Senin, 07 Maret 2016

Tentang Master Syuting dan Master Edit

Sebut saja namanya Yayat. Reporter TV ini stres berat. Ia harus berkejaran dengan jadwal tayang program bulletin yang akan tayang satu jam lagi. Hasil liputannya dengan camper tak punya banyak footage dan S.O.T. dari narasumber. Padahal, dari naskah yang ia buat, editor butuh S.O.T. plus footage.

Reporter coba usaha mencari master syuting lain yang ada S.O.T. narasumber sesuai berita. Selain mencari S.O.T., Reporter juga meminta bantuan karyawan library untuk mencari footage. Hasilnya? Butuh waktu, sementara waktu untuk mengedit agar siap tayang, tak memungkinkan. Demi menyelamatkan paket yang akan tayang, sang reporter mau tak mau mengambil master edit yang ada S.O.T. narasumber tersebut.
Kompasianers, begitulah situasi yang biasa terjadi di ruang editing redaksi. Ketika tidak ada footage yang dibutuhkan sebagai visual liputan untuk paket berita, reporter bisa keringat dingin. Makin berkeringat ketika di library sulit ditemukan visual pendukung untuk paket tersebut. Cara instan adalah menggunakan master edit. 

Tentu, Anda yang belum pernah terlihat dalam sebuah syuting, belum terbiasa mendengar istilah master syuting atau master edit. Istilah ini sebetulnya juga ada di dunia film maupun iklan. Namun saya hanya bercerita khusus di dunia televisi. Master syuting adalah hasil syuting sebelum melalui proses paska produksi. Hasil syuting bisa berupa kaset, bisa pula berupa data (card). Ada juga yang langsung dari kamera, lalu ditransfer ke hard disc komputer editing. Jadi, begitu sang program director (PD) -sutradara televisi multikamera- mengatakan "bungkus" alias "selesai", hasil rekaman tunda (taping) yang disimpan di kaset atau data (card) tadi disebut sebagai master syuting. Begitu pula begitu camper selesai meliput, kaset atau data hasil liputan diberikan ke editor untuk segera diedit.

Khusus untuk liputan, di dalam master syuting biasanya terdapat S.O.T. narasumber terkait, maupun sedikit footage situasi di lokasi. S.O.T. adalah soundbite on tape. Yakni hasil wawancara dari narasumber. Hasil wawancara ini biasanya tidak semua ditayangkan, tetapi akan diambil cuplikan kalimat saja yang dianggap penting dan mewakili dari tema dari berita tersebut.Begitu pula footage. Biasanya footage ditempelkan di visual untuk memperkuat naskah yang di-voice over-kan.

Lalu apa itu master edit? Dari namanya saja barangkali Anda sudah bisa menebak. Master edit adalah hasil edit yang sudah melewati proses paska produksi atau editing. Sekadar info, dalam proses editing ada tahap offline (logging, digitizing, dan rough cut), online (final cut dan titling), dan mixing. Artinya, hasil syuting yang diambil dari master edit tadi sudah "diobrak-abrik" di tahap editing dan kemudian menjadi master edit. Master edit juga hasil edit yang sudah disesuaikan dengan durasi tayang.

Lalu apa masalahnya?

Master edit hanya memiliki visual yang sudah dipotong. Sementara master syuting memiliki visual panjang yang belum dipotong. Master edit hanya memiliki S.O.T. yang sudah dipotong. Sementara master syuting memiliki S.O.T. panjang yang belum dipotong. Reporter tentu membutuhkan master syuting jika kebetulan ada liputan yang visual dan S.O.T. sama. Namun, jika master syuting tidak ditemukan, master edit yang akhirnya dijadikan bahan baku di proses editing. Masalahnya, selain footage terbatas dan S.O.T. dipotong, master edit sudah "dipermak" audio dan visualnya. Jika dijadikan bahan baku untuk paket liputan, maka kualitasnya berbeda dengan master syuting.

Lalu kenapa reporter mengambil master edit?

Ada beberapa alasan. Pertama, reporter malas untuk mencari master syuting di library. Padahal seharusnya reporter punya keinginan untuk membuat paket berita terbaik sebelum ditayangkan.Ia harus melihat satu per satu sumber visual hasil syuting sesuai dengan naskah. Jika kurang, reporter harus melihat lagi di master syuting.

Alasan kedua, deadline untuk mencari footage dan S.O.T. di master syuting terbatas. Sang reporter tak punya waktu mencari dan editor tak sanggup mengedit dalam tempo singkat.

Alasan terakhir, ruang penyimpanan master syuting seperti "hutan belantara". Reporter mengalami kesulitan mencari footage atau S.O.T. narasumber sesuai dengan paket berita. Sebab, di penyimpanan tidak dicantumkan nama narasumber atau tema visual. Kalau pun dicantumkan nama narasumber, tema wawancara di master syuting tidak disebutkan, sehingga menyulitkan sang reporter. Ia mau tak mau harus mendengarkan dari awal, dan itu butuh waktu. Sungguh sayang, jika memilih sempurna mendapatkan footage atau S.O.T. tetapi deadline tidak terkejar. Liputan yang harusnya eksklusif, jadi basi.

Ruang penyimpanan master syuting saat ini masih menjadi kendala. Maklumlah, ruang penyimpanan pasti punya keterbatasan. Sebelum zaman digital yang hanya menyimpan master syuting via eksternal hard disk, dahulu kala library harus menyimpan kaset. Bayangkan kaset-kaset master syuting yang besar-besar butuh ruang penyimpanan yang besar pula.

Selain ruang penyimpanan, yang juga bisa memudahkan reporter bekerja mencari master syuting sebetulnya adalah detail informasi dari master syuting itu. Tanpa info detail, reporter pasti akan memanfaatkan master edit sebagai sumber editing. Info detail yang dimaksud seperti yang sudah disinggung di atas, yakni ada nama lokasi, tempat kejadian/ peristiwa, tanggal kejadian, narasumber/ tokoh, statement yang diucapkan narasumber/ tokoh tersebut, dan hal-hal lain yang dibutuhkan untuk memudahkan reporter dan editor membuat paket berita.

Tidak ada komentar: