Minggu, 27 Desember 2009

News Anchor Wajib Jadi Reporter Dulu

Profesi yang paling diminati di dunia broadcast adalah News Anchor. Menurut para mahasiswa komunikasi atau jurusan broadcast, News Anchor sangat bergengsi. Selain bisa punya gaji tinggi, popularitasnya bak selebriti. Makanya dalam satu kesempatan, saya sempat diceritakan HRD, ada calon karyawan stasiun televisi yang bercita-cita jadi News Anchor, tetapi alasannya ajaib: PINGIN TERKENAL!

Terkenal tentu bagian dari hasil akhir. Namun sesungguhnya, buat menjadi News Anchor tak semudah membalik telapak tangan. Butuh proses panjang. Ingat! News Anchor bukanlah News Reader atau selanjutnya kita sebut News Presenter. Tugas News Presenter sekadar membacakan naskah berita yang ada di teleprompter alias contekan yang berisi naskah berita. Profesi News Presenter bisa Anda lihat di banyak stasiun televisi.

News Anchor itu tingkatannya jauh lebih tinggi dari News Presenter. Meski seorang News Presenter sudah bertahun-tahun kerja di stasiun televisi, iabelum layak disebut sebagai News Anchor jika belum turun ke lapangan, mengenal banyak narasumber, tahu cara memproduksi berita, maupun menulis naskah. Tak heran, untuk bisa sampai menjadi News Anchor, wajib menjadi Reporter terlebih dahulu.

WAJIB HUKUMNYA,” ujar Jeremy Teti.

Menurut Jeremy, calon Anchor wajib mengawali karir di lapangan terlebih dahulu. Setelah matang di lapangan, baru karyawan stasiun televisi ini diaudisi lagi buat menjadi  News Reader. Tentang matang di lapangan, juga diamini oleh Catharina Davi, News Anchor RCTI periode 2002-2006.

Dengan matang di lapangan, dia (Anchor) nggak terlalu mengandalkan baca promter. Makanya kalo Breaking News, yang diandalkan adalah News Anchor bukan News Presenter,” ujar perempuan cantik yang akrab disapa Keket ini.

News Anchor idealnya bukan cuma baca teleprompter atau naskah. Menurut Tita, Anchor ANTV periode ini, ia harus ‘menjiwai’ apa yang dibacakan. Jika tidak pernah terjun ke lapangan, ‘soul-nya’ tidak akan dapat. Tita mencontohkan, ketika ada yang salah pada naskah, mereka yang matang di lapangan tidak akan membacakan naskah yang salah itu.

Secara alamiah, Anchor akan mengoreksi naskah salah itu,” ujar Tita yang pernah membawakan program berita andalan ANTV, Cakrawala pada 2004 ini.

Soal Akil Mochtar yang lagi rame ini, misalnya. Jabatan terakhirnya adalah Ketua Mahkamah Konstitusi alias MK. Tapi kebetulan naskah salah ketik, menjadi Ketua MA. Jika seorang News Presenter yang cuma baca naskah saja, ia pasti gelegapan. Namun jika berita tersebut dibacakan Anchor, pasti langsung mengkoreksi akronim MA menjadi MK.

Atau hal-hal kecil yang bisa dikoreksi, secara Anchor pengetahuannya harus luas. Pengetahuan luas itu cuma bisa didapat dari membaca dan pengalaman turun ke lapangan, terlibat dalam proses peliputan,” papar Tita.

Seorang News Talent Manager salah satu televisi berita juga berpendapat sama, bahwa Anchor harus punya pengalaman menjadi Reporter. Sebab, jika langsung siaran, ia tidak akan mengerti apa-apa. Mengerti proses produksi berita, misalnya.

Menurut gue, the only way to move up is from the bottom,” papar News Talent Manager ini. “Dengan begitu, pemahaman dan wawasan si presenter akan lebih matang. Networking juga jadi terjaga”.

Jenjang karir yang ideal, menurut Tita, berawal dari Reporter, lalu Stand Upper, dan akhirnya menjadi Anchor. Kenapa harus melewati Stand Upper lagi? Sebab, ketika live report di lapangan, pengalaman menjadi Stand Upper sangat mematangkan calon Anchor.

Mereka yang biasa menjadi Stand Upper nggak akan ada ‘dead air’ ketika talkshow di studio,” ujar Tita, Anchor ANTV seangkatan Faried, Tengku Fiola, dan Rahma Alia ini.

Dead air yang dimaksud, situasi dimana Presenter gelegapan, bingung mau bertanya apa lagi, atau kehabisan bahan pertanyaan pas on air. Tak heran, mereka yang dipilih membawakan program news talk show, biasa atau pernah menjadi Stand Upper. Dengan berbekal pengalaman menjadi Stand Upper, Anchor terbiasa improvisasi. Tak tergantung feeding-an dari Produser atau Pemimpin Redaksi (Pemred) dan tidak kaget di-kick oleh narasumber.

Sebelum akhirnya menjadi Anchor RCTI di program Nuansa Pagi, Buletin Siang, Seputar Indonesia, dan Buletin Malam ini, Catharina ‘diceburkan’ ke lapangan untuk meliput berbagai peristiwa. Bukan cuma dirinya yang diperlakukan seperti itu, Anchor-Anchor senior RCTI seperti Dana Iswara, Helmy Yohanes, Adolf Pusaumah, dan juga Dessy Anwar lebih dulu menjadi Reporter dan menyandang predikat sebagai TV Jurnalis.

Menurut Catharina, dengan menjadi Reporter dulu, seorang Anchor akan terbiasa menggali info, tahu karakter narasumber, wawasan mereka pun lebih luas. Selain itu, “Dia (Anchor) terbiasa melakukan riset terlebih dahulu dan pintar bikin narasumber skakmat saat interview,” papar Catharina.

Skakmat yang dimaksud Catharina mirip sebagaimana dikatakan Tita dengan istilah di-kick narasumber. Dengan PD, seorang Anchor tidak akan pernah ‘kalah’ begitu di-kick narasumber. Anchor malah justru bisa meng-kick narsumber dan akhirnya skakmat alias narasumber tidak bisa menjawab pertanyaan si Anchor. Kemampuan ‘mematikan’ narasumber pun, karena kemampuan si Anchor, bukan bantuan Produser atau Pemred yang mem-feeding pertanyaan via ear piece.

Di luar negeri, semua Anchor dari Reporter dulu. Kebanyang nggak kalo tiba-tiba pompter-nya mati, lalu ada kejadian nggak terduga sementara yang dipasang News Presenter doang. Bisa kocar-kacir show-nya,” ujar Catharina.

Banyak lupa, kata News Talent Manager, bahwa sekarang itu Presenter bukan Jurnalis atau broadcaster. Saat ini orang yang bisa membawakan acara infotainmen sudah bisa disebut Presenter. Sementara profesi Anchor harus seorang Jurnalis atau broadcaster, yang kebetulan membacakan berita.

Apakah mereka yang tampil membacakan berita di televisi layak disebut sebagai Anchor? Semua narasumber yang saya interview sepakat mengatakan: TIDAK!

Kecuali tujuan dia ingin kerja di televisi cuma mau jadi tukang baca berita, ya boleh-boleh saja,” kata Jeremy. “Tapi bagi saya, meski predikatnya News Presenter, apalagi Anchor, wajib menjadi Reporter dulu”.

Namun, Catharina dan Tita melihat, saat ini banyak Anchor yang bukan berasal dari Reporter. Mereka bukan Jurnalis dan belum sempat terlibat dalam proses memproduksi berita di televisi, tetapi langsung duduk manis di depan kamera sebagai ‘Anchor’.

Tapi kita bisa lihat, kok, Anchor yang sebelumnya jadi Reporter dengan Anchor yang tidak pernah turun ke lapangan, yakni dari ke-PD-an mereka. Anchor yang matang di lapangan, tentu akan jauh lebih percaya diri dalam membawakan materi berita”.

Lebih dari itu, tambah News Talent Manager, mereka yang tidak melewati jalur Reporter atau Stand Upper, sudah malas untuk diterjunkan ke lapangan atau diminta memproduksi berita. Mereka nampak sudah puas menjadi News Presenter. Kenapa? Mereka sudah menikmati duit, karena kabanyakan siaran. Perlu diketahui, setiap News Presenter yang membacakan berita akan mendapatkan insentif, di luar gaji pokok sebagai karyawan.

Di sisi lain, sistem di stasiun televisi kadang nggak mengizinkan mereka untuk berkembang,” ujar perempuan yang sebelum menjabat sebagai Newst Talent Manager ini sempat menjadi staf produksi, Associate Produser, Produser, dan kemudian Anchor.

Kamis, 24 Desember 2009

DEA WARDANI, PRIA YANG "RESMI" MENJADI PEREMPUAN, ADA DI KABAR PETANG TVONE

Nampak sebuah keluarga sedang melaksanakan selamatan secara sederhana di depan teras rumah. Sebelum makan, mereka malaksanakan sebuah upacara. Ada segepok pisang dan sebuah melon. Seorang ibu berkerudung memercikkan air dari sebuah baskom yang sudah ditaburi bunga ke seorang wanita muda. Wanita ini nampak ceriah sebagaimana hari itu.

Dialah Dea, wanita muda yang sesungguhnya berfitrah sebagai seorang pria, tetapi sudah berubah wujud dan kelamin menjadi seorang wanita cantik. Kini “bebas merdeka” mengkampanyekan dirinya the real woman, karena seorang Hakim telah mengabulkan permohonannya.



Dea Wardani di Kabar Petang tvOne.

Dea yang bernama asli Agus Wardoyo.Setelah hakim mengabulkan, kini Agus sudah resmi menyandang nama Dea. Bukan Dea Ananda atau Dea Mirela, melainkan Dea Wardani. Dokter yang merubah onderdil Agus adalah Prof. DR. Djohansyah Marzoeki yang konon juga sempat melakukan transeksual pada Dorce.

Transeksual atau operasi pergantian kelamin terjadi gara-gara seorang pria merasa nggak pas menjadi seorang laki. Ia lebih pas menjadi seorang wanita, karena setiap kali melihat pria, hatinya tertarik ketimbang melihat wanita. Oleh karena itu, daripada setengah-setengah dianggap waria –karena waria biasanya masih membiarkan penisnya berada di tubuhnya dan terkadang payudara pun masih palsu-, mending melakukan transeksual sekali.


Dokter yang konon menangangi Agus melakukan transeksual menjadi Dea. Konon dokter ini pula yang mempermak Dorce.

Transeksual yang dilakukan pria adalah membuang penis dan testis dan diganti dengan vulva palsu, dimana dilakukan tanpa perangkat lain, yakni tanpa rahim, ovarium, dan tuba fallopi. Vulva palsu ini tentu tidak dapat menggantikan vulva alami. Oleh karena itu pria yang melakukan transeksual nggak akan bisa hamil, karena gennya tetap pria, jenisnya tetap saja pria. Nggak bisa diubah-ubah. Kalo bahasa Betawi: memang dari sononya sudah pria.

Sore itu Dea hadir di studio tvOne di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur. Dengan dipandu sang Presenter acara Apa Kabar Petang, Dea mengungkap mengenai dirinya.






all photos copyright by Brillianto K. Jaya

Rabu, 23 Desember 2009

Nadia Madjid, Broadcaster Indonesia yang Menjadi Pegawai Negeri di Voice of America (VoA)

Tak terasa sudah lebih dari 10 tahun Nadia Madjid tercatat sebagai karyawan di stasiun televisi Voice of America (VoA). Di VoA, wanita ini menjabat sebagai Production Spacialist atau nama lain dari Producer. Tugasnya, selain bertanggung jawab memproduksi program, juga mensupervisi sejumlah anggota tim produksi.

Boleh jadi, ia tak menyangka perjalanan karirnya bisa seperti sekarang ini. Betapa tidak, awalnya Nadia hanya menjadi tenaga kontrak yang tidak memiliki latar belakang broadcast. Ia lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) jurusan Sastra Inggris. Padahal, ketika bergabung di VoA, rata-rata pegawainya memiliki latar belakang broadcast. 

Saya kebetulan bergabung dengan VoA pada masa sebelum adanya tim produksi televisi di VoA Indonesia,” jelas Nadia yang dipercaya memprakarsai program televisi di VoA Indonesia pertama berjudul Dunia Kita ini.

Kala itu, lanjut Nadia, yang dicari adalah orang-orang yang bisa dan mau bekerja mandiri untuk produksi berita, serta memiliki pengetahuan jurnalistik. Oleh karena di awal-awal tidak memiliki kemampuan berproduksi, maka Nadia tidak mampu mengambil gambar dengan camera sendiri maupun mengedit. Yang dilakukan pada awalnya, mereportase, menulis berita, dan sedikit-sedikit menjadi sutradara.

Setiap anggota tim produksi di VoA Indonesia dapat melakukan segala aspek produksi, mulai dari nge-shoot, ngedit, ngereport, menyutradarai, dan aspek-aspek lain,” ungkap Nadia. “Kami memang mengikuti konsep ‘video jurnalistik’, satu orang cukup untuk produksi”.

Tentu saja, bahasa Inggris juga wajib dimiliki. Meski punya pengalaman broadcast dan punya skill pegang camera dan ngedit, tetapi akan percuma kalo tidak bisa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris, pun menulis dalam bahasa Inggris. 

VoA adalah stasiun televisi pemerintah. Oleh karena televisi pemerintah, maka segala pembiayaan disubsidi oleh pemerintah. Maka status seluruh karyawan VoA adalah karyawan pemerintah alias pegawai negeri, termasuk Nadia sendiri. Gajinya pun mengikuti jenjang gaji yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Jadi gajinya beda dengan broadcaster yang kerja di CNN. Entah lebih tinggi atau rendah,” kata Nadia sambil tertawa. “Meski orang Indonesia, saya tetap mendapat gaji dan tunjangan yang sama dengan warga asli Amerika”.

Buat Nadia, banyak suka dan duka selama lebih dari 10 tahun bergabung di VoA. Cara berproduksi di VoA misalnya. Produksi secara mandiri yang diterapkan, membuat karyawannya bebas berkreativitas untuk membuat produksi semenarik mungkin. Lebih dari itu, karena tim kecil, masing-masing anggota tim saling mendukung satu sama lain.

Selain itu, wanita kelahiran Jakarta, 26 Mei 1970 ini juga senang bisa menjalin komunikasi antara warga Amerika dengan warga Indonesia yang tinggal di Amerika. Khusus dengan warga Amrika, Nadia sering saat menginterview, mereka menanyakan tentang Indonesia. Dengan begitu, secara tidak langsung ia ikut menjadi diplomat untuk Indonesia dan mempromosikan Indonesia.

Mereka menayakan macam-macam. Yang umum, mereka tanya tentang berapa jumlah pulau di Indonesia. Banyak juga yang sudah tahu nama-nama mantan Presiden, seperti Soekarno dan Soeharto”.

Ketika penulis tanya tentang fairness dalam pemberitaan tentang Indonesia, Nadia mengatakan VoA sangat objektif. Meski biasanya stasiun televisi pemerintah kerap memuji-muji pemerintahannya dan mengecam negara-negara yang tidak sefaham dengan Amerika, menurut pemilik gelar Master jurusan Cinema and Media Studies dari University of Chicago ini, di VoA apapun negara tujuan produksinya, semua harus menegakkan apa yang disebut sebagai ‘VoA Charter’ (Piagam VoA). Piagam ini yang akan menggarisbawahi pentingnya fairness.

Bahwa dalam setiap berita ada 2 sisi, VoA harus melaporkan kedua sisi tersebut,” ungkap putri tokoh pluralis Nurcholis Madjid ini. “Jadi saya nggak pernah membuat berita yang bertentangan dengan suara hati, karena yang kami laporkan adalah nyata dari kedua sisi isu”.

1384476226836526140

Yang terpenting juga, tak ada intervensi dari pemilik stasiun televisi. Meski yang ‘memiliki’ VoA adalah pemerintah atau negara, menurut Nadia selama lebih dari 10 tahun berkarir tak kebijakan pemerintah yang mengintervesi pemberitaan di VoA. Semua dilakukan dengan menggunakan cover both sides alias pemberitaan yang berimbang.

Kini, rekruitment VoA tak seperti zaman Nadia. Saat ini jika merekrut karyawan baru, VoA lebih mengutamakan mereka yang berlatar belakang broadcast. Terlebih lagi, mereka yang sudah mampu menggunakan camera, mengedit, dan menulis berita pasti akan menjadi nilai tambah.

Buat Anda yang tertarik melamar di VoA, semua lowongan diumumkan lewat situs resmi VoA dan situs milik pemerintahan Amerika. Sistem perekrutan dilakukan secara fair dan terbuka. Alamat situs VoA sendiri adalah www.voaindonesia.com. Selain situs, pengumuman juga dilakukan melalui social media lain, yakni twitter @voaindonesia dan Facebook: VOA Indonesia.

Jumat, 11 Desember 2009

Kisah Erick Gumaryadi, Jurnalis Pertama Peliput Bom JW Marriot 2009

Jum’at, 17 Juli 2009 pukul 07:15 WIB. Langit cerah, udara pun masih relatif ‘bersih’. Erick Gumaryadi telah berada di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan. Hari itu, kebetulan juru kamera Metro TV ini mendapat tugas meliput di KPK. Awalnya ia hanya berdua dengan seorang supir, karena Reporter belum hadir. Tiba-tiba, sekitar pukul 07:47 WIB, ia mendapat telepon dari kantor Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat. Telepon tersebut mengabarkan, ada bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang berada di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ia pun meminta supir bergegas menuju lokasi kejadian.

Meski jarak kantor KPK dan Mega Kuningan tidak jauh, yakni sekitar 500 meter, namun jalan masuk menuju kompleks Mega Kuningan, sudah macet parah. Akses menuju ke JW Marriot pun sudah ditutup oleh pihak kepolisan. Tak heran, Erick pun terpaksa turun dari mobil dinas, menuju ke lokasi kejadian dengan berjalan kaki. Tentu saja, ia harus memanggul camera DVC-Pro yang beratnya sekitar 7-10 kilo itu.



Begitu sampai di Ritz Carlton, tepatnya di parkiran belakang hotel, puing-puing bekas ledakan masih berserakan. Parah sekali. Debu-debu reruntuhan tembok masih mengepul. Maklumlah, waktu ledakan dengan kedatangan Erick belum cukup lama. Saat itu, pihak kepolisan sedang masuk memeriksa lokasi kejadian. Mereka yang mengingap, berhamburan ke luar hotel. Semua kejadian, baik puing-piung yang berserakan, polisi yang sedang memeriksa, dan penghuni hotel yang berhamburan keluar, berhasil direkam gambarnya oleh Erick.

Tak lama setelah mengabadikan gambar di hotel, Erick melihat Alex Asmasoebrata ada dekat hotel dengan masih menggunakan pakaian olahraga. Rupanya, saat kejadian, Pembalap nasional ini tengah jogging di seputar area Ritz Carlton. Ia mengaku, mendengar ledakan pertama, kedua, sampai ledakan yang ketiga. Meski belum ada Reporter, Erick langsung berinisiatif menginterview Alex sebagai saksi mata.

Kelar mewawancarai Alex, Erick pindah lokasi ke depan Ritz Carlton untuk mengambil gambar lain. Kali ini mengambil korban luka-luka serta sejumlah karyawan yang masih berhamburan keluar hotel. Mereka dievakuasi di sebuah lapangan, persis depan Ritz Carlton, yang ketika peristiwa bom Marriot masih kosong. Sementara sebagian korban lagi, sudah dibawa ke rumah sakit.

Cukup lama Erick ‘menguasai’ lokasi. Gambar-gambar eksklusif telah banyak ia rekam. Baru, sekitar setengah jam kemudian, sejumlah stasiun televisi tiba di lokasi, termasuk Reporter Metro TV, yaitu Kinanti Pahlevi. Namun, pada saat itu belum ada perintah live on loc dari Pemimpin Redaksi (Pemred) yang saat itu masih dijabat oleh Elman Saragih.

Buat stasiun televisi berita seperti Metro TV, kecepatan berita dan gambar eksklusif jelas sangat penting. Meski pada saat itu Erick satu-satunya juru kamera yang lebih awal datang ke lokasi, tetapi jika ada stasiun televisi yang lebih dulu menyiarkan peristiwa bom Marriot, tentu saja Metro TV tetap kalah. Sebuah footage peristiwa atau situasi di lokasi kejadian pemboman yang hanya berdurasi 10 detik meski diulang-ulang, tetap dianggap eksklusif, jika muncul lebih awal di sebuah televisi.

Tiba-tiba telepon dari kantor berdering. Saya diminta untuk segera me-live-kan materi liputan saya dari lokasi,” ujar Erick. “Metro TV menjadi televisi pertama yang me-live-kan momen bom Marriot Ritz Carlton di program Breaking News”.

Tak ada kata lelah bagi Erick dalam meliput, terutama saat terjadi bom Marriot. Bayangkan, pada saat itu ia bekerja selama 36 jam. Baginya, tragedi nasional itu, bahkan boleh dikatakan telah menjadi isu internasional, merupakan sebuah tugas jurnalistik, yang wajib dijalankan seorang jurnalis tanpa kenal waktu. Namun, ada yang membanggakan dirinya. Tak lama setelah live, gambar-gambar eksklusif Erick, dipakai oleh beberapa stasiun televisi asing, salah satunya CNN.

Saya tidak paham sistem kerjasamanya, yang pasti semua gambar gue yang sudah di-live Metro TV diambil oleh CNN, termasuk suara Reporter,” jelas Erick, saat penulis tanya apakah CNN dan stasiun televisi asing membayar gambar-gambar eksklusif hasil rekamannya.

Boleh jadi, Erick merupakan satu dari segelintir jurnalis idealis. Betapa tidak, selain tidak hitung-hitungan soal waktu kerja, sebagaimana yang sudah penulis kisahkan di atas, pria ini tak pernah mengharapkan bonus atau penghargaan dalam bentuk apa pun atas keberhasilannya menjadi juru kamera pertama peliput bom Marriot.

Itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai jurnalis,” ucap pria yang juga sempat peristiwa gempa di Padang pada 2009 ini.

Erick sendiri masuk ke Metro TV sejak Februari 2008. Ia tak punya latar belakang sebagai jurnalis, pun punya pengalaman sebagai juru kamera. Metro TV adalah stasiun televisi pertama yang ia masuki dan di Metro TV lah ia menimba ilmu mengoperasikan kamera secara otodidak. Sebelum masuk ke dunia broadcast, Erick sempat bekerja paruh waktu menjadi MC khusus event musik. Lalu, ia menimba ilmu menjadi event organizer (EO). Dengan postur tinggi 170 cm, ia akhirnya terjun sebagai jurnalis dengan posisi sebagai juru kamera khusus program news.

Peristiwa bom JW Marriot dan Ritz Carlton yang sempat diliput Erick, telah menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lain, baik warga Indonesia maupun warga asing. Peristiwa ini terjadi sembilan hari sesudah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia SBY-Boediono, serta dia hari sebelum kedatangan tim sepakbola Manchester United yang rencananya menginap di hotel Ritz-Carlton.




















Character Generic: Sering Diremehkan, Tapi Kalo Salah Fatal Akibatnya

Dalam dunia televisi ada istilah Character Generic atau CG. Yakni serangkaian kata atau kalimat yang muncul di layar. Kata atau kalimat ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada penonton, baik informasi mengenai nama tokoh, judul tema, nama peristiwa, lokasi kejadian, nama presenter, dan informasi lain yang perlu diberitakan. 

Seorang yang menulis di CG biasa disebut Penata Aksara. Namun, tak semua stasiun televisi memiliki Penata Aksara. Mayoritas mereka yang duduk di belakang komputer CG adalah seorang yang menjabat sebagai Penata Grafis. Oleh karena yang bertugas bukan Penata Aksara, maka yang bertugas menata (baca: mengetik) aksara kalo bukan Produser, biasanyaProduction Assistance (PA). Penata Grafis cuma sekadar operator yang siap menampilkan CG kalo Program Director (PD/ Sutradara) meminta.

Bagi banyak stasiun televisi, profesi Penata Aksara dianggap "remeh". Tak penting. Padahal seharusnya tugas menata aksara bukanlah tugas Produser atau PA. Profesi bernama Penata Aksara lah yang bertugas mengetik teks berupa informasi yang ada di rundown atau scriptyang sudah disusun scriptwriter. Memang, pada akhirnya Produser yang bertanggungjawab atas CG yang keluar. Namun, sebelum shooting maupun pada saat shooting, tentu Produser dan PA punya tugas lain, selain "sekadar" menulis teks yang yang harusnya dilakukan oleh Penata Aksara. Nah, oleh karena dianggap "remeh" atau "sepele", banyak kesalahan yang dilakukan saat menampilkan CG.
 
Nama Ketua Umum Partai Golkar yang seharusnya "Aburizal Bakrie" menjadi "Abu Rizal Bakrie" alias dipisah. Kata "Penjemputan" salah ketik. Yang seharusnya kalimatnya "SBY Perintahkan Penjemputan Nazaruddin" menjadi "SBY Perintahkan Penjembutan Nazaruddin". Salah ketik huruf "P" menjadi "B" menyebabkan beda makna. Kata "Kasus" menjadi kelebihan huruf "K", sehingga menjadi "Kaskus" yang lebih dimaknai sebagai sebuah portal. Program berita Liputan 6 SCTV pernah kurang huruf "U". Ketika menayangkan berita tentang Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahok yang marah-marah via YouTube, di CG tertulis: "Komunikasi Wagub via Yotube".

Bukan cuma kelebihan huruf, kekurangan huruf, atau salah huruf. Seringkali ada stasiun televisi yang tidak akurat dalam memberikan informasi. Misal, pada saat berita bom meledak di Kalimalang, Bekasi. Di CG berita tvOne tertulis tanggal 30 Oktober 2010. Padahal, kejadian bom meledak terjadi pada 30 September 2010. Kesalahan bulan tersebut jelas membingungkan pemirsa dan membuktikan ketidakakuratan stasiun televisi tersebut dalam memberikan informasi.

Kesalahan informasi CG juga pernah terjadi pada Metro TV, yakni saat memberitakan tentang kondisi Osama Bin Laden. Dalam CG tertulis: "AS Pastikan Obama Tewas". Padahal yang dinyatakan tewas adalah pemimpin Al-Qaeda Osama bin Laden, bukan Presiden AS Barack Obama. Soal sikap PKS terhadap kenaikan BBM, Metro TV juga pernah memberikan kesalahan informasi di CG. Yang seharusnya PKS menolak kenaikan BBM, tetapi di CG tertulis: "PKS setuju kenaikan BBM". Gara-gara kesalahan tersebut, anggota DPR dari PKS Andi Rahmat sempat memprotes. Kalo Anda iseng berselancar di google, sejumlah situs menulis, stasiun televisi yang dianggap sering melakukan kesalahan ketik adalah tvOne. Terakhir, ketika kasus kerusahan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta, Medan pada 11 Juli 2013 kemarin, tvOne kembali membuat kesalahan alia salah menuliskan CG. Di CG di Kabar Siang tvOne tertulis: "Polisi Tangkap 55 Nabi Kabur". Huruf "P" tertukar dengan huruf "B" yang jelas merupakan kesalahan fatal.

Melihat sejumlah kesalahan pada CG yang sudah terjadi di beberapa stasiun televisi, jelas masalah CG tidak boleh dianggap remeh. Barangkali kalo program berita yang disiarkan stasiun televisi tersebut taping atau direkam, barangkali kesalahan CG bisa dirubah lewat proses editing, dengan cari mengedit ulang. Fatalnya, kalo program berita disiarkan secara langsung, selama di stasiun tersebut tidak ada Penata Aksara dan Penata Grafis cuma sebagai operator, maka seorang Produser harus benar-benar check and recheck CG sebelum di-on air-kan. Kalo gak di-check and recheck lagi, boleh jadi kata-kata "Penjembutan", "Asutralia", "Wahington" atau "Abu Rizal Bakrie" bakal muncul lagi di CG.