"Nanti tolong tampilan saat Bapak bicara seperti ini ya...".
Kalimat tersebut muncul dari seorang pria tambun berbaju batik. Sambil menunjuk tv monitor, ia mengarahkan seorang Program Director (PD) yang sejak awal duduk di kursi sambil menghadap sebuah monitor, dimana di monitor tersebut terdapat beberapa gambar.
Pria berambut cepak ini tak lain adalah seorang pengarah visual dari protokoler kepresidenan. Hal ini terlihat dari penampilannya, termasuk kabel alat komunikasi yang selalu menampel di kuping kirinya.
Kompasianers, dalam setiap pidato Presiden, pasti ada seorang pengarah visual, yang akan mengarahkan seorang PD dalam mengarahkan gambar. Dalam produksi televisi, PD sebetulnya sudah menjadi "Dewa" dalam pengambilan gambar. Semua kamera --terutama dalam produki multikamera- yang merekam aktivitas di atas panggung, harus mengikuti perintah PD.
Kameraman wajib mengikuti arahan PD sebelum memutuskan type of shot yang diambil close up (CU), medium shot (MS), atau long shot (LS). Boleh saja kameraman usul dalam mengambil gambar. Namun, keputusan tetap dipegang oleh PD.
Sebetulnya, PD bukan cuma sekadar mengambil gambar saat kamera semua sudah terpasang. Jauh sebelum produksi, PD punya tugas untuk mensurvey lokasi syuting. Dari lokasi syuting yang disurvey tersebut, seorang PD jadi memiliki gambaran berapa jumlah kamera yang akan dipergunaaan saat syuting, blocking kamera (penempatan posisi kamera), dan diputuskan ukuran pengunaan jib, apakah hanya perlu 7 meter, 9 meter, atau 12 meter.
Jib yang penulis maksud adalah sebuah perangkat yang berguna untuk mendapatkan visual yang tinggi atau visual yang dibutuhkan dalam jarak yang sangat jauh, baik secara horizontal maupun vertikal.
Ketika sudah mendapatkan rundown acara dari Produser, PD akan mencoba menerjemahkan konsep di atas kertas menjadi sebuah tampilan visual yang akan direkam melalui perangkat kamera, audio, dan juga lighting.
Dengan kata lain, PD memiliki kemampuan artistik untuk menjadikan rundown menjadi sebuah pertunjukan yang menarik. Sebab, PD akan mengarahkan blocking talent (host atau narasumber) dimana ia masuk dan keluar (in frame atau out frame).
PD juga mengarahkan lightingman untuk menghidupkan lampu efek. Tak ketinggalan, PD juga memberikan aba-aba pada seorang VTR untuk memutar rekaman video taped (VT) dan meminta seorang grafis untuk menayangkan infografis, character generated (CG), dll. Begitulah tanggung jawab seorang PD. Berat, tapi sangat menentukan dalam sebuah pengambilan gambar di televisi.
Namun, sosok PD yang bagai "Dewa" tersebut terpaksa harus tuduk pada seorang pengarah visual dari protokoler Istana. Meski memiliki konsep A, B, C, atau D dalam pengambilan gambar, tetapi saat Presiden pidato, type shot yang diminta pengarah visual harus diikuti.
Bisa saja PD melihat sang Presiden memiliki ciri pada body language --misal tangan-, PD tetap tidak boleh memerintahkan satu kamera mengambil CU tangan sang Presiden.
Atau mengambil panning dari kiri ke kanan wajah Presiden dengan type of shot CU. Kreativitas dalam pengambilan gambar tak berlaku saat Presiden melakukan pidato. Tak heran, saat Presiden pidato, PD hanya mengambil gambar medium close up (MCU), dimana hanya terlihat sedikit podium sampai kepala.
Selain penata visual, yang tak kalah penting dalam pidato Presiden adalah pengarah audio. Barangkali sebagian dari Anda belum tahu, bahwa setiap pidato Presiden, protokoler membawa podium beserta mic sendiri.
Podium dan mic adalah satu paket. Staf protokoler akan mengangkat dan menurunkan podium ke dan dari atas panggung. Jadi, untuk mengetahui Presiden itu jadi datang atau tidak ke lokasi untuk memberikan sambutan itu mudah, tinggal lihat podiumnya saja. Jika podium tetap berada di tengah panggung, maka Presiden jadi datang. Jika podium yang sudah diletakkan di tengah panggung digotong lagi oleh staf protokol kepresidenan, maka Presiden batal datang.
Audio sangat penting dalam pidato kepresidenan. Sebenarnya tak cuma pidato Presiden, di acara mana pun audio sangat vital. Kenapa penting? Coba Anda bayangkan, jika Presiden mau berpidato, mic mati.
Presiden harus mengetuk-ngetuk ujung mic, lalu ucap: "Test...Test...". Sungguh memalukan bukan? Atau di tengah pidato, suara yang dikeluarkan dari sepaker terdengar feedback, sehingga membuat sakit kuping para peserta.
Makin parah, jika suara Presiden yang sebetulnya agak nge-bass, tiba-tiba berubah cempreng, bahkan cenderung seperti suara bebek. Nah, untuk mengantisipasi masalah audio itulah yang kemudian menjadikan seorang penata suara penting dalam pidato kepresidenan.
Beberapa jam sebelum Presiden masuk ke ruangan dan memberikan sambutan, penata suara sudah menguji semua mic dan sumber suara (baca: speaker). Biasanya di ruangan tempat acara sudah ada perangkat audio (mic dan speaker) beserta mixer audio. Semua perangkat tersebut harus dites dan diatur level audionya. Paket podium dan mic yang dibawa staf protokoler kepresidenan tersebut juga ikut dites.
Mic Presiden yang dibawa itu disambungkan dengan kabel yang ada di perangkat audio tempat tersebut. Semua dicoba, sampai semuanya sempurna. Bahkan, untuk menjaga kesempurnaan dari gangguan teknis audio, sinyal semua operator seluler semua peserta di-jam (baca: dimatikan) terlebih dahulu. Tujuannya supaya jika sinyal-sinyal telepon peseta tidak menganggu frekuensi audio Presiden.
Meski sudah ditest komposisi visual sang Presiden, namun penata kepresidenan visual tetap memantau kinerja PD di control room. Tentu penata visual kepresidenan tak ingin PD melanggar kesepakatan dalam pengambilan gambar.
Begitu pula dengan penata suara. Ia harus stand by di depan audio mixer sambil terus memonitor laporan dari staf kepresidenan lain --yang mendengarkan audio di ruang utama bersama peserta--, melalui handy talky (HT)-nya. Sebab, meski saat ditest sudah sempurna, jangan sampai begitu Presiden pidato, ada gangguan teknis yang tak diprediksi muncul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar