Paruh 1976. Di depan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),
Presiden kedua Republik Indonesia (alm.) Soeharto mengumumkan,
pemerintah telah memberikan 608 televisi gratis. Televisi ini
ditempatkan di lokasi umum yang bisa dilihat seluruh warga di beberapa
kecamatan di Sembilan provinsi. Rencananya, sampai akhir 1976,
pemerintah akan menyebarkan 3.000 pesawat televisi lagi.
“Karena
pembangunan berorientasi kepada kepentingan rakyat banyak, maka usaha
penerangan diarahkan kepada menggairahkan rakyat yang tinggal di
pedesaan yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat Indonesia,” kata Soaharto, sebagaimana penulis kutip dari majalah Historia 10 Tahun I, 2013 hal 25.
Sesungguhnya,
televisi gratis pemberian Soeharto ini bertujuan lebih kepada
pertimbangan politis, terkait persatuan nasional dan keamanan. Adalah
Astrid Susanto, ahli komunikasi yang pada 1974 menjadi penasehat
Bappenas, melaporkan ke Menteri Negara Bidang EKUIN merangkap Ketua
Bappenas Widjojo Nitisastro, agar mendistribusikan televisi ke warga
segera. Sebab, kala itu, selain orang kaya sekali, tak ada warga yang
mampu membeli televisi.
Televisi dianggap sangat powerfull
untuk menyebarkan kebijakan politik, termasuk pencitraan pemerintah.
Jauh sebelum Soeharto menyetujui usulan Bappenas untuk menyebarkan
televisi gratis, Maladi juga pernah mengusulkan ke Presiden RI pertama,
Ir. Soekarno.
Kala itu, Maladi adalah
seorang kiper PSSI dan juga penyiar RRI. Menjelang Pemilu 1955, ia usul
ke Soekarno untuk membuat stasiun televisi dan memproduksi televisi.
Awalnya, Soekarno menolak, karena dianggap terlalu mahal. Ketika
diangkat menjadi Menteri Penerangan pada 1959, Maladi kembali
menyakinkan Soekarno tentang ‘kehebatan’ televisi dalam meyebarluaskan
kebijakan politik dan pencitraan.
Soekarno
akhirnya luluh. Argumen Maladi memang cukup meyakinkan, yakni momentum
Asian Games, pentas olahraga terbesar se-Asia, digelar di Jakarta pada
1962. Perhelatan tersebut harus dilihat oleh jutaan pasang mata, tak
cuma di Asia, tetapi di seluruh dunia. Agar jutaan orang tahu tentang
Indonesia. Selanjutnya, dari sinilah cikal bakal kelahiran TVRI.
Pembelian
pesawat televisi akhirnya meningkat pada 1976. Terlebih lagi ketika
Presiden Soeharto menggalakkan program TV Masuk Desa pada 16 Agustus
1976. Saking ingin menggalakkan seluruh warga Indonesia gemar menonton
televisi, pemerintah sengaja menyediakan generator bagi desa yang belum
teraliri listrik. Bappenas mencatat, pada 1976/1977 sudah 3.000 pesawat
televisi umum tersebar di kecamatan-kecamatan seluruh tanah air.
Jumlah
pesawat televisi terus naik. Pada 1987/ 1988, jumlah pesawat televisi
umum mencapai 54.318 unit. Astrid Susanto senang, idenya menyebarkan
televisi gratis diterima Soeharto dan hampir seluruh warga Indonesia
menikmati televisi.
Dulu, warga
‘dipaksa’ nonton televisi. Melalui TVRI, pemerintah menyebarkan kampanye
persatuan, kebangsaan, politik pencitraan. Kini, banyak orangtua yang
‘memaksa’ anak-anak mereka menjauh dari televisi. Sebab, stasiun
televisi tidak lagi cuma TVRI. Stasiun-stasiun televisi ini lebih banyak
menawarkan ‘racun’ ketimbang madu. Meski begitu, sampai kini, televisi
tetap powerfull sebagai media yang mengkampanyekan pencitraan dan partai politik pemilik stasiun televisi tersebut.
1 komentar:
mas, sebagai warga negara indonesia. saya suka budi pekerti mas di blog ini. saya kagum karena terus terang mas dinterview menjawab dengan jujur. justru kejujuran adalah suatu hal yang sangat dihargai, daripada bicara sok suci kelakuan lebih kejam dari iblis. saya mengakui bangsa ini adalah bangsa cinta damai, dan islam adalah agama yang suci. yang merusak nama suatu agama adalah sebagian besar karena ulah penganutnya sendiri, yang saya tahu semua agama ajarannya penuh dengan cinta kasih dan rahmat.
saya sebagai umat lain sangat cinta bangsa indonesia jadi tidak pernah melihat dari agama apa yang mereka anut, asal tidak apriori atau menuduh umat lain kafir karena kita sama sama ciptaannya.
saya punya banyak teman muslim mereka pada baik2 semua, dan nggak pernah bilang bahwa bunuh diri atau membunuh orang masuk sorga. sungguh suatu perbuatan memalukan bagi bangsa ini. kok bangsa ini mau diajak negbom daerah sendiri demi sorga oleh para kafir malaysia noordin m top, yang nggak tentu juntrungannya ( apa benar masuk sorga atau tidak) yang jelas ini ajaran sesat.
salam mas dari umat muslim pulau dewata. muslim cinta damai
Posting Komentar