Begitu mendengar Bloomberg TV akan membuka “cabang” di tanah air,
sejumlah orang langsung meramalkan, stasiun televisi berita yang sudah
eksis akan “goyang”. Stasiun televisi berita yang dimaksud tak lain
adalah Metro TV dan tvOne yang masih jadi “pemain utama” di jalur
televisi berita. Diramalkan, dua stasiun berita ini bakal kehilangan
separuh penonton. Betapa tidak, Bloomberg TV sudah cukup tersohor di
negara asalnya.
Bloomberg TV menjadi satu-satunya televisi yang
menayangkan berita mengenai dunia ekonomi dan bisnis selama 24 jam.
Televisi ini didukung oleh jaringan internasional Bloomberg yang terdiri
dari 2.300 jurnalis profesional. Mereka tersebar di 146 biro dan 72
negara. Menurut data, jaringan televisi ini disiarkan ke lebih dari 330
juta rumah tangga di seluruh dunia. Luar biasa bukan?
Makin
heboh ramalannya, kondisi Metro TV dan tvOne bakal “goyang”. Bagai kapal
kehilangan nahkoda, begitu tersiar kabar, beberapa SDM di dua televisi
ini hijrah ke Bloomberg TV. Operasional redaksi bakal timpang.
Maklumlah, SDM yang hijrah ke Bloomberg TV kebanyakan senior, termasuk
dua newsanchor model Kania Sutisnawinata dan Tommy Tjokro.
Namun
ramalan tersebut tak terbukti. Metro TV dan tvOne ternyata masih tetap
eksis. Justru yang “goyang” dan dikabarkan akan bangkrut adalah
Bloomberg TV. Kabar secara resmi menginfokan terjadi PHK. Padahal, usia
televisi yang menyiarkan informasi bisnis 24 jam pertama di Indonesia
ini baru seumur jagung, yakni 2 tahun. Bloomberg TV tayang perdana 11
Juli 2013.
Apa yang menyebabkan Bloomberg TV “goyang”?
Jawabannya
"sederhana" dan Anda pasti bisa menerka. Apakah Anda bisa leluasa
melihat tayangan Bloomberg TV di pesawat televisi Anda di rumah?
Sebagian besar dari Anda pasti menjawab: tidak.
Yup! Bloomberg
TV bukan televisi teresterial sebagaimana Metro TV dan tvOne. Bloomberg
TV hanya bisa dinikmati oleh pelanggan First Media, tepatnya di kanal
nomer 13. Artinya, jika mau menonton Bloomberg TV harus berlangganan
terlebih dahulu alias tidak gratis. Beda dengan Metro TV dan tvOne yang
bisa Anda nikmati tayangannya tanpa bayar.
Sebetulnya, sebelum
Bloomberg TV dikabarkan bangkrut, ada televisi lain yang diam-diam juga
“sempoyongan”, yakni BeritaSatu. Seperti juga Bloomberg TV, kondisi yang
menyebabkan BeritaSatu “sempoyongan” adalah, tidak semua orang bisa
menyaksikan tayangan BeritaSatu. Penonton yang mau menyaksikan
BeritaSatu harus berlangganan First Media atau Telkom Vision.
Padahal
ketika sejumlah SDM dari Metro TV dan tvOne hijrah besar-besaran ke
BeritaSatu, lagi-lagi banyak yang meramalkan akan “goyang”. Penonton
boleh saja “terpecah-pecah”, tetapi sebagai stasiun teresterial yang
bersiaran nasional dan gratis, Metro TV dan tvOne tetap menang.
Kompas
TV sebetulnya juga sempat "sempoyongan". Memang, untuk menyaksikan
televisi milik Kompas-Gramedia ini bisa gratis. Namun, kategori
siarannya bukan teresterial seperti Metro TV dan tvOne, tetapi televisi
berjaringan. Sistem televisi berjaringan adalah, bekerjasama dengan
televisi-televisi lokal setempat, agar siaran si televisi berjaringan
ini ingin ditangkap secara nasional.
Beruntunglah +BeritaSatuTV dan +Kompas TV masih punya kekuatan dana besar dari holding company
mereka. BeritaSatu masih disokong oleh +Lippo Group, sementara dana
KompasTV sebagian besar dari +Kompas Gramedia. Oleh karena masih ada
bantuan besar, “nafas” BeritaSatu dan Kompas TV tidak kembang kempis
sebagaimana Bloomberg TV. Jadi, siapa menyusul +Bloomberg TV?
Belakangan,
kehadiran CNN Indonesia cukup menarik. Namun, kehadiran televisi milik
Chairul Tanjung ini sebetulnya mengulang kehadiran BeritaSatu, kala
BeritaSatu pertama kali hendak bersiaran pada 2011. Berlomba-lomba SDM +metrotvnews dan +TvOneNews resign dan hijrah ke BeritaSatu. Mereka
tergiur dengan posisi dan tentu saja gaji yang besar. Ketika +CNN Indonesia buka lowongan dan merekrut SDM, peristiwa yang sama terjadi.
Senior-senior broadcaster berlomba-lomba menuju ke Tendean, Jakarta
Selatan.
Namun, sebagaimana BeritaSatu, Anda tak bisa leluasa
melihat CNN Indonesia, jika tidak berlangganan televisi berlangganan
(pay tv). Anda harus berlangganan TransVision terlebih dahulu baru bisa
melihat wajah newsanchor tampan seperti Alfito Deanova, Indra Maulana, Prabu Revolusi, atau newsanchor cantik seperti Eva Julianti atau Elvira Khairunnisa.
Apakah
kehadiran CNN Indonesia bisa "memecah" penonton televisi berita? Pasti.
Sebelum ada CNN Indonesia pun penonton sudah "terpecah-pecah", terlebih
lagi ada pesaing baru iNews *cc +iNewsTV - Jaringan Daerah*. Tetapi apakah kehadiran CNN Indonesia akan
menggoyangkan dua stasiun televisi teresterial sebelumnya? Anda tahu
jawabannya. Yang pasti, “nasib” CNN Indonesia masih jauh lebih aman
dibanding Bloomberg TV. Ada +Trans Corp Channel, sang penyokong dana, yang sudah
lebih dulu mengibarkan Trans TV *+TRANS TV Official* dan +TRANS 7 di jagat pertelevisian
nasional.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar