Suka tak suka ekonomi kita saat ini sedang melambat. Dari data yang
penulis peroleh, perekonomian kita hanya tumbuh 4,7 persen di kuartal II
pada 2015 ini. Tak heran, banyak investor yang menunggu dan melihat
(wait and see) mengenai kondisi ekonomi. Sementara para pengusaha
berusaha memutar otak agar perusahaan mereka tetap eksis. Saking ingin
eksis, saat menjelang lebaran 2015 ini, di antara para pengusaha
tersebut terpaksa melanggar aturan terkait pembayaraan Tunjangan Hari
Raya (THR) bagi pekerja. Setidaknya hal tersebut dikatan sendiri oleh
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri.
Dari rincian
pelanggaran, diketahui, ada perusahaan yang THR-nya tidak mencapai satu
bulan gaji. Ada pula THR hanya diganti dalam bentuk benda atau makanan
dan minuman.
Di dunia televisi, penulis tidak mendengar
pelanggaran terkait THR. Namun tahukah Anda, dampak dari perekonomian
Indonesia kini? Diam-diam ada televisi swasta yang mulai mengurangi
karyawan (baca: PHK) sebelum dan sesudah Idul Fitri 2015 ini.
Berita
soal PHK ini memang tak begitu terdengar santer. Tidak seperti ketika
berita PHK di SCTV dan Indosiar pada 2013. Kala itu PT Surya Citra Media
Tbk (SCMA) akan bergabung alias merger dengan PT Indosiar Karya Media
Tbk (IDKM). Silahkan baca tulisan Serikat Pekerja SCTV: http://www.kompasiana.com/spsctv/musim-phk-segera-tiba-di-sctv-indosiar_552c62f16ea83442058b457a).
Kenapa tidak santer? Sebab, gelombang PHK di stasiun televisi pada 2015
ini tidak massal. Penulis tak ingin membocorkan lebih detail stasiun
televisi mana yang sudah mengurangi jumlah karyawan. Yang pasti, di
antara karyawan stasiun televisi ini, ada nama news anchor terkenal yang
masuk ke dalam gelombang pengurangan pegawai.
Gelombang PHK
besar di stasiun televisi bisa saja terjadi jika perekonomian makin
buruk dan nilai dollar semakin tinggi. Betapa tidak, saat ini ada
stasiun televisi yang masih berhutang dan nilainya tidak sedikit.
Televisi ini berhutang dengan menggunakan dollar. Jadi, Anda bisa
bayangkan, betapa berat televisi yang berhutang ini jika harus membayar
kewajiban hutan dengan dollar, sementara pendapatannya dari iklan dengan
nilai rupiah. Semakin berat jika keuangan televisi ini tidak perform
atau pendapatannya per bulan tidak cukup membiayai operasional siaran.
Jalan satu-satunya dan mau tak mau adalah dengan cara mengurangi
karyawan. Ah, semoga saja tak terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar