Tak
terasa sudah lebih dari 10 tahun Nadia Madjid tercatat sebagai karyawan di stasiun
televisi Voice of America (VoA). Di VoA, wanita ini menjabat sebagai
Production Spacialist atau nama lain dari Producer. Tugasnya, selain
bertanggung jawab memproduksi program, juga mensupervisi sejumlah
anggota tim produksi.
Boleh
jadi, ia tak menyangka perjalanan karirnya bisa seperti sekarang ini.
Betapa tidak, awalnya Nadia hanya menjadi tenaga kontrak yang tidak
memiliki latar belakang broadcast. Ia lulusan Fakultas Sastra
Universitas Indonesia (FSUI) jurusan Sastra Inggris. Padahal, ketika
bergabung di VoA, rata-rata pegawainya memiliki latar belakang
broadcast.
“Saya kebetulan bergabung dengan VoA pada masa sebelum adanya tim produksi televisi di VoA Indonesia,” jelas Nadia yang dipercaya memprakarsai program televisi di VoA Indonesia pertama berjudul Dunia Kita ini.
Kala
itu, lanjut Nadia, yang dicari adalah orang-orang yang bisa dan mau
bekerja mandiri untuk produksi berita, serta memiliki pengetahuan
jurnalistik. Oleh karena di awal-awal tidak memiliki kemampuan
berproduksi, maka Nadia tidak mampu mengambil gambar dengan camera
sendiri maupun mengedit. Yang dilakukan pada awalnya, mereportase,
menulis berita, dan sedikit-sedikit menjadi sutradara.
“Setiap
anggota tim produksi di VoA Indonesia dapat melakukan segala aspek
produksi, mulai dari nge-shoot, ngedit, ngereport, menyutradarai, dan
aspek-aspek lain,” ungkap Nadia. “Kami memang mengikuti konsep ‘video jurnalistik’, satu orang cukup untuk produksi”.
Tentu
saja, bahasa Inggris juga wajib dimiliki. Meski punya pengalaman
broadcast dan punya skill pegang camera dan ngedit, tetapi akan percuma
kalo tidak bisa bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris, pun menulis dalam
bahasa Inggris.
VoA
adalah stasiun televisi pemerintah. Oleh karena televisi pemerintah,
maka segala pembiayaan disubsidi oleh pemerintah. Maka status seluruh
karyawan VoA adalah karyawan pemerintah alias pegawai negeri, termasuk
Nadia sendiri. Gajinya pun mengikuti jenjang gaji yang sudah ditentukan
oleh pemerintah.
“Jadi gajinya beda dengan broadcaster yang kerja di CNN. Entah lebih tinggi atau rendah,” kata Nadia sambil tertawa. “Meski orang Indonesia, saya tetap mendapat gaji dan tunjangan yang sama dengan warga asli Amerika”.
Buat
Nadia, banyak suka dan duka selama lebih dari 10 tahun bergabung di VoA. Cara
berproduksi di VoA misalnya. Produksi secara mandiri yang diterapkan,
membuat karyawannya bebas berkreativitas untuk membuat produksi
semenarik mungkin. Lebih dari itu, karena tim kecil, masing-masing
anggota tim saling mendukung satu sama lain.
Selain
itu, wanita kelahiran Jakarta, 26 Mei 1970 ini juga senang bisa
menjalin komunikasi antara warga Amerika dengan warga Indonesia yang
tinggal di Amerika. Khusus dengan warga Amrika, Nadia sering saat
menginterview, mereka menanyakan tentang Indonesia. Dengan begitu,
secara tidak langsung ia ikut menjadi diplomat untuk Indonesia dan
mempromosikan Indonesia.
“Mereka
menayakan macam-macam. Yang umum, mereka tanya tentang berapa jumlah
pulau di Indonesia. Banyak juga yang sudah tahu nama-nama mantan
Presiden, seperti Soekarno dan Soeharto”.
Ketika penulis tanya tentang fairness
dalam pemberitaan tentang Indonesia, Nadia mengatakan VoA sangat
objektif. Meski biasanya stasiun televisi pemerintah kerap memuji-muji
pemerintahannya dan mengecam negara-negara yang tidak sefaham dengan
Amerika, menurut pemilik gelar Master jurusan Cinema and Media Studies
dari University of Chicago ini, di VoA apapun negara tujuan produksinya,
semua harus menegakkan apa yang disebut sebagai ‘VoA Charter’ (Piagam
VoA). Piagam ini yang akan menggarisbawahi pentingnya fairness.
“Bahwa dalam setiap berita ada 2 sisi, VoA harus melaporkan kedua sisi tersebut,” ungkap putri tokoh pluralis Nurcholis Madjid ini. “Jadi
saya nggak pernah membuat berita yang bertentangan dengan suara hati,
karena yang kami laporkan adalah nyata dari kedua sisi isu”.
Yang
terpenting juga, tak ada intervensi dari pemilik stasiun televisi.
Meski yang ‘memiliki’ VoA adalah pemerintah atau negara, menurut Nadia
selama lebih dari 10 tahun berkarir tak kebijakan pemerintah yang mengintervesi
pemberitaan di VoA. Semua dilakukan dengan menggunakan cover both sides alias pemberitaan yang berimbang.
Kini,
rekruitment VoA tak seperti zaman Nadia. Saat ini jika merekrut
karyawan baru, VoA lebih mengutamakan mereka yang berlatar belakang
broadcast. Terlebih lagi, mereka yang sudah mampu menggunakan camera,
mengedit, dan menulis berita pasti akan menjadi nilai tambah.
Buat
Anda yang tertarik melamar di VoA, semua lowongan diumumkan lewat situs
resmi VoA dan situs milik pemerintahan Amerika. Sistem perekrutan
dilakukan secara fair dan terbuka. Alamat situs VoA sendiri adalah www.voaindonesia.com. Selain situs, pengumuman juga dilakukan melalui social media lain, yakni twitter @voaindonesia dan Facebook: VOA Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar