Minggu, 15 November 2009

TWO THUMBS UP for NEWS tvOne

Malam Rabu (3/11) lalu nggak seperti biasa lobi kantor tvOne di Kawasan Industri Pulogadung penuh sesak. Bukan lantaran malam ini bulan purnama bersinar lebih terang dari biasanya. Tetapi pintu keluar-masuk yang seharusnya bisa lowong dilewati oleh para karyawan, kali ini dipalang oleh kerumunan banyak orang. Mayoritas orang yang ada di lobi tvOne adalah para Wartawan.

Malam itu untuk kesekian kali, tvOne berhasil membuat program eksklusif, yakni menghadirkan saksi kunci kasus penyuapan yang dilakukan PT Masaro Radiokom, yakni Anggodo Widjodo. Buat yang belum kenal, Anggodo nggak lain nggak bukan adalah adik buronan koruptor KPK, Anggoro Widjoyo.

Ketika di luar banyak kerumunan orang, Anggodo masih berada di ruang VIP di tvOne. Di lobi, Wartawan menunggu dengan sabar Anggodo keluar. Gue denger, di antara orang-orang, ada sejumlah anggota polisi yang siap menangkap Anggodo. Tapi hebringnya, tim News tvOne udah pasang strategi buat "melarikan" Anggodo agar nggak ditangkap atau menjadi "bulan-bulanan" Wartawan.



Menurut gue, drama reality yang terjadi di tvOne luar biasa. Nggak berlebihan kalo gue memberikan rasa salut gue pada tim News yang berhasil membuat berita ini menjadi sesuatu yang eksklusif. Kerja mereka luar biasa! Gue yakin, separuh dari penduduk Indonesia ini menyaksikan interview Rizky-Shinta dengan Anggodo di program “Kabar Petang” hari ini.

Lebih dari itu, gue acungkan jempol pada tim Teknik, yang berhasil membuat program live ini lancar tanpa hambatan. Two thumbs up! Kamera wireless yang mem-follow Anggodo dari studio News menuju ke ruang VIP yang jaraknya sekitar 100 meter itu mulus. Nggak ada blank spot atau gambarnya strobo. Congrats! Ini terlepas dari masalah teknologi yang barangkali udah digunakan beberapa televisi di Indonesia, apalagi di luar negeri. Tetapi gue ngeliatnya dari perpspektif preparing Tim Teknis yang cuma sebentar, nggak lebih dari 5 menit. Maklum, untuk mengoperasikan camera wireless butuh lokasi receiver yang bisa menangkap gambar supaya tetap fokus, indah, berseri.

Menurut gue, selain eksklusif, “Kabar Petang” berhasil menjadi media yang objektif. Kenapa? Karena memberikan counter atau hak bicara bagi Anggodo yang juga mewakili adiknya Anggoro serta seluruh keluarga, dimana sebelumnya sebelumnya dianggap sudah diadili oleh banyak orang. Cover both side, begitu istilah jurnalistik. Dalam kesempatan ini pula, Anggodo meminta maaf pada Presiden SBY.

Meski gue memuji habis-habisan kerja tim News dan tim Teknik, bukan berarti gue menelan ludah sendiri cong! Nggak mendukung gerakan yang mendukung Bibit dan Chandra dalam kasus ini. Buat gue, penangkapan dua orang itu tanpa alasan penangkapan yang jelas oleh Polri, tetap sebuah ke-absurd-an.

Congrats!

Tidak ada komentar: