Jum’at, 17 Juli 2009 pukul 07:15 WIB. Langit cerah, udara pun masih
relatif ‘bersih’. Erick Gumaryadi telah berada di kantor Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK), Kuningan, Jakarta Selatan. Hari itu,
kebetulan juru kamera Metro TV ini mendapat tugas meliput di KPK.
Awalnya ia hanya berdua dengan seorang supir, karena Reporter belum
hadir. Tiba-tiba, sekitar pukul 07:47 WIB, ia mendapat telepon dari
kantor Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat. Telepon tersebut mengabarkan,
ada bom meledak di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton yang berada di
kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Ia pun meminta supir bergegas
menuju lokasi kejadian.
Meski jarak kantor KPK dan
Mega Kuningan tidak jauh, yakni sekitar 500 meter, namun jalan masuk
menuju kompleks Mega Kuningan, sudah macet parah. Akses menuju ke JW
Marriot pun sudah ditutup oleh pihak kepolisan. Tak heran, Erick pun
terpaksa turun dari mobil dinas, menuju ke lokasi kejadian dengan
berjalan kaki. Tentu saja, ia harus memanggul camera DVC-Pro yang
beratnya sekitar 7-10 kilo itu.
Begitu
sampai di Ritz Carlton, tepatnya di parkiran belakang hotel,
puing-puing bekas ledakan masih berserakan. Parah sekali. Debu-debu
reruntuhan tembok masih mengepul. Maklumlah, waktu ledakan dengan
kedatangan Erick belum cukup lama. Saat itu, pihak kepolisan sedang
masuk memeriksa lokasi kejadian. Mereka yang mengingap, berhamburan ke
luar hotel. Semua kejadian, baik puing-piung yang berserakan, polisi
yang sedang memeriksa, dan penghuni hotel yang berhamburan keluar,
berhasil direkam gambarnya oleh Erick.
Tak lama
setelah mengabadikan gambar di hotel, Erick melihat Alex Asmasoebrata
ada dekat hotel dengan masih menggunakan pakaian olahraga. Rupanya, saat
kejadian, Pembalap nasional ini tengah jogging di seputar area Ritz
Carlton. Ia mengaku, mendengar ledakan pertama, kedua, sampai ledakan
yang ketiga. Meski belum ada Reporter, Erick langsung berinisiatif
menginterview Alex sebagai saksi mata.
Kelar
mewawancarai Alex, Erick pindah lokasi ke depan Ritz Carlton untuk
mengambil gambar lain. Kali ini mengambil korban luka-luka serta
sejumlah karyawan yang masih berhamburan keluar hotel. Mereka dievakuasi
di sebuah lapangan, persis depan Ritz Carlton, yang ketika peristiwa
bom Marriot masih kosong. Sementara sebagian korban lagi, sudah dibawa
ke rumah sakit.
Cukup lama Erick ‘menguasai’
lokasi. Gambar-gambar eksklusif telah banyak ia rekam. Baru, sekitar
setengah jam kemudian, sejumlah stasiun televisi tiba di lokasi,
termasuk Reporter Metro TV, yaitu Kinanti Pahlevi. Namun, pada saat itu
belum ada perintah live on loc dari Pemimpin Redaksi (Pemred) yang saat itu masih dijabat oleh Elman Saragih.
Buat
stasiun televisi berita seperti Metro TV, kecepatan berita dan gambar
eksklusif jelas sangat penting. Meski pada saat itu Erick satu-satunya
juru kamera yang lebih awal datang ke lokasi, tetapi jika ada stasiun
televisi yang lebih dulu menyiarkan peristiwa bom Marriot, tentu saja
Metro TV tetap kalah. Sebuah footage peristiwa atau situasi di
lokasi kejadian pemboman yang hanya berdurasi 10 detik meski
diulang-ulang, tetap dianggap eksklusif, jika muncul lebih awal di
sebuah televisi.
“Tiba-tiba telepon dari kantor berdering. Saya diminta untuk segera me-live-kan materi liputan saya dari lokasi,” ujar Erick. “Metro TV menjadi televisi pertama yang me-live-kan momen bom Marriot Ritz Carlton di program Breaking News”.
Tak
ada kata lelah bagi Erick dalam meliput, terutama saat terjadi bom
Marriot. Bayangkan, pada saat itu ia bekerja selama 36 jam. Baginya,
tragedi nasional itu, bahkan boleh dikatakan telah menjadi isu
internasional, merupakan sebuah tugas jurnalistik, yang wajib dijalankan
seorang jurnalis tanpa kenal waktu. Namun, ada yang membanggakan
dirinya. Tak lama setelah live, gambar-gambar eksklusif Erick, dipakai
oleh beberapa stasiun televisi asing, salah satunya CNN.
“Saya
tidak paham sistem kerjasamanya, yang pasti semua gambar gue yang sudah
di-live Metro TV diambil oleh CNN, termasuk suara Reporter,” jelas Erick, saat penulis tanya apakah CNN dan stasiun televisi asing membayar gambar-gambar eksklusif hasil rekamannya.
Boleh
jadi, Erick merupakan satu dari segelintir jurnalis idealis. Betapa
tidak, selain tidak hitung-hitungan soal waktu kerja, sebagaimana yang
sudah penulis kisahkan di atas, pria ini tak pernah mengharapkan bonus
atau penghargaan dalam bentuk apa pun atas keberhasilannya menjadi juru
kamera pertama peliput bom Marriot.
“Itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai jurnalis,” ucap pria yang juga sempat peristiwa gempa di Padang pada 2009 ini.
Erick
sendiri masuk ke Metro TV sejak Februari 2008. Ia tak punya latar
belakang sebagai jurnalis, pun punya pengalaman sebagai juru kamera.
Metro TV adalah stasiun televisi pertama yang ia masuki dan di Metro TV
lah ia menimba ilmu mengoperasikan kamera secara otodidak. Sebelum masuk
ke dunia broadcast, Erick sempat bekerja paruh waktu menjadi
MC khusus event musik. Lalu, ia menimba ilmu menjadi event organizer
(EO). Dengan postur tinggi 170 cm, ia akhirnya terjun sebagai jurnalis
dengan posisi sebagai juru kamera khusus program news.
Peristiwa
bom JW Marriot dan Ritz Carlton yang sempat diliput Erick, telah
menewaskan 9 orang korban dan melukai lebih dari 50 orang lain, baik
warga Indonesia maupun warga asing. Peristiwa ini terjadi sembilan hari
sesudah Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Indonesia SBY-Boediono, serta
dia hari sebelum kedatangan tim sepakbola Manchester United yang
rencananya menginap di hotel Ritz-Carlton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar