Jumat, 11 Desember 2009

Kisah Erick Gumaryadi, Jurnalis Pertama Peliput Bom JW Marriot 2009

Jum’at, 17 Juli 2009 pukul 07:15 WIB. Langit cerah, udara pun masih relatif ‘bersih’. Erick Gumaryadi telah berada di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan. Hari itu, kebetulan juru kamera Metro TV ini mendapat tugas meliput di KPK. Awalnya ia hanya berdua dengan seorang supir, karena Reporter belum hadir. Tiba-tiba, sekitar pukul 07:47 WIB, ia mendapat telepon dari kantor Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat. Telepon tersebut mengabarkan, ada bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang berada di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ia pun meminta supir bergegas menuju lokasi kejadian.

Meski jarak kantor KPK dan Mega Kuningan tidak jauh, yakni sekitar 500 meter, namun jalan masuk menuju kompleks Mega Kuningan, sudah macet parah. Akses menuju ke JW Marriot pun sudah ditutup oleh pihak kepolisan. Tak heran, Erick pun terpaksa turun dari mobil dinas, menuju ke lokasi kejadian dengan berjalan kaki. Tentu saja, ia harus memanggul camera DVC-Pro yang beratnya sekitar 7-10 kilo itu.



Begitu sampai di Ritz Carlton, tepatnya di parkiran belakang hotel, puing-puing bekas ledakan masih berserakan. Parah sekali. Debu-debu reruntuhan tembok masih mengepul. Maklumlah, waktu ledakan dengan kedatangan Erick belum cukup lama. Saat itu, pihak kepolisan sedang masuk memeriksa lokasi kejadian. Mereka yang mengingap, berhamburan ke luar hotel. Semua kejadian, baik puing-piung yang berserakan, polisi yang sedang memeriksa, dan penghuni hotel yang berhamburan keluar, berhasil direkam gambarnya oleh Erick.

Tak lama setelah mengabadikan gambar di hotel, Erick melihat Alex Asmasoebrata ada dekat hotel dengan masih menggunakan pakaian olahraga. Rupanya, saat kejadian, Pembalap nasional ini tengah jogging di seputar area Ritz Carlton. Ia mengaku, mendengar ledakan pertama, kedua, sampai ledakan yang ketiga. Meski belum ada Reporter, Erick langsung berinisiatif menginterview Alex sebagai saksi mata.

Kelar mewawancarai Alex, Erick pindah lokasi ke depan Ritz Carlton untuk mengambil gambar lain. Kali ini mengambil korban luka-luka serta sejumlah karyawan yang masih berhamburan keluar hotel. Mereka dievakuasi di sebuah lapangan, persis depan Ritz Carlton, yang ketika peristiwa bom Marriot masih kosong. Sementara sebagian korban lagi, sudah dibawa ke rumah sakit.

Cukup lama Erick ‘menguasai’ lokasi. Gambar-gambar eksklusif telah banyak ia rekam. Baru, sekitar setengah jam kemudian, sejumlah stasiun televisi tiba di lokasi, termasuk Reporter Metro TV, yaitu Kinanti Pahlevi. Namun, pada saat itu belum ada perintah live on loc dari Pemimpin Redaksi (Pemred) yang saat itu masih dijabat oleh Elman Saragih.

Buat stasiun televisi berita seperti Metro TV, kecepatan berita dan gambar eksklusif jelas sangat penting. Meski pada saat itu Erick satu-satunya juru kamera yang lebih awal datang ke lokasi, tetapi jika ada stasiun televisi yang lebih dulu menyiarkan peristiwa bom Marriot, tentu saja Metro TV tetap kalah. Sebuah footage peristiwa atau situasi di lokasi kejadian pemboman yang hanya berdurasi 10 detik meski diulang-ulang, tetap dianggap eksklusif, jika muncul lebih awal di sebuah televisi.

Tiba-tiba telepon dari kantor berdering. Saya diminta untuk segera me-live-kan materi liputan saya dari lokasi,” ujar Erick. “Metro TV menjadi televisi pertama yang me-live-kan momen bom Marriot Ritz Carlton di program Breaking News”.

Tak ada kata lelah bagi Erick dalam meliput, terutama saat terjadi bom Marriot. Bayangkan, pada saat itu ia bekerja selama 36 jam. Baginya, tragedi nasional itu, bahkan boleh dikatakan telah menjadi isu internasional, merupakan sebuah tugas jurnalistik, yang wajib dijalankan seorang jurnalis tanpa kenal waktu. Namun, ada yang membanggakan dirinya. Tak lama setelah live, gambar-gambar eksklusif Erick, dipakai oleh beberapa stasiun televisi asing, salah satunya CNN.

Saya tidak paham sistem kerjasamanya, yang pasti semua gambar gue yang sudah di-live Metro TV diambil oleh CNN, termasuk suara Reporter,” jelas Erick, saat penulis tanya apakah CNN dan stasiun televisi asing membayar gambar-gambar eksklusif hasil rekamannya.

Boleh jadi, Erick merupakan satu dari segelintir jurnalis idealis. Betapa tidak, selain tidak hitung-hitungan soal waktu kerja, sebagaimana yang sudah penulis kisahkan di atas, pria ini tak pernah mengharapkan bonus atau penghargaan dalam bentuk apa pun atas keberhasilannya menjadi juru kamera pertama peliput bom Marriot.

Itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai jurnalis,” ucap pria yang juga sempat peristiwa gempa di Padang pada 2009 ini.

Erick sendiri masuk ke Metro TV sejak Februari 2008. Ia tak punya latar belakang sebagai jurnalis, pun punya pengalaman sebagai juru kamera. Metro TV adalah stasiun televisi pertama yang ia masuki dan di Metro TV lah ia menimba ilmu mengoperasikan kamera secara otodidak. Sebelum masuk ke dunia broadcast, Erick sempat bekerja paruh waktu menjadi MC khusus event musik. Lalu, ia menimba ilmu menjadi event organizer (EO). Dengan postur tinggi 170 cm, ia akhirnya terjun sebagai jurnalis dengan posisi sebagai juru kamera khusus program news.

Peristiwa bom JW Marriot dan Ritz Carlton yang sempat diliput Erick, telah menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lain, baik warga Indonesia maupun warga asing. Peristiwa ini terjadi sembilan hari sesudah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia SBY-Boediono, serta dia hari sebelum kedatangan tim sepakbola Manchester United yang rencananya menginap di hotel Ritz-Carlton.




















Tidak ada komentar: