Kamis, 26 November 2009

Program Director dan Intervensi di Ruang Kendali

Menginterpretasikan konsep yang diinginan Produser. Itulah tugas dan tanggung jawab utama seorang Sutradara multikamera di televisi atau lazim disebut Program Director (PD). Intepretasi dalam hal ini tentu saja dilakukan, setelah Produser memberikan penjelasan (brieffing) pada PD. Lalu PD menerjemahkan secara teknis video maupun audio, sehingga tercipta kreasi program di layar televisi yang sesuasi dengan konsep dan look on air yang diinginkan Produser maupun stasiun televisi bersangkutan.

Singkatnya, PD jadi jembatan antara Produser dengan kru teknis,” ujar PD salah satu stasiun televisi swasta yang tak mau disebutkan namanya ini. Sebut saja Toto.

Kru teknis yang dimaksud Toto antara lain Technical Director (TD), Camera Person, Lightingman, maupun Audioman. Jadi, tanpa berhubungan langsung ke kru-kru teknis tersebut, Produser ‘cukup’ memberikan penjelasan ke PD. Ibaratnya, PD adalah ‘tangan kanan’ Produser pada saat eksekusi konsep dalam tahapan produksi.

Namun, terkadang di beberapa stasiun televisi, fungsi ‘tangan kanan’ atau ‘jembatan’ tidak berjalan dengan baik. Produser masih harus kerja keras melakukan PDKT pada kru, secara PD-nya tidak aktif atau PD tidak disukai oleh kru teknik. Biasanya, hal itu terjadi, karena akumulasi pengalaman kru dengan PD tersebut. Bisa jadi salah satunya sikap arogan PD.

Oleh karena PD tidak direspek oleh kru, Produser terpaksa menjelaskan keinginannya satu per satu ke kru teknik, baik ke Camera Person, Lightingman, maupun Audioman. Ibaratnya, Produser mau tak mau harus door to door, dari satu kru ke kru lain. Bahkan lucunya, seringkali kejadian, Produser memanggil seluruh kru teknis buat syuting. Syuting sudah siap, tetapi Camera Person, Audioman, dan Lighting masih merokok. PD yang seharusnya menjadi ‘jembatan’ atau ‘tangan kanan’ Produser diam di master control atau ruang kendali. Produser terpaksa meminta kru teknis buat masuk ke studio agar syuting bisa dilakukan.

Lain televisi, memang punya lain budaya. Sebagian stasiun televisi, sebelum syuting, Produser mengumpulkan seluruh kru.Tak cuma kru teknis, tetapi Production Assistance (PA), Kreatif, Talent, juga Floor Director (FD). Di pertemuan pra-syuting ini, Produser menjelaskan konsep sekaligus alur show yang akan disyuting. Setelah penjelasan Produser, giliran PD menjelaskan secara blocking talent in-out-nya (keluar dan masuk panggung), teknis audio, komposisi gambar (shot), dan tentu saja pembagian tugas Camera Person. Tetapi, di beberapa televisi, budaya seperti ini tidak terjadi.

Menurut Toto, ada perbedaan mendasar PD produksi dan PD news. PD news wajib hukumnya mengerti dalet. Sebab, ia akan pegang dalet. Dalet yang dimaksud adalah alat yang berisi rundown. Biasanya, dalet dipergunakan di stasiun televisi berita, karena di rundown tersebut berisi paket-paket program berita yang akan ditayangkan. Paket-paket berita itu tentu sudah diedit dan diambil langsung dari studio editing. Penggunaan dalet ini sangat memudahkan, karena tanpa perlu keluar-masuk kaset ke VTR alias tanpa perlu kaset (tapeless).

Kalo PD news program yang dipegang relatif sama tiap hari. Rata-rata buletin dan mayoritas live,” papar Toto. “Oleh karena live, maka tiap ada trouble, harus bisa cepat mengatasi. Yang pasti, PD news rentang diintervensi oleh Produser maupun atasan Produser”.

Tentang intervensi ini, buat Toto sudah menjadi makanan sehari-hari PD news. Banyak pengalaman menyebalkan di ruang kendali yang pernah dirasakannya. Pernah pegang sebuah program yang punya Produser banyak. Masing-masing Produser punya keinginan. Produser A mengintervensi, begitu pula Produser B dan C sesuai dengan keinginan mereka.

Intervensi yang dirasakan menyebalkan ketika elo yang in-charge (jadi PD), tetapi elo seperti nggak ada di situ (di ruang kendali/ master control-pen),” kata Toto. “Semua yang seharusnya lewat gue sebagai PD, tapi di-by pass begitu aja oleh orang yang mengintervensi ini. Ia bisa seenaknya langsung ke switcher, atau audioman, bahkan campers. Lalu buat apa dong ada PD di situ?”.

Pernah pula Toto punya pengalaman diberi tugas pegang program live event. Tetapi Produser live event tidak pernah menjelaskan konsep live event tersebut seperti apa. Boro-boro menjelaskan, menguhubungi Toto buat sekadar basa-basi pun tidak. Termasuk atasan si Produser pun tidak menginfokan.

Kebayang kan pas hari-H, antara gue dan PD jadi kayak orang bego sedunia, karena nggak pernah saling koordinasi,” ungkap Toto, yang sebelum memutuskan jadi PD berawal dari seorang Camera Person ini.

Pengalaman menarik lain kala bekerjasama dengan kru-kru baru, dengan Camera Person misalnya. Menurut Toto, mereka masih bego-bego. Ketika diperintah untuk zoom out (menarik lensa agar sudut pandang jadi lebih luas-pen), si Camera Person malah panning (menggerakkan dari kanan-kiri, atau sebaliknya-pen).

Sempat keluar sih kata-kata ‘bego loe’ di awal-awal. Tapi sekarang mereka sudah belajar dan jauh lebih baik”.

Dengan Produser yang cuek bebek juga pernah dirasakan Toto di ruang kendali. Suatu ketika ada live event dadakan, si Produser tidak memberikan info atau penjelasan apa-apa. Tak heran Toto sering jutek dengan Produser model cuek bebek. Namun, agar menjaga supaya tidak ada trouble dan miskom, ‘terpaksa’ ia berinisiatif duluan buat bertanya rundown dan alur yang diinginkan setail pada Produser sebelum on air.

Tidak ada komentar: