Kamis, 22 Oktober 2015

Ada Goyang Estafet dan Karaokean di MTSS

Sebelum resmi ke +MNCTV Official , saya sempat menulis acara +Mario Teguh  akan pindah ke +TvOneNews. Kabar tersebut bukan gosip, lho. Di “televisi merah” ini, acara yang semula ketika di Metro TV bernama +Mario Teguh Golden Way (MTGW), dirubah menjadi Superone. Tentu Anda tahu, nama tersebut berasal dari kata “Super” yang selalu diucapkan Mario, plus kata “One” dari tvOne.

Namun, Mario Teguh ternyata tak jadi tayang di tvOne. Meski tahu alasan kenapa tidak jadi tayang, tapi saya tak akan ungkapkan di Kompasiana ini. Yang pasti, Mario Teguh akhirnya berlabuh ke MNC TV. Di televisi milik Harry Tanoe (HT) ini, nama acaranya pun tentu tidak Superone, tetapi SuperMNC. Ups! Maaf, namanya SuperHT. Maaf! Yang benar Mario Teguh Super Show (MTSS). Barangkali sebagian dari Anda yang biasa nonton MNC TV sudah melihat grafis promo acara MTSS ini.



Sebagian konsep di MTSS tak jauh beda dengan saat MTGW, yakni sesi curhat mengenai permasalahan sesuai tema. Penambahannya, selain penonton studio dan juga di rumah, Mario juga akan dihadapkan dengan beberapa bintang tamu dari kalangan selebritis. Konsep lain yang ada di MTSS adalah, Mario akan mencari anak muda dari kalangan pelajar ataupun mahasiswa yang memiliki bakat menjadi motivator untuk turut diundang di MTSS.

Boleh jadi, oleh karena genre MTSS ini adalah veriaty show, maka ada beberapa konsep hiburan yang tidak melulu motivasi. Ada penampilan mistery guest atau mistery box, maupun games. Games yang ada tentu berhubungan dengan tema dan mungkin pernah Anda lakukan di acara outbound karyawan. Goyang Estafet, misalnya. Games ini bertujuan untuk melatih daya konsentrasi. Yang berbeda lagi, penonton MTSS juga akan diajak berkaraoke-an dengan Mario Teguh dan bintang tamu. Sebagaimana penonton MTGW ketahui, di episode spesial, Mario kerap bernyanyi.

Sebagaimana MTGW saat di +Metro TV, MTSS juga tayang di Minggu. Namun, tayangnya lebih malam, yakni pukul 21:15-22:45 WIB. Soal jam tayang ini, tim Mario Teguh sudah melakukan survey melalui lembaga survey yang dimilikinya, yakni Mario Teguh Primax Polling. Apakah konsep variaty show ala MTSS akan meraih rating-share jauh lebih hebat dari MTGW? Cukup menarik untuk diikuti. Bagi yang kangen atau penasaran dengan MTSS, silahkan melihat di episode perdana yang akan ditayang pada Minggu ini, yakni 25 Oktober 2015.


Selasa, 13 Oktober 2015

SENSASI FARHAT ABBAS: ANTARA BENCI, TAPI RINDU

Sensasi. Barangkali kata itu yang layak diberikan pada sosok Farhat Abbas. Betapa tidak, rasanya mantan pria ini tak punya prestasi spekatakuler di tanah air yang bisa dibanggakan, kecuali membuat sensasi-sensasi yang tak penting. Saya mencoba hitung sensasi-sensasi yang pernah dibuat oleh pengacara kelahiran Tembilahan, Kabupatan Indragiri Hilir, Riau, 22 Juni 1976 ini.

1. Sensasi pertama terjadi pada 2004, ketika Farhat mengangkal kabar telah menikahi Melani Sukmawati di Bandung.

2. Pada 2005, lagi-lagi persoalan perempuan. Farhat diisukan telah menikahi perempuan bernama Ani Muryadi pada 19 Mei 2005. Saat dinikahi sang pengacara, perempuan ini berstatus sebagai seorang janda.

3. Memasuki awal 2013, Farhat mengeluarkan komentar kontroversi. Komentar kontroversinya terkait kasus plat mobil Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, pada 9 Januari 2013.

4. Pada 2013, Farhat kembali “tersandung” masalah perempuan. Kali ini seorang perempuan bernama Rita Tresnawati meminta bantuan Komisi Perlindungan Anak (KPA), lantaran Farhat Abbas tak mengakui Gusti Reyhan Gibayus sebagai anaknya. Rita mengaku sempat dinikahi siri oleh Farhat dan melahirkan Gusti. Meski memiliki akta lahir atas nama Farhat Abbas, pria ini tetap tak mengakui. Namun, belakangan kasus selesai dan Farhat mengakui Gusti sebagai anaknya.

5. Ditantang anak-anak Ahmad Dhani, Al dan El, karena kicauannya di twitter pada November 2013 dianggap menghina ayah mereka.

6. Berseteru dengan tim Yuk Keep Smile (YKS) TransTV. Farhat mengatakan Goyang Caesar adalah “Goyang Bencong”. Ia meminta tim YKS untuk memakai “Goyang Pocong” hasil kreasinya.

7. Berseteru dengan Soimah. Menurut Farhat, Soimah sudah “lupa diri”. Ia terkenal, karena kebayanya.

8. Paska kecelakaan yang menyeret nama Abdul Qadir Jaelani alias AQJ di tol Jagorawi, Farhat menilai Ahmad Dhani tidak becus mendidik anaknya. Komentar yang ditulis di akun twitter-nya itu membuat Ahmad Al Ghazali panas. Putra Ahmad Dhani menantang Farhat tinju.

9. Farhat secara terang-terangan menyebut suara Julia Perez alias Jupe jelek dan sangat menganggu. Hal ini dikicaukan sang pengacara pada paruh Juli 2015.

10. Membela mucikasi RA, Farhat justru menyalahkan sejumlah artis yang terlibat prostitusi.
Di antara ke-10 sensasi yang diperlihatkan Farhat, tentu masih banyak sensasi yang tak sempat saya munculkan. Sensasi terakhir, paska perceraiannya dengan Nia Daniati, lalu kemudian perseteruannya Ahmad Dhani, dan Regina Andriane Saputra alias Regina, adalah sensasi mengenai video dan foto-foto pernikahan siri Farhat-Regina.

Sekali lagi, tak ada prestasi dari seorang Farhat Abbas. Meski begitu, sosok calon Presiden alternatif pada Pemilu 2014 lalu ini “disenangi” oleh para pekerja infotainmen. Betapa tidak, sensasi-sensasinya meramaikan paket berita seluruh infotainmen di tanah air. Para penonton yang “membenci” Farhat, “terpaksa” atau “dipaksa” menonton berita yang tak penting ini. Sementara, ibu-ibu, para pembantu, dan penikmat infotainmen lain mau tak mau “menikmati” tayangan sensasi itu.

Benci tapi rindu. Di satu sisi “benci” Farhat, tetapi pada kenyataannya penonton “merindukan” tayangan berita mengenai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Demokrat yang gagal ini.Farhat menjadi idola ibu-ibu "sedunia", begitu kicau teman saya di twitter.

Para pekerja infotainmen pun begitu. Ada rasa benci, tetapi rindu. Mereka pasti “mau muntah” membuat paket berita mengenai Farhat. Tetapi apa boleh buat? Sensasi Farhat “cukup membantu” mengisi paket gosip di acara infotainmen, sebelum ada berita gosip dari artis yang lebih hot. Jadi, sensasi Farhat ada semacam simbiosis mutualisme atau kedua belah pihak saling mendapatkan keuntungan.

Jumat, 09 Oktober 2015

ISTIRAHATLAH SEJENAK SOIMAH...

Tak ada yang menyangkal, Soimah adalah artis multitalenta yang Indonesia miliki saat ini. Setidaknya terbukti, sejak pertama kali muncul di acara televisi, yakni Seger (ANTV) pada paruh 2011, tawaran menjadi host di beberapa televisi mengalir. "Karir" menjadi sinden di Jogja Hip Hop Foundation, yang melambungkan dirinya, terpaksa ditinggalkan.

Tak kurang dari +Showimah TransTV, Comedy Project, +Indonesia Mencari Bakat 2014, Yuk Kita Sahur, Yuk Keep Smile, Sahurnya Ramadan, Ngabuburit, Lenong Rempong (Trans TV), Sedap Malam (ANTV), So Sempruul (SCTV), maupun D' T3rong Show, +D Academy 3 Indosiar "Indonesia", Bintang Pantura, Q' Academy, dan Stand Up Comedy Academy (Indosiar) memakai jasa Soimah. Tak heran, perempuan yang sempat menjuarai Lomba Bintang Karaoke Dangdut se-Jateng-DIY, juara 1 Bintang Televisi, dan juara Dara Ayu ini sibuk berat.

Kesibukan Soimah membuat dirinya hanya punya waktu sedikit untuk istirahat. Sebetulnya kondisi ini sangat berpengaruh pada penampilannya di layar televisi. Malam ini, di acara Bintang Pantura, saya merasa terganggu dengan kantung mata Soimah. Barangkali banyak penonton tak peduli dengan apa yang menganggu saya. Maklumlah, di Bintang Pantura, Soimah masih tetap memberikan kelucuan. Aktraktif dan interaktif dangan host-host lain. Namun, make up tak bisa menutupi kantung mata Soimah. Nampak sekali, komedian perempuan ini kurang istirahat.

Ngejar setoran? Ah, entahlah. Saya hanya bisa menyarankan pada Soimah, agar beristirahatlah sejenak. Tak perlu ngoyo mengambil job. Mungkin sekarang masih merasa sehat, tetapi tak ada yang tahu kondisi akan "tumbang". Toh, kalo "tumbang", yang rugi bukan cuma Anda Soimah, tetapi para penggemar Anda di televisi.  




Senin, 05 Oktober 2015

Tayangan Berita di Media Sosial



Lain Negara, lain kebiasaan.  Setidaknya ini tergambar pada penonton televisi di Eropa. Pertumbuhan media sosial di Eropa saat ini ternyata berdampak pada kebiasaan menonton yang sebelumnya. Jika di Indonesia jumlah penonton siaran televisi yang menggunakan “media tradisional” (baca: pesawat televisi) masih banyak, di Eropa justru sebaliknya.

Majalah EuroMedia pernah meneliti mengenai kebiasaan tersebut pada paruh 2013. Hasil penelitiannya dilaporkan dalam edisi Maret-April 2013 melaporkan. Bahwa saat itu dan sampai kini di Eropa penonton lebih suka mengakses tayangan acara dari berbagai perangkat. Terutama dalam mengkonsumsi tayangan berita.

Riset yang dilakukan Pew Research Center selama kampanye pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2012 menunjukkan, sebagian besar orang AS bergantung pada beberapa media untuk mendapatkan informasi politik. Lebih dari 12% pengakses berita politik mendapatkan via online, terutama dari Facebook. Angka tersebut naik lebih dari dua kali lipat 6%. Lalu mereka yang menggunakan jaringan sosial Twitter juga naik dua kali lipat menjadi 4%. 

Penelitian terpisah yang dilakukan oleh Proyek Pew Research Center untuk Exellence dalam Jurnalisme (PEJ) bekerjasama dengan The Economist Group, juga menemukan, bahwa 50% seluruh orang dewasa AS kini memiliki koneksi mobile ke web, yang bisa diakses melalui sebuah smartphone atau tablet. Gedget ini telah mereka gunakan secara tertarur lebih dari satu tahun lalu. Jelas, fakta ini menunjukan bahwa, mereka lebih suka mengakses berita via media sosial.  Oleh karena itu, kini para pemilik media banyak melakukan terobosan, yakni menggantikan teknologi lama, pengenalan perangkat baru dan format adalah menciptakan tayangan berita jenis baru via berbagai sosial media. 

Riset Proyek Pew Research Center juga menemukan, 54% orang mengakses berita via tablet, 77% orang mencari berita via desktop  atau laptop, dan masih 50% orang yang mencari berita via media cetak. Di antara pengguna smartphone, 75% orang mendapatkan berita dari laptop atau desktop dan 28% mengakses berita via tablet.

Menurut James Montgomery, koordinator digital dan teknologi berita BBC, stasiun televisi tetap memanjakan penonton televisi. Mereka sadar, bahwa penonton sekarang ini mengkonsumsi berita dalam banyak cara baru dan berbeda-beda, baik melalui media sosial dan gadget seperti smartphone dan perangkat tablet.

"(Oleh karena itu) BBC memiliki strategi 'empat layar', menyediakan konten di internet yang terhubung TV, komputer, tablet dan smartphone," ujar James.


cc +metrotvnews +TvOneNews +Liputan6.com +Kompas TV +Rcti Official +MNC TV 


Stand Up Comedy Academy Indosiar: No Blue Material Please



Boleh dibilang, Kompas TV menjadi televisi pertama yang membuat kompetisi yang memilih komika stand up comedy terbaik di televisi. Melalui acara Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), Kompas TV memilih komika-komika terbaik di Indonesia.  Sampai dengan 2015 ini, SUCI baru saja menyelesaikan musim kompetisi yang ke-5, dimana berhasil mengukuhkan Rigen -komika asal Bima, NTB- sebagai juara pertama.

Adalah Pandji Pragiwaksono yang pertama kali mencetuskan acara SUCI. Gagasan pria ini kemudian disambut baik oleh Indra Yudhistira, yang kebetulan saat di Kompas TV menjabat sebagai Direktur Program dan Produksi. Meski bukan sebagai pencetus, nama Indra ditulis oleh Pandji di blognya sebagai salah seorang yang turut berjasa "membumikan" stand up comedy di tanah air, selain Warkop DKI, almarhum Taufik Savalas, Ramon Papana, Iwel Wel, Raditya Dika, dan Agus Mulyadi dari Metro TV.
 
Setelah beberapa tahun di Indosiar, rupanya Indra “gerah” ingin menggarap acara yang melibatkan komika-komika tanah air. Bukan sekadar show sebagaimana Metro TV, tetapi konsepnya kompetisi sebagaimana SUCI. Lalu, kata “academy” yang sudah menjadi brand acara-acara kompetisi di Indosiar pun diambil. Walhasil, lahirlah  Stand Up Comedy Academy. Apakah Stand Up Comedy Academy bisa menyangi SUCI (Kompas TV) atau Stand Up Comedy Show (Metro TV)? 



Jujur, cukup berat menjawab pertanyaan tersebut, tetapi barangkali saya bisa menganalisa. Namun, sebelum saya menyampaikan analisa, ada baiknya saya ajak Anda berkilas balik terlebih dahulu. Sebelum Stand Up Comedy Academy, Indosiar sudah membuat acara yang menggunakan nama ‘academy’. Terakhir adalah D’Academy. D’Academy adalah ajang pencarian bakat penyanyi dangdut. Acara yang pertama kali tayang pada 3 Februari 2014 ini sempat “mengalahkan” rating-share Indonesian Idol yang dirilis AC Nielsen. 

Saat dua acara ini mengadakan pertunjukan pada akhir Februari 2014. Konser Nominasi D’Academy meraih rating 4.8 dan share 19.9%, sementara Indonesian Idol hanya meraih rating 3.4 dan rating 17.5%. “Keberhasilan” D’Academy kabarnya karena racikan antara drama di ajang kompetisi dan komentar juri, ada juga unsur infotainment yang dimasukkan di acara ini.

Saya tak perlu lagi mengomentari drama pada kompetisi dan komentar juri, karena Anda pasti sudah tahu mengapa jadi menarik. Penulis cuma berkomentar mengenai unsur infotainment yang menjadi kekuatan show acara D’Academy. Di ajang ini, para Host diminta untuk mengungkap kehidupan pribadi para peserta sampai sang juri. Bukan kehidupan prestasi, tetapi gosip-gosip ala infotainment. Meski terlihat out of topic dari konsep sebuah acara pencarian bakat, tapi unsur infotainment seperti itu justru disukai para penonton.

Jauh sebelum D'Academy, ada Akademi Fantasi Indosiar (AFI). AFI bukanlah produk asli in house Indosiar. Ajang pencarian bakat menyanyi ini diadaptasi dari acara La Academia di Meksiko. Setelah sukses tayang di Malaysia, Le Academia diadaptasi di Indonesia dengan nama AFI.

AFI 1 dan AFI 2 berhasil meraih kesuksesan. Setidaknya terlihat dari perlehan rating di Grand Final AFI 1 yang meraih TVR 18.7 dan share 50,4%. Artinya, ada 50-an persen penonton televisi yang menyaksikan Grand Final AFI 1. Sementara Grand Final AFI 2 meraih TVR 18.9 dan share 54%. Namun, perolehan gila-gilaan tersebut tak terjadi lagi di AFI 3, 4, dan seterusnya. Meski sejak AFI ke 3 sudah tak sesukses dengan AFI 1 dan 2, Indosiar tetap mencari peruntungan dari ajang pencarian bakat ini. Ratingnya tak mampu mengalahkan Indonesian Idol maupun The Voice.

Kini, Indosiar bakal mencari peruntungan baru lagi, dengan membawa nama ‘academy’, yakni Stand Up Comedy Academy. Memang, kesuksesan yang diraih D’ Academy atau “keterpurukan” AFI tak bisa dibandingkan dengan Stand Up Comedy Academy. Kenapa? Meski berkonsep kompetisi, tetapi ketiga acara ini beda segmen. Namun, Indosiar sangat berpeluang meraih penonton. 

Analisa pertama, saya mengambil daily audience share market all AC Nielsen yang dimiliki Indosiar. Saat ini televisi yang bermarkas di Daan Mogot, Jakarta Barat ini sangat baik. Data per 4 Oktober 2015 ini, Indosiar memiliki share (TVS) 15,4 dan berhak menduduki televisi swasta nasional nomer 2. Indosiar bersaing ketat dengan SCTV yang sempat berada di peringkat ke-1 dengan perolehan TVS 17,5. Sementara RCTI cuma maraih TVS 12,7. 

Tayangan D Academy 2 yang tayang pukul 18:22-23:59 WIB sangat membantu mengambil penonton televisi dari televisi pesaing (baca: SCTV) yang banyak menayangkan sinetron. Melihat potensi penonton cukup besar, Stand Up Comedy Academy jelas sangat berpeluang meraih kesuksesan merebut penonton.

Analisa lain, komika yang muncul di Stand Up Comedy Academy sebagian besar adalah “lulusan” SUCI atau pernah tampil di Stand Up Comedy Show Metro TV. Artinya, para komika ini sudah punya banyak penggemar. Sebut saja Yudha Keling, Benedicktivity, Newendi, Ricky Wattimena, maupun Lolox.



Stripping juga menjadi indikator Stand Up Comedy Academy dalam menjaga konsistensi penonton. Sebagaimana sudah dijadwalkan, acara ini ditayangkan stripping setiap Senin sampai Kamis. Tak seperti kompetisi yang biasa Indosiar tayangkan, Stand Up Comedy Academy ini tidak ditayangkan secara live. Taping dilakukan di studio 1 Indosiar di Daan Mogot. Sebagian dari Anda pasti sudah tahu kenapa tidak live? Meski tidak live, konsepnya tetap live on taped. Bagi Anda yang belum kenal dengan istilah live on taped, itu artinya melakukan rekaman sebagaimana melakukan siaran live, yakni dengan durasi tepat, lalu tanpa ada retake atau diedit lagi.

Barangkali sebelum mengakhiri tulisan, saya dan sejumlah penikmat stand up comedy berharap, kompetisi di Stand Up Comedy Academy ini akan melahirkan komika-komika yang cerdas. Maksudnya cerdas adalah: materi tetap lucu dan bikin "pecah", tetapi tanpa blue materials, khususnya materi SPA: Seks, Pornografi, dan Agama. Setidaknya pesan saya untuk para mentor dan juri yang akan memilih komika terbaik di Stand Up Comedy Academy ini. Mentor yang dimaksud antara lain komika senior Arief Didu dan Mosidik. Lalu juri-jurinya adalah Abdel, Soimah, dan Eko Patrio yang menjadi juri tetap. Sementara juri tamu, yakni Pandji, Raditya Dikka, dan Ernest Prakasa.

Seks yang saya maksud adalah "seputar selangkangan" maupun anggota tubuh perempuan yang sensitif. Sementara pornografi mengulas masalah hubungan intim, misalnya. Terakhir tentang agama. Beberapa kali saya menyaksikan ada komika yang secara vulgar mengolok-olok mengenai ayat al-Qur'an, tata cara sholat, maupun pakaian wajib seorang muslimah. Agama seharusnya bukan jadi bahan guyonan. 

Pertanyaannya: mungkinkah membuat seorang komika "pecah" tanpa materi SPA? Harusnya mungkin. Sebab, beberapa komika -yang tak perlu saya sebut namanya- sudah membutikan itu. Mereka tetap lucu, memiliki materi cerdas, tetapi tidak menampilkan materinya vulgar yang menyinggung seks, pornografi, maupun agama. Saya yakin, di Stand Up Comedy Academy, Indonesia akan punya komika-komika yang seperti itu.

sumber foto: twitter Pandji Pragiwaksono