Sabtu, 04 September 2010

HATI NURANI PEKERJA INFOTAINMEN

Anda berharap wartawan infotainment itu masih punya hati nurani? Get real....
Mereka itu dibesarkan oleh ideologi Ilham Bintang, yang memang menghalalkan mencari uang dengan menghancurkan kehidupan mereka yang diberitakan ...


Kutipan di atas yang saya copy paste dari milis Naratama TV itu ditulis oleh seorang Ade Armando. Ia menanggapi komentar atas fakta di lapangan, dimana saat terjadi konfrensi pers permohonan maaf Cut Tari atas beredarnya video porno, tidak lebih dari 10 detik setelah Tari berbicara, seorang pekerja infotainment bertanya dengan nada keras.

“Kenapa baru sekarang mbak?”

Padahal belum selesai Tari menghabiskan tangisnya. Padahal banyak penonton melihat ketulusan wajah artis ini untuk meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Dengan ketulusan itu, sangat menggugat hati nurani kita. Padahal (pula), para pekerja infotainment belum diberikan kesempatan untuk bertanya. Namun, kejadian itu muncul. Seorang pekerjaan infotainment entah dari televisi atau production house mana, bertanya tanpa nurani.


Cut Tari dan suaminya Johannes Yusuf Subrata saat konfrensi pers.

Teman, inikah potret buram infotainment kita? Tanpa nurani? Dimana menurut Ade Armando adalah sebuah idologi yang digagas oleh Ilham Bintang. Kalo iya, sungguh ironis. Sementara praktisi media mencoba berteriak-teriak soal hati nurani, brantas korupsi, lawan ketidakadilan, sementara hati nurani praktisi media –dalam hal ini pekerja infotainment- seakan tercabut.

Dalam milis Naratama TV, Nara mencoba memberi contoh, bahwa di Amerika Serikat sendiri yang dianggap sebagai negara liberal yang menganut kebebasan pers, para wartawannya tetap memiliki etika. Ia mencotohkan pada saat konferensi pers bintang basket NBA dari LA Lakers, Kobe Bryant. Di ruang konferensi penuh dengan wartawan sport maupun infotainment. Meski jumlahnya puluhan dan semua ingin bertanya, namun semuanya serba tertib dan menjaga emosi Kobe Bryant. Contoh lain saat Nara meliput di Red Carpet Oscar 2010, dimana ratusan wartawan berjejal-jejal. Saling berebut spot (tempat untuk mengambil gambar atau interview bintang Hollywood-pen). Namun, semua jurnalis berusaha untuk tidak melanggar hak-hak serta dan emosi narasumber. Tapi di Indonesia yang katanya menjunjung sopan santun, kok begitu?

Memang, tidak semua pekerja infotainment tidak punya hati nurani. Saya yakin masih ada yang punya. Meski akhirnya mereka yang masih punya hati nurani harus kalah dalam pemberitaan, karena “kurang berani”, “kurang nakal” dalam membuat pertanyaan, dan lain sebagainya.

Coba simak pernyataan Ade Armando ini lagi:

Saya tahu masih ada sejumlah wartawan infotainment yang berusaha menerapkan standard-standard jurnalisme yang benar...Tapi itu hanya sejumlah. Kalau kita tidak mau jujur dengan kenyataan pahit ini, keadaan memang tidak akan membaik..”

Ah, moga-moga apa yang dikatakan Ade salah. Teman-teman pekerja infotainment pasti masih punya hati nurani dan ke depan pasti jauh lebih baik. Bukan begitu teman-temanku?

Foto copyright Yayat Ruhayat CnR

Jadi benar nggak ya kata-kata Luna Maya di Twiter?




Tidak ada komentar: