Minggu, 21 Februari 2016

Akankah Nasib Sinetron "Anak Jalanan" Seperti "YKS"?


Ext. Teras Sekolah. Pagi
(Boy hendak masuk ke kelas. Tiga gadis teman sekolah Boy mengepung Boy)

Gadis I:
Aduh Boy, kapan nih kita nge-date?

(Boy menghela nafas terlebih dahulu dan kemudian tersenyum)

Boy:
Ngantri mau?

Gadis II :
Yasudah kapan? Sabtu? Minggu?
Gadis III:
Iya bener Boy...

Boy:
Hmm...tahun depan ya...

(Boy meninggalkan ketiga gadis. Ketiga gadis itu kecewa. Belum juga Boy jauh meninggalkan ketiga gadis)

Gadis I:
Ya ampun, tuh cowok (Boy) keren banget! Gue mau deh jadi selingkuhannya...

Gadis III:
Nggak ada yang bisa lama sih pacaran sama Boy. Kemarin dia pacaran sama Sindhi. Hari ini dia ganti lagi. Gue yakin, besok pasti udah ganti lagi...

***

Dialog tersebut saya cuplik dari salah satu episode sinetron Anak Jalanan. Apakah saya fans sinetron ini? Bukan. Saya terpaksa melihat beberapa episode sinetron ini, lantaran anggota Dewan Pertimbangan Daerah (DPD) RI periode 2014-2019 Fahira Idris sempat di-"bully" oleh sejumlah penggemar +AnakJalanan - RCTI.
Pem-"bully"-an bermula dari pesan ini:
          
          "Mbak Fahira, tolong dicermati sinetron di RCTI 'Anak Jalanan' itu juga propaganda yang sangat tidak bagus terhadap anak-anak dan dunia pendidikan, dimana antara lain ada seorang istri dengan segala macam cara yang berusaha tetap menjadi pacar seorang anak sekolah..."

Fahira langsung menindaklanjuti dengan cara mengirim kicauan via Twitter ke KPI Pusat. Dalam kicauan tersebut, Fahira meminta tolong lembaga pemantau siaran tersebut agar mencermati sinetron yang diputar di RCTI itu.

           "Dear @KPI_Pusat tolong dicermati sinetron 'Anak Jalanan' di +Rcti Official - bila tidak mendidik, saya minta DITARIK."

Kicauan Fahira dengan kata DITARIK dengan huruf kapital tersebut menjadi pemicu sejumlah penggemar fanatik sinetron Anak Jalanan beraksi. Rata-rata mereka yang mem-"bully" kicauan Fahira adalah anak-anak ABG.

"@fahiraidris sebagai wakil rakyat tolong jangan hanya sepihak anda mewakili semua lapisan. Pro kontra selalu ada" - Akbar Bhakti

"Sebagai wakil rakyat +fahiraidris DPD @KPI_Pusat saya nggak setuju dengan ibu. Jangan hanya karena laporan hatters. Lihat dulu tayangannya baru komen." - Lilis Maya

"@fahiraidris ibu seorang wakil rakyat harusnya bisa meneliti lebih dulu, tonton dulu, koreksi dengan baik, jangan menilai suatu tayangan dengan menelan bulat-bulat. Jika Anda sebagai wanita tahu dan bisa ambil positif dan negatif.” – Asmi.

Namun, tidak semua mem-bully sang anggota DPD RI ini. Di timeline akun Twitter Fahira, tak sedikit pula yang membela. Ada setuju dengan kicauan Fahira, agar sinetron Anak Jalanan ditinjau ulang, tetapi ada pula yang minta dicabut penayangannya.

Ayo bu laporkan  semua sinetron nggak mutu ke uni @fahiraidris biar ditindak lanjuti” – Mas Doel.

Setuju uni. Generasi muda tonggak masa depan suatu bangsa. Bila generasi sudah rusak, bangsa tersebut akan mudah binasa.” - Fajaru.

Sinetron sampah itu @fahiraidris nggak mendidik bu..” –Elmael

Sesungguhnya protes Anak Jalanan bukan baru ini kali saja. KPI Pusat sendiri sudah pernah beberapa kali memberikan Surat Peringatan. Pertama terjadi pada 24 November 2015. Di surat bernomer 1726/K/KPI/11/15, KPI Pusat menegur, karena terdapat adegan kekerasan secara intents dan eksplisit. Selain itu, kerap menampilkan adegan balap motor liar yang berpotensi ditiru penonton, terutama remaja. Pada 11 Januari 2016, KPI Pusat juga sempat memberikan Surat Teguran kembali ke Anak Jalanan.

Bukan cuma KPI Pusat yang memantau beberapa pelanggaran Anak Jalanan, sebuah situs sempat mencatat sejumlah bukti sinetron Anak Jalanan yang dianggap tak layak tonton dan ditiru ini. Apa saja? Selain membenarkan balapan liar, menyelesaikan masalah dengan berkelahi atau balapan, dan juga mengkampanyekan pacaran itu wajar.

Jika Anda membaca kembali dialog pada pembukaan tulisan saya ini, pasti akan miris. Betapa tidak, sungguh murah sekali harga diri ketiga gadis yang menawarkan diri sebagai pacar Boy. Bahkan salah satu gadis tak masalah dijadikan selingkuhannya.  

Akankah nasib Anak Jalanan berakhir? Seharusnya jika memang meresahkan dan melanggar aturan P3 dan SPS, KPI bisa saja memberhentikan tayangan tersebut. Hal ini sebagaimana pernah terjadi dengan tayangan Yuk Keep Smile (YKS) di +TRANS TV . Ketika pengaduan penonton begitu banyak, lalu KPI Pusat sudah beberapa kali memberikan surat peringatan, dan ada seorang penonton petisi, YKS akhirnya berhenti tayang. Padahal saat itu YKS menjadi sumber uang Trans TV, begitu juga kini terjadi pada Anak Jalanan yang menjadi sumber uang bagi RCTI, mengingat rating-share-nya besar. Namun, demi tayangan berkualitas dan untuk menjadi anak dan remaja, KPI Pusat harus berani.    

Tidak ada komentar: