Senin, 21 September 2015

PHK DI TELEVISI SWASTA

Suka tak suka ekonomi kita saat ini sedang melambat. Dari data yang penulis peroleh, perekonomian kita hanya tumbuh 4,7 persen di kuartal II pada 2015 ini. Tak heran, banyak investor yang menunggu dan melihat (wait and see) mengenai kondisi ekonomi. Sementara para pengusaha berusaha memutar otak agar perusahaan mereka tetap eksis. Saking ingin eksis, saat menjelang lebaran 2015 ini, di antara para pengusaha tersebut terpaksa melanggar aturan terkait pembayaraan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi pekerja. Setidaknya hal tersebut dikatan sendiri oleh Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.

Dari rincian pelanggaran, diketahui, ada perusahaan yang THR-nya tidak mencapai satu bulan gaji. Ada pula THR hanya diganti dalam bentuk benda atau makanan dan minuman.

Di dunia televisi, penulis tidak mendengar pelanggaran terkait THR. Namun tahukah Anda, dampak dari perekonomian Indonesia kini? Diam-diam ada televisi swasta yang mulai mengurangi karyawan (baca: PHK) sebelum dan sesudah Idul Fitri 2015 ini.

Berita soal PHK ini memang tak begitu terdengar santer. Tidak seperti ketika berita PHK di SCTV dan Indosiar pada 2013. Kala itu PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) akan bergabung alias merger dengan PT Indosiar Karya Media Tbk (IDKM). Silahkan baca tulisan Serikat Pekerja SCTV: http://www.kompasiana.com/spsctv/musim-phk-segera-tiba-di-sctv-indosiar_552c62f16ea83442058b457a). Kenapa tidak santer? Sebab, gelombang PHK di stasiun televisi pada 2015 ini tidak massal. Penulis tak ingin membocorkan lebih detail stasiun televisi mana yang sudah mengurangi jumlah karyawan. Yang pasti, di antara karyawan stasiun televisi ini, ada nama news anchor terkenal yang masuk ke dalam gelombang pengurangan pegawai.

Gelombang PHK besar di stasiun televisi bisa saja terjadi jika perekonomian makin buruk dan nilai dollar semakin tinggi. Betapa tidak, saat ini ada stasiun televisi yang masih berhutang dan nilainya tidak sedikit. Televisi ini berhutang dengan menggunakan dollar. Jadi, Anda bisa bayangkan, betapa berat televisi yang berhutang ini jika harus membayar kewajiban hutan dengan dollar, sementara pendapatannya dari iklan dengan nilai rupiah. Semakin berat jika keuangan televisi ini tidak perform atau pendapatannya per bulan tidak cukup membiayai operasional siaran. Jalan satu-satunya dan mau tak mau adalah dengan cara mengurangi karyawan. Ah, semoga saja tak terjadi.

Tidak ada komentar: