvOne ini sempat memberi wejangan pada reporter yang tengah menyelidiki kasus Ivan.

"Saya seringkali juga mendapatkan ancaman dari masyarakat jika ada berita yang dianggap kontroverisal. Sebagai jurnalis, kita tetap wajib memberitakan pada masyarakat," ujar Grace di tvOne Series.

Ada catatan tentang news sinetron yang diproduksi tvOne ini, salah satunya mengenai masalah realita di lapangan. Nampaknya sang sutradara masih luput untuk detail yang biasa dilakukan di lapangan. Saya menemukan kejanggalan, ketika seorang reporter tengah mewawancarai narasumber mengenai prilaku pembunuh berdarah dingin.

Si reporter tidak menyodorkan hand mic pada narasumber agar suara narasumber dapat direkam secara jelas dalam kaset rekaman. Hand mic justru diletakkan di meja. Saya tidak melihat clip on atau jenis mic kecil yang biasa diletakkan di baju narasumber sebagai ganti hand mic. Dengan kondisi seperti itu, suara yang diucapkan narasumber hanya berasal dari mic camera yang sebetulnya fungsinya untuk atmosfir.



Buat saya dan barangkali penonton yang mengerti teknis pengambilan suara narasumber ini menjadi fatal. Sebab, saya tidak yakin, hand mic yang diletakkan di meja bisa menangkap suara narasumber dengan baik. Yang terjadi dalam realita, narasumber memegang hand mic, atau menggunakan clip on, atau menggunakan boom mic.

Terlepas dari masih adanya kekurangan dari penayangan news sinetron ini, saya penasaran dengan rating dari program tvOne Series ini. Apakah bisa meraih angka bagus? Secara sinetron biasanya cukup bagus. Atau malah sebaliknya. Selain soal rating, saya juga penasaran dengan tanggapan penonton dengan keberanian tvOne menayangkan program drama, secara selama ini konsisiten menayangkan program news. Kita lihat apa yang akan terjadi....