Pada tgl 5 September 2012, Metro TV mengadakan dialog di program Metro Hari Ini bersama narasumber Guru Besar UIN Jakarta Prof Bambang Pranowo, mantan Kepala BIN Hendropriyono dan pengamat terorisme Taufik Andri. Dalam dialog tersebut Prof Bambang Pranowo menyampaikan hasil penelitiannya bahwa ada 5 pola rekruitmen teroris muda. Salah satunya melalui ekstrakurikuler di masjid-masjid sekolah. Saat dialog berlangsung, ditayangkan info grafik berisi point-point 5 pola rekruitmen versi Prof Bambang Pranowo.
Memang redaksi tidak menyebutkan sumber dari info grafik tersebut yg kemudian menimbulkan tafsir bahwa 5 pola itu bersumber dari Metro TV. Untuk itu, Metro TV meminta maaf karena telah menimbulkan kesalahpahaman.
"Ketiga narasumber yg hadir juga tidak pernah menyebutkan bahwa Rohis adalah sarang teroris dalam dialog tersebut.”
Itulah bagian dari berita klarifikasi yang dibuat pihak Metro TV yang penulis terima via Broadcast Massage (BM) pada 15:16 WIB ini. Sebagaimana sebagian Kompasianers tahu, bahwa sebelumnya teleh beredar BM yang berisi:
“Ayo kirimkan SMS pengaduan ke Komisi Penyiaran Indonesia ke nomor 081213070000 (tarif normal) atas ketidaksetujuan kita dengan pemberitaan GEGABAH Metro TV yang mengasosiasikan ekskul Masjid sekolah(ROHIS) dengan SARANG TERORIS!
Contoh format SMS: "Kami menuntut Metro TV untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia terutama adik-adik ROHIS karena telah memberitakan masjid-masjid sekolah sebagai tempat rekrutmen teroris. Metro TV juga harus berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Jika tetap mengulanginya, kami menuntut Metro TV agar dicabut hak siarnya karena melakukan keresahan dan pembohongan publik. Tidak layak menjadi lembaga penyiaran." SEBARKAN!”
Menurut Direktur Pemberitaan Metro TV Suryopratomo, Metro TV tidak pernah mengatakan Rohis sebagai sarang teroris. Begitu pula dengan ketiga narasumber yang hadir di dialog itu, tidak pernah menyebutkan, Rohis adalah sarang teroris.
Wartawan senior ini, kebanyakan orang yang menyebarkan BM itu tidak mengerti duduk persoalan. Mereka hanya ikut-ikutan.Namun begitu, Metro TV tetap meminta maaf karena terjadi kesalahan penafsiran dan akan melaporkan ke KPI dan Dewan Pers untuk memberikan penjelasan tentang hal ini.