Ketika stasiun televisi swasta masih sedikit, ada 3 stasiun televisi
swasta yang dianggap oleh banyak praktisi televisi sebagai ‘sekolah
broadcast’ in-house. Pasalnya, lulusan-lulusannya berhasil
mewarnai,bahkan memberikan kesuksesan beberapa stasiun televisi swasta
selanjutnya. Ketiga stasiun televisi swasta yang dimaksud adalah
Indosiar, SCTV, dan ANTV.
Banyak lulusan Indosiar
yang telah menyebarkan ke sejumlah stasiun televisi dan sangat
menonjol, terutama di bidang produksi hiburan. Salah seorang lulusan
terbaik Indosiar adalah Wishnutama. Setelah berguru di Indosiar selama
beberapa tahun dan ditarik oleh Chairul Tanjung (CT), Trans TV langsung
berjaya. Bahkan popularitas Ishadi SK yang sebelumnya dianggap sebagai
‘Bapak Pertelevisian Indonesia’ kalah dibanding Wishnutama alias Tama.
Keberhasilan
Tama menjadikan Trans TV sebagai stasiun televisi swasta baru pada
2000-an, sempat membuat ketar-ketir RCTI, SCTV, ANTV, maupun TPI yang
memang berada di jalur televisi hiburan. Keberhasilan itulah yang
membuat CT kemudian memberikan challange lain ke Tama buat
mengembangkan Trans 7 paska pembelian sekaligus pergantian nama dari TV
7. Lagi-lagi lulusan Indosiar ini berhasil membuat profit Trans 7.
Sementara
SCTV dikenal sebagai penghasil lulusan Jurnalis televisi terbaik.
Jurnalis-Jurnalis televisi hasil gemblengan di program berita Liputan 6,
tersebar di berbagai stasiun televisi swasta. Salah seorang lulusan
SCTV adalah Karni Ilyas. Meski sebelumnya sudah dikenal sebagai wartawan
senior, tetapi karirnya di televisi pertama kali dijalankan di SCTV.
Lulus SCTV, Karni ditarik ke ANTV, dan sampai kini di tvOne.
Selain
mencetak Jurnalis handal, SCTV juga mencetak programming-programming
handal. Salah seorang programing lulusan SCTV adalah Harsiwi Achmad.
Perempuan kelahiran Karanganyar, 29 Agustus 1966 ini berhasil membuat
keren program-program SCTV pada 1996. Setelah sempat kerja di TPI dan
RCTI, pada April 2013 lalu, Siwi kembali 'dibajak' ke SCTV dan Indosiar.
Saat di TPI (2004-2005), Siwi membawa TPI menjadi stasiun televisi nomor satu dengan share penonton sekitar 15,3 persen. Rahasia Ilahi adalah sinetron berkonsep religi hasil gagasannya, yang kelak menjadi cikal bakal sinetron religi. Gara-gara Rahasia Ilahi, kini hampir semua stasiun televisi -kecuali stasiun televisi berita, meniru konsep sinetron religi.
Terakhir,
lulusan dari ANTV adalah khusus di desk sport dan kru teknik. Nama-nama
Monica Desideria (dahulu ngetop dengan program Lensa Olahraga)
atau Boy Noya (kini di Metro TV) tentu masih melekat di benak penonton
televisi. Saking serius di urusan olahraga, kru sport ANTV pernah
dilatih oleh kru televisi Perancis. Meski sampai kini coba
mempertahankan citra sebagai televisi olahraga, tetapi kini urusan
sport, ANTV kalah jauh dibandingkan RCTI.
Dalam lima tahun
ini, stasiun televisi yang dianggap sekolah broadcast adalah Trans TV.
Lulusan Trans TV tersebar di hampir semua stasiun televisi swasta. Tak
cuma tenaga kreatif, Produser, maupun Presenter yang saat ini muncul di
televisi kebanyakan lulusan Trans TV. Tina Talisa (Indosiar, sebelumnya
tvOne) dan Prabu Revolusi (Metro TV), misalnya. Mereka adalah lulusan
Trans TV.
Mengapa Trans TV dianggap ‘sekolah
broadcast’? Sebab, Trans TV punya program, dimana dibuatkan kurikulum
layaknya sekolah. Para lulusan baru dari berbagai kampus, tak selalu
jurusan broadcast, digembleng setelah menandatangani kontrak sebagai
karyawan Trans TV. Mereka digembleng berdasarkan Batch. Memang, sebelum
Trans TV punya ‘sekolah broadcast’, Indosiar sempat membuat ‘sekolah
broadcast’ bekerjasama dengan Universitas Indonesia (UI). Namun,
‘sekolah broadcast’ Indosiar ini seperti layaknya kampus biasasetara D3.
Keberhasilan Trans TV membuat ‘sekolah broadcast’
in-house, belakangan banyak ditiru oleh sejumlah stasiun televisi. Tiga
televisi yang meniru antara lain tvOne, RCTI, dan Metro TV. Di tvOne
program yang dilakukan bernama Journalist Development Program (JDP). Program ini merekrut lulusan baru bergelar S1 yang dididik menjadi Jurnalis handal yang siap meroket di tvOne.
RCTI membuat Broadcast Development Program
(BDP). Program ini mencari lulusan baru yang akan dicetak menjadi Set
Designer, Graphic Designer, Cameraman, Audioman, Lightingman, maupun
Control Room Operator. Meski program ini untuk mencetak lulusan di
berbagai profesi, namun persyaratan BDP adalah lulusan S1 dari berbagai
jurusan alias tidak harus dari jurusan broadcast. Yang penting punya
ketertarikan terhadap bidang penyiaran.
Sementara Metro TV punya program Production Development Program (PDP), Cameraman Development Program (CAMDP), dan Technic Development Program
(TDP). PDP adalah ‘sekolah broadcast’ khusus buat lulusan baru yang
bakal bergabung di news dan production (newstainment). Namun, kriteria
buat masuk PDP harus lulusan broadcast. Selain itu score TOEFL-nya
minimal 475. Lulusan PDP kelak akan menjadi Scriptwriter, Program
Director (PD), dan beberapa jabatan lain.
Lalu
CAMDP sesuai namanya akan dididik menjadi News Camera Person atau
Campers di bagian pemberitaan. Oleh karena bakal lulus sebagai Campers,
jadi kriterianya berhubungan dengan fisik, yakni kudu punya tinggi
minimal 170 cm, tidak menggunakan kacamata, dan siap bekerja ekstra
panjang. Maklumlah, berita bisa terjadi kapan saja tanpa mengenal waktu.
Sehingga, kelak Campers lulusan CAMDP ini siap kapan dan dimana pun
ditugaskan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar