Menginterpretasikan konsep yang diinginan Produser. Itulah tugas dan
tanggung jawab utama seorang Sutradara multikamera di televisi atau
lazim disebut Program Director (PD). Intepretasi dalam hal ini tentu
saja dilakukan, setelah Produser memberikan penjelasan (brieffing)
pada PD. Lalu PD menerjemahkan secara teknis video maupun audio,
sehingga tercipta kreasi program di layar televisi yang sesuasi dengan
konsep dan look on air yang diinginkan Produser maupun stasiun televisi bersangkutan.
“Singkatnya, PD jadi jembatan antara Produser dengan kru teknis,” ujar PD salah satu stasiun televisi swasta yang tak mau disebutkan namanya ini. Sebut saja Toto.
Kru
teknis yang dimaksud Toto antara lain Technical Director (TD), Camera
Person, Lightingman, maupun Audioman. Jadi, tanpa berhubungan langsung
ke kru-kru teknis tersebut, Produser ‘cukup’ memberikan penjelasan ke
PD. Ibaratnya, PD adalah ‘tangan kanan’ Produser pada saat eksekusi
konsep dalam tahapan produksi.
Namun, terkadang di
beberapa stasiun televisi, fungsi ‘tangan kanan’ atau ‘jembatan’ tidak
berjalan dengan baik. Produser masih harus kerja keras melakukan PDKT
pada kru, secara PD-nya tidak aktif atau PD tidak disukai oleh kru
teknik. Biasanya, hal itu terjadi, karena akumulasi pengalaman kru
dengan PD tersebut. Bisa jadi salah satunya sikap arogan PD.
Oleh
karena PD tidak direspek oleh kru, Produser terpaksa menjelaskan
keinginannya satu per satu ke kru teknik, baik ke Camera Person,
Lightingman, maupun Audioman. Ibaratnya, Produser mau tak mau harus door to door,
dari satu kru ke kru lain. Bahkan lucunya, seringkali kejadian,
Produser memanggil seluruh kru teknis buat syuting. Syuting sudah siap,
tetapi Camera Person, Audioman, dan Lighting masih merokok. PD yang
seharusnya menjadi ‘jembatan’ atau ‘tangan kanan’ Produser diam di
master control atau ruang kendali. Produser terpaksa meminta kru teknis
buat masuk ke studio agar syuting bisa dilakukan.
Lain
televisi, memang punya lain budaya. Sebagian stasiun televisi, sebelum
syuting, Produser mengumpulkan seluruh kru.Tak cuma kru teknis, tetapi
Production Assistance (PA), Kreatif, Talent, juga Floor Director (FD).
Di pertemuan pra-syuting ini, Produser menjelaskan konsep sekaligus alur
show yang akan disyuting. Setelah penjelasan Produser, giliran PD
menjelaskan secara blocking talent in-out-nya (keluar dan masuk panggung), teknis audio, komposisi gambar (shot), dan tentu saja pembagian tugas Camera Person. Tetapi, di beberapa televisi, budaya seperti ini tidak terjadi.
Menurut Toto, ada perbedaan mendasar PD produksi dan PD news.
PD news wajib hukumnya mengerti dalet. Sebab, ia akan pegang dalet.
Dalet yang dimaksud adalah alat yang berisi rundown. Biasanya, dalet
dipergunakan di stasiun televisi berita, karena di rundown tersebut
berisi paket-paket program berita yang akan ditayangkan. Paket-paket
berita itu tentu sudah diedit dan diambil langsung dari studio editing.
Penggunaan dalet ini sangat memudahkan, karena tanpa perlu keluar-masuk
kaset ke VTR alias tanpa perlu kaset (tapeless).
“Kalo PD news program yang dipegang relatif sama tiap hari. Rata-rata buletin dan mayoritas live,” papar Toto. “Oleh
karena live, maka tiap ada trouble, harus bisa cepat mengatasi. Yang
pasti, PD news rentang diintervensi oleh Produser maupun atasan Produser”.
Tentang
intervensi ini, buat Toto sudah menjadi makanan sehari-hari PD news.
Banyak pengalaman menyebalkan di ruang kendali yang pernah dirasakannya.
Pernah pegang sebuah program yang punya Produser banyak. Masing-masing
Produser punya keinginan. Produser A mengintervensi, begitu pula
Produser B dan C sesuai dengan keinginan mereka.
“Intervensi
yang dirasakan menyebalkan ketika elo yang in-charge (jadi PD), tetapi
elo seperti nggak ada di situ (di ruang kendali/ master control-pen),” kata Toto. “Semua
yang seharusnya lewat gue sebagai PD, tapi di-by pass begitu aja oleh
orang yang mengintervensi ini. Ia bisa seenaknya langsung ke switcher,
atau audioman, bahkan campers. Lalu buat apa dong ada PD di situ?”.
Pernah pula Toto punya pengalaman diberi tugas pegang program live event. Tetapi Produser live event tidak pernah menjelaskan konsep live event
tersebut seperti apa. Boro-boro menjelaskan, menguhubungi Toto buat
sekadar basa-basi pun tidak. Termasuk atasan si Produser pun tidak
menginfokan.
“Kebayang kan pas hari-H, antara gue dan PD jadi kayak orang bego sedunia, karena nggak pernah saling koordinasi,” ungkap Toto, yang sebelum memutuskan jadi PD berawal dari seorang Camera Person ini.
Pengalaman
menarik lain kala bekerjasama dengan kru-kru baru, dengan Camera Person
misalnya. Menurut Toto, mereka masih bego-bego. Ketika diperintah untuk
zoom out (menarik lensa agar sudut pandang jadi lebih luas-pen), si Camera Person malah panning (menggerakkan dari kanan-kiri, atau sebaliknya-pen).
“Sempat keluar sih kata-kata ‘bego loe’ di awal-awal. Tapi sekarang mereka sudah belajar dan jauh lebih baik”.
Dengan
Produser yang cuek bebek juga pernah dirasakan Toto di ruang kendali.
Suatu ketika ada live event dadakan, si Produser tidak memberikan info
atau penjelasan apa-apa. Tak heran Toto sering jutek dengan Produser
model cuek bebek. Namun, agar menjaga supaya tidak ada trouble dan
miskom, ‘terpaksa’ ia berinisiatif duluan buat bertanya rundown dan alur
yang diinginkan setail pada Produser sebelum on air.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar