Rabu, 23 Desember 2009

Nadia Madjid, Broadcaster Indonesia yang Menjadi Pegawai Negeri di Voice of America (VoA)

Tak terasa sudah lebih dari 10 tahun Nadia Madjid tercatat sebagai karyawan di stasiun televisi Voice of America (VoA). Di VoA, wanita ini menjabat sebagai Production Spacialist atau nama lain dari Producer. Tugasnya, selain bertanggung jawab memproduksi program, juga mensupervisi sejumlah anggota tim produksi.

Boleh jadi, ia tak menyangka perjalanan karirnya bisa seperti sekarang ini. Betapa tidak, awalnya Nadia hanya menjadi tenaga kontrak yang tidak memiliki latar belakang broadcast. Ia lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) jurusan Sastra Inggris. Padahal, ketika bergabung di VoA, rata-rata pegawainya memiliki latar belakang broadcast. 

Saya kebetulan bergabung dengan VoA pada masa sebelum adanya tim produksi televisi di VoA Indonesia,” jelas Nadia yang dipercaya memprakarsai program televisi di VoA Indonesia pertama berjudul Dunia Kita ini.

Kala itu, lanjut Nadia, yang dicari adalah orang-orang yang bisa dan mau bekerja mandiri untuk produksi berita, serta memiliki pengetahuan jurnalistik. Oleh karena di awal-awal tidak memiliki kemampuan berproduksi, maka Nadia tidak mampu mengambil gambar dengan camera sendiri maupun mengedit. Yang dilakukan pada awalnya, mereportase, menulis berita, dan sedikit-sedikit menjadi sutradara.

Setiap anggota tim produksi di VoA Indonesia dapat melakukan segala aspek produksi, mulai dari nge-shoot, ngedit, ngereport, menyutradarai, dan aspek-aspek lain,” ungkap Nadia. “Kami memang mengikuti konsep ‘video jurnalistik’, satu orang cukup untuk produksi”.

Tentu saja, bahasa Inggris juga wajib dimiliki. Meski punya pengalaman broadcast dan punya skill pegang camera dan ngedit, tetapi akan percuma kalo tidak bisa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris, pun menulis dalam bahasa Inggris. 

VoA adalah stasiun televisi pemerintah. Oleh karena televisi pemerintah, maka segala pembiayaan disubsidi oleh pemerintah. Maka status seluruh karyawan VoA adalah karyawan pemerintah alias pegawai negeri, termasuk Nadia sendiri. Gajinya pun mengikuti jenjang gaji yang sudah ditentukan oleh pemerintah.

Jadi gajinya beda dengan broadcaster yang kerja di CNN. Entah lebih tinggi atau rendah,” kata Nadia sambil tertawa. “Meski orang Indonesia, saya tetap mendapat gaji dan tunjangan yang sama dengan warga asli Amerika”.

Buat Nadia, banyak suka dan duka selama lebih dari 10 tahun bergabung di VoA. Cara berproduksi di VoA misalnya. Produksi secara mandiri yang diterapkan, membuat karyawannya bebas berkreativitas untuk membuat produksi semenarik mungkin. Lebih dari itu, karena tim kecil, masing-masing anggota tim saling mendukung satu sama lain.

Selain itu, wanita kelahiran Jakarta, 26 Mei 1970 ini juga senang bisa menjalin komunikasi antara warga Amerika dengan warga Indonesia yang tinggal di Amerika. Khusus dengan warga Amrika, Nadia sering saat menginterview, mereka menanyakan tentang Indonesia. Dengan begitu, secara tidak langsung ia ikut menjadi diplomat untuk Indonesia dan mempromosikan Indonesia.

Mereka menayakan macam-macam. Yang umum, mereka tanya tentang berapa jumlah pulau di Indonesia. Banyak juga yang sudah tahu nama-nama mantan Presiden, seperti Soekarno dan Soeharto”.

Ketika penulis tanya tentang fairness dalam pemberitaan tentang Indonesia, Nadia mengatakan VoA sangat objektif. Meski biasanya stasiun televisi pemerintah kerap memuji-muji pemerintahannya dan mengecam negara-negara yang tidak sefaham dengan Amerika, menurut pemilik gelar Master jurusan Cinema and Media Studies dari University of Chicago ini, di VoA apapun negara tujuan produksinya, semua harus menegakkan apa yang disebut sebagai ‘VoA Charter’ (Piagam VoA). Piagam ini yang akan menggarisbawahi pentingnya fairness.

Bahwa dalam setiap berita ada 2 sisi, VoA harus melaporkan kedua sisi tersebut,” ungkap putri tokoh pluralis Nurcholis Madjid ini. “Jadi saya nggak pernah membuat berita yang bertentangan dengan suara hati, karena yang kami laporkan adalah nyata dari kedua sisi isu”.

1384476226836526140

Yang terpenting juga, tak ada intervensi dari pemilik stasiun televisi. Meski yang ‘memiliki’ VoA adalah pemerintah atau negara, menurut Nadia selama lebih dari 10 tahun berkarir tak kebijakan pemerintah yang mengintervesi pemberitaan di VoA. Semua dilakukan dengan menggunakan cover both sides alias pemberitaan yang berimbang.

Kini, rekruitment VoA tak seperti zaman Nadia. Saat ini jika merekrut karyawan baru, VoA lebih mengutamakan mereka yang berlatar belakang broadcast. Terlebih lagi, mereka yang sudah mampu menggunakan camera, mengedit, dan menulis berita pasti akan menjadi nilai tambah.

Buat Anda yang tertarik melamar di VoA, semua lowongan diumumkan lewat situs resmi VoA dan situs milik pemerintahan Amerika. Sistem perekrutan dilakukan secara fair dan terbuka. Alamat situs VoA sendiri adalah www.voaindonesia.com. Selain situs, pengumuman juga dilakukan melalui social media lain, yakni twitter @voaindonesia dan Facebook: VOA Indonesia.

Tidak ada komentar: